REFLEKSI DIRI DARI “DOA DAN HARAPAN LEBIH BAIK DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN DI 2019”

Banjarmasin-Dutatv. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi

Memberi makna tahun baru

Jadilah AKU yang baru

Belajar dari kepompong

Tak lelah harap menjelma menjadi kupu kupu

Bertekad mengukir mimpi gemilang

Agar diri lebih baik lagi

Memberi solusi bukan menjadi permasalahan itu sendiri.

( Petir Pudjantoro : Malang 01.01.19 :09.19)

Sahabat ! Satu bait puisi Mas Petir sahabat Mawadan 87 saya tersebut dapat mewakili semua broadcast dan ucapan ke WA saya di tahun baru 2019 ini, semua berdoa dan berharap kehidupan yang lebih baik, semuanya membangun optimisme, semuanya bersemangat dan menyatakan harapan baru yang intinya hidup lebih baik dari sebelumnya.

Dari sinilah kemuadian saya merenung bagaimana hidup dan atau kehidupan yang lebih baik tersebut dan apa tolak ukurnya?

Sahabat ! kita tentunya punya tafsir masing-masing tentang hidup dan kehidupan yang lebih baik tersebut, yang secara relatif tergantung pada diri kita masing-masing dan akan sangat sukar mengeneralisir, tapi nanti saya coba mencari “benang merahnya” dari relativitas diri kita masing-masing tersebut. Secara sederhana hidup dan kehidupan yang lebih baik itu bisa diukur secara kuantitatif (bisa diukur secara hitung-hitungan, dengan parameter order of fact) dan bisa juga diukur secara kualitatif (ukurannya tidak bisa dihitung dengan angka tetapi didapatkan dari proses berfikir order of logic). Kalau lebih baiknya hidup dan kehidupan yang lebih baik itu diukur secara kuantitatif, seperti ekonomi umpamanya, maka tolak ukur peningkatannya adalah kenaikan jumlah dari apa yang sudah diperoleh di tahun 2018, tentu kenaikan ini bisa dihitung prosentasinya, seperti naiknya pendapatan, bertambahnya kendaraan, bertambahnya rumah dan aset aset lainnya. Tetapi kalau lebih baiknya hidup dan kehidupan itu di ukur secara kualitatif, maka yang jadi ukurannya adalah seperti kedamaian, ketenangan, kesehatan, keharmonisan, kebahagiaan dan sebagainya, dari kondisi yang terjadi dan dialaminya pada tahun 2018 ini.

Sahabat ! kelebih baikan (peningkatan) hidup dan kehidupan secara kuantitatif terkadang tidak selalu pararel (bersamaan) dengan peningkatan hidup dan kehidupan secara kualitatif, banyak fakta menunjukan kepada kita seseorang yang meningkat ekonominya, ternyata tidak membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya, atau bahkan bisa terjadi sebaliknya justeru kehidupan mental dan spritualnya menjadi kacau. Tentu kondisi yang paling ideal adalah pararel peningkatan keduanya (kuantitatif dan kualitatif) dalam hidup dan kehidupan. Terdapat titik-titik relativisme kedua peningkatan ini menarik untuk kita bahas dalam konsep yang kita sebut KEBERKAHAN, dalam keberkahan tidak lagi merujuk kepada peningkatan kuantitas, tetapi menunjuk kepada ‘kemanfaatan’ terhadap suatu objek yang kita dapatkan yang sekaligus dirasakan adalah cukup dan berkelimpahan dalam balutan respon terhadap kuantitas itu secara kualitatif. Konsep keberkahan inilah menurut saya yang menjadi dambaan kita dalam setiap doa dan harapan kita di tahun 2019 ini, karena banyak belum tentu cukup, tergantung sikap atau respon kita terhadap objek yang kita dapatkan tersebut, dan keberkahan inilah yang akan menjadikan hidup dan kehidupan kita lebih baik, untuk inilah orang tua saya selalu mengingatkan agar berdoa dan berikhtiar menjadi padanan yang sama antara bersyukur dan bersabar untuk menggapai keikhlasan dalam dalam menjalani hidup dan kehidupan dari tahun ke tahun.

Sahabat ! tepatlah sabahat saya Mas Petir (biasa saya menyebutnya) mengatakan bahwa bertekad mengukir mimpi gemilang, agar diri lebih baik lagi.

Semoga sahabat semua dapat meraih keberkahan hidup dan kehidupan di tahun 2019 ini. Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Dr. Syaifudin SH. MH.


Dewan Redaksi Duta TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *