KECANTIKAN PEREMPUAN SETENGAH ABAD ?

Dutatv.com-Banjarmasin. Tulisan ini bermula dari oboran saya dengan rekan kerja Diana Rosianti tentang banyak hal yang bisa dibicarakan atau diungkapkan oleh perempuan yang sudah memasuki usia limapuluhtahunan atau yang saya sebut “perempuan setengah abad”, yaitu tentang kehidupannya, baik itu yang berasal dari cerita perempuan itu sendiri atau cerita dari pandangan orang lain terhadapnya.

Dari sini tesa tentang suka ngobrolnya perempuan yang lebih emosional (perasan) terhadap responnya pada kehidupan ini bisa dikualifikasi melebihi ngobrolnya seorang lelaki yang cenderung lebih rasional, dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi maka obrolan tersebut tidak saja bisa diamati dalam dunia nyata, akan tetapi juga dalam media social.  Pertanyaannya silahkan di jawab oleh anda sendiri, berapa lama satu harinya seorang perempuan menghabiskan waktunya bercengkrama di media social tersebut.

Dari sekian banyak tema yang dapat  diceritakan saat menyebutkan perjalanan usia wanita yang sudah setengah abad ini, kali ini saya menyoroti sebuah tema tentang bagaimana seorang perempuan setengah abad ini dalam  mempertahankan, memelihara atau bahkan meningkatkan “kecantikannya”. Kecantikan yang saya maksudkan berdifat dua dimensi, yang pertama terkait dengan kecantikan fisik dan yang kedua adalah kecantikan pribadi atau rohani.

Bagaimana kegiatan perempuan dalam memelihara wajah dan tubuhnya adalah bentuk kegiatan yang paling menonjol yang mereka lakukan, artinya tampil tetap menarik, dengan kulit bersih, terlihat awet muda dan terlihat cantik dan seterusnya menempati urutan utama yang mereka lakukan dan perbincangkan dalam mengisi hari hari kehidupannya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau industri kecantikan muncul dengan berbagai teknologi dari yang tradisional sampai kepada yang modern, dari perawatan biasa sampai kepada operasi platik yang popular disebut “body dan wajah oplasan”.

Indikasi maraknya aktivitas yang mewarnai dunia kecantikan fisik terlihat jelas dalam akun-akun media social perempuan setengah abad ini, foto-foto dan video-video yang terpampang terlihat sangat “ekspresif” dibalut dengan mode-mode pakaian kekinian dan diolah dengan teknologi fotograpi serta aplikasi yang menyempurnaan definisi “cantik” nya sosok perempuan “idaman”.

Selanjutnya ada semacam titik balik pada saat terus sibuk mempercantik fisik ini, karena ketidakpuasan selalu saja ada ditemukan saat bercermin, disamping factor relative munculnya sosok cantik perempuan yang lebih muda yang lebih cantik serta bertambahnya factor usia yang tidak dapat mereka hindari yang menggerus secara alami kecantikannya yang dimilikinya.  Saat inilah muncul kesadaran bergesernya urusan kehidupan pada kecantikan yang bersifat kepribadian dan kerohanian.

Kecantikan kepribadian dan kerohanian ini pada dasarnya berjalan pararel dengan pertambahan usia perempuan, artinya semakin bertambahnya usia justeru kecantikannya semakin terlihat, karena orientasi kehidupan yang sudah bergeser dari sisi fisik kepada yang bersifat non fisik. Pola hidup yang bijak, penghargaan dan kepedulian pada sesama, lebih banyak waktu untuk keluarga, memasak dengan penuh cinta, memperbaiki cara dan kualitas ibadah, menempatkan pertimbangan kebermamfaatan bagi sesame, memahami cara pandang yang lebih luas dan mengurangi sikap egois, sudah bisa menghargai perbedaan pendapat dalam segala urusan , menyikapi hidup dalam keberpasrahan dan seterusnya.

Indikator berkembangnya kecantikan kepribadian dan kerohanian ini terlihat jelas dari munculnya kelompok atau group “pengajian” untuk memperdalam ilmu-ilmu agama dan group-group  yang kegiatannya bersifat filantropi, baik itu berada di dalam dunia virtual dan media social, maupun dalam aksi nyata pada kehidupan masyarakat.

Menilik pada dua kecantikan di atas itulah sesungguhnya perempuan setengah abad dapat dikelompokan pada tiga golongan, yaitu (1) kelompok perempuan yang cantik secara fisik saja, sehingga kegiatannya masih berada di area ini, (2) kelompok wanita yang cantik kepribadian dan kerohanian saja, sehingga sudah meninggalkan kegiatan kecantikan fisiknya, dan (3) kelompok yang masih merawat kecantikannya tetapi sekaligus mempercantik kepribadian dan rohaninya.

Menurut saya yang sangat ideal adalah sosok perempuan setengah abad adalah perempuan yang mengkombinasikan kecantikan fisik dengan kecantikan kepribadian dan rohani ini, karena sesungguhnya kekaguman orang (utamanya lelaki) pada wanita setengah abad juga sudah bergeser dari kecantikan fisik kepada kecantikan pribadi dan rohani ini.  Sehingga tidaklah berlebihan kalau kecantikan hakiki itu terletak pada kepribadian dan rohaninya, bukankah yang mampu meneduhkan hati seseorang itu justeru melihat kecantikan pribadi dan ibadahnya.

Betapa tidak, perempuan yang seperti ini lembut dan sopan tutur katanya, senyum yang tulus memancar dari kebaikan hatinya, tatapan tajam dan lembutnya keluar dari jiwa yang tulus ikhlas, narasi kata dan tulisannya tergerak dari keikhlasan yang dijadikannya sarana ibadah, sehingga kehadirannya selalu dirindukan oleh keluarga dan sahabatnya.

Akhirnya sayapun bertanya kepada perempuan setengah abad, apakah anda masih sibuk mempercantik fisik atau sudah bergeser ke mempercantik pribadi dan rohani ?

Salam Wisdom Spritual.

Dr. Syaifudin SH. MH.


Dewan Redaksi Duta TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *