Budaya Infotainment Inspirasi internasional

ANTARA BANJARMASIN DAN LONDON

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, di “week end” kali ini saya mendapatkan “surprise” karena kedatangan tamu cantik di warung saya yang biasa saya panggil Nanda Yuli. Kenapa surprise bagi saya ? disamping lama tidak ketemu secara langsung dan hanya komunikasi lewat media sosial, tetapi juga ceritanya mengispirasi saya untuk menulisnya (atas ijin yang bersangkutan) bermula dari sedikit orang banua yang kawin dengan orang UK (unted Kingdom) dan tinggal di London, walapun dari sisi “percintaan” saya juga sudah pernah menulis cerita Roxana dan Indra dari pasangan berbeda benua dan negara ini.  Kali ini agak berbeda ceritanya, karena Roxana tinggal di Banjarmasin, sedangkan Nanda Yuli tinggal di London yang keduanya sesungguhnya seperti “garam di laut, asam di gunung yang bertemu dalam periuk” atau seperti bahasa populer dalam sebuah sinitron Telivisi Nasional “cinta telah menemukan jalannya”, sehingga terdapat sisi sisi kehidupan yang unik hidup di London dengan budaya yang berbeda dalam suatu rumah tangga.

Sahabat ! Antara Banjarmasin dan London kalau beranjak dari metode “Perbandingan”, maka “perbandingan” itu akan melahirkan aspek-aspek perbedaan dan persamaan, dan kalau itu dilihat dari sisi budaya (culture), tidak saja sampai adanya perbedaan dan persamaan budaya, akan tetapi harus sampai kepada pertanyaan “MENGAPA ITU JADI SAMA DAN BERBEDA “, oleh karena itulah untuk menjawab mengapa ada persamaan dan mengapa ada perbedaan memerlukan kajian empirik (pengalaman) secara langsung tinggal dan bergaul di dua kota yang saya sebutkan di atas, yang dalam bahasa penelitian disebut “cara pengambilan data secara “observasi partisipatif”.

Sahabat ! Kita bisa membayangkan bagaimana kalau kita kawin dan hidup bersama di tengah-tengah keluarga besar yang berbeda “budaya” tersebut, jangankan tinggal dan hidup berumah tangga di London, yang tinggal dan hidup berumah tangga di banua sendiri atau berbeda suku atau pulau saja bisa menimbulkan ketegangan budaya (culture shock) karena aturan-aturan atau norma-norma yang berbeda disetiap keluarga besar dan daerahnya tersebut. “Cukup lama menyesuaikannya kata Yuli dan bahkan sampai sekarang berusaha terus menyesuaikannya”.

Sahabat ! London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya yang merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya, hukum dan adat istiadatnya sangat kental dikenal termasuk kelompok sistem hukum Anglo Saxon (Saxon adalah salah bangsa atau suku di Inggris) yang sumber hukumnya bersumber dari “kebiasaan”, oleh karena itu “agak mirip” dengan “hukum adat di negara kita”, hal inilah yang dirasakan Yuli bagaimana tata krama makan bersama keluarga seperti cara duduk dan memberi perhatian atau bahkan diam pada saat makan bersama tersebut, tidak diperkenankan sambil “main HP” saat makan tersebut, campur tangan keluarga besar di rumah tangga termasuk pengawasan aktivitas di media sosial, namun disisi lain kepeduliannya terhadap keluarga besar itu juga tidak pararel dengan kepedulian sosialnya terhadap masyarakat lingkungan diluar keluarga besarnya (individualis) dan lain-lain yang tidak cukup kolom kalau saya ceritakan semua dikesempatan ini.

Sahabat ! adat istiadat dan kebiasaan itu berbeda dengan adat dan kebiasaan kita dalam masyarakat Banjarmasin yang tata nilainya juga banyak dipengaruhi oleh nilai nilai  kebebasan personal, walaupun juga kental dengan tradisi masing-masing keluarga Banjar yang dikembangkan dari tradisi dan papadah bahari (nasihat nasihat orang tua dahulu) dari kehidupan masyarakat Melayu. Disamping itu paada masyarakat kita  melekat kekeluargaan dalam hubungan darah, dan melekat pula hubungan sosialnya, sehingga sering disebut dengan prinsip “mono dualistis” atau dalam bahasa sederhana kita sebut sebagai makhluk individu dan juga sosial (individualis sosialis). Dan kitapun sebenarnya juga mengenal tata krama dalam pergaulan, namun tata krama itu dikembangkan secara dinamis oleh setiap keluarga dalam masyarakat kita, walaupun demikian prinsip-prinsip kesopanan dan akhlak mulia menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat kita.

Sahabat ! menyadari adanya perbedaan budaya pada setiap masyarakat, maka kita harus beradaptasi agar “selamat” dalam pergaulan, dan kitapun selalu dituntut untuk beradaptasi pada setiap masyarakat yang kita kunjungi atau tinggal di daerah tersebut, kata papadah bahari (orang tua kita dahulu) DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG. Terimakasih Nanda Yuli telah datang ke Warung Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, Doa Ayahnda selalu dan Salam buat Neil Wither dan Insyaallah sampai jumpa di London.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *