ANTARA KOPI, KEHIDUPAN, DAN TAHUN BARU

Oleh : Tjipto Sumadi*

Banyak fenomena menarik dalam kehidupan ini yang dapat dijadikan tamsil bagi perjalanan manusia di dunia. Sebutlah wortel, umbi yang satu ini, dengan warna yang menarik, segar, dan menggairahkan, hampir setiap hari disantap manusia dan hewan. Sebut pula telur; telur ayam, bebek, burung, dan jenis unggas lainnya. Telur melambangkan sebuah siklus kehidupan, bahwa hidup itu nyaris tak berujung. Dalam kitab suci dinyatakan; Tuhan mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, bahkan menghidupkan bumi setelah kematiannya. Itu sebabnya telur berbentuk bulat-oval, dan putih, hal ini melambangkan ketulusan dan kemurnian sebuah kehidupan. Juga ada kopi, yang menjadi topik bahasan kita kali ini. Perjalanan kopi hingga menjadi sajian istimewa merupakan perjalan panjang; dari pemilihan bibit hingga dimasak, lalu dihirup, dan diseruput oleh Coffee Snob atau pecinta kopi.

Kali ini kita akan membahas tiga jenis bahan konsumsi yang dapat dijadikan tamsil kehidupan manusia tersebut. Alkisah; pertama, ada sebuah wortel. Wortel dengan warna oranye yang amat menarik dan menggoda selera. Bahkan negeri Kincir Angin; Belanda, menjadikan warna ini sebagai warna kebanggaan dan kebangsaan mereka. Sifat umbi wortel ini keras dan banyak mengandung vitamin yang dapat menyehatkan mata manusia dan hewan. Bahkan kelinci yang setiap hari menyantap wortel, dijadikan simbol oleh salah satu majalah dewasa di negeri Paman Sam. Jika wortel ini dimasukkan ke dalam air dengan panas 100 derajat Celsius, maka “jati diri”-nya atau identitas wortel menjadi berubah, dari yang kuat dan keras, menjadi lunak dan “loyo”.

Tamsil yang kedua, sebutir telur yang disimbulkan sebagai awal mula kehidupan atau kehidupan yang melahirkan telur, sebagaimana teori dari Louis Pasteur yang menyatakan “omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo”; semua kehidupan berasal dari telur, semua telur berasal dari kehidupan. Jika telur dimasukkan ke dalam air dengan suhu 100 derajat Celsius, maka sifat telur pun akan berubah, dari yang lunak dan lembut, mejadi mengeras dan kenyal. Sebuah situasi yang berbeda dengan wortel; yang semula keras lalu melunak, sementara telur dari yang lembut menjadi kenyal dan padat.

Tamsil yang ketiga adalah kopi. Konon tanaman kopi bukanlah asli tanaman Indonesia, Google mencatat bahwa tanaman kopi berasal dari Abyssinia (saat ini termasuk wilayah Etiopia dan Eritria), di benua Afrika. Oleh para pedagang jazirah Arabiya dan Eropa, kopi ini dibawa ke Indonesia. Tanah yang subur, gemah ripah loh jinawi, cocok dengan karakteristik kopi ini. Dengan jati dirinya masing-masing, muncullah kopi dengan rasa yang khas, nikmat, istimewa, dan terkenal di dunia, antara lain; ada kopi Arabika Gayo Aceh, kopi Arabika Toraja, kopi Arabika Kintamani, kopi Arabika Java Ijen Raung, kopi Liberika Rangsang Menanti, kopi Arabika Flores Bajawa, dan kopi Robusta Temanggung. Berbeda dengan kedua materi di atas; wortel dan telur, jika kopi dimasukkan ke dalam air dengan suhu 100 derajat Celsius, maka “jati diri”-nya tidak berubah, justru orang yang berada di sekeliling kopi itu akan menghirup dan merasakan nikmat harumnya kopi itu. Kopi tetaplah kopi, tidak berubah menjadi lunak atau mengeras, tetapi tetap seperti apa adanya, yang muncul justru keharumannya yang menyeruak ke segenap penjuru ruangan. Kopi yang diseduh atau dijerang telah memberikan warna, rasa, dan nikmatnya kehidupan.

Hidup memang adalah pilihan; wortel, telur, dan kopi adalah tamsil pilihan dalam kehidupan. Ketika ketiganya dihadapkan dengan media yang sama, yaitu air dengan suhu 100 derajat Celsius, maka wortel dan telur berubah, meskipun tetap akan memberikan dampak bagi yang menikmatinya, tetapi tidak bagi orang yang berada di sekitarnya. Sebaliknya ketika kopi dipertemukan dengan air panas bersuhu 100 derajat Celsius, maka harumnya kopi itu, akan menyeruak memengaruhi seisi ruangan, tak peduli apakah ia seorang Coffee Snob atau bukan penikmat kopi.

Semoga di awal tahun 2021 ini, meskipun media kehidupan penuh dengan tantangan, seperti tekanan ekonomi, gonjang-ganjing perpolitikan, atau bahkan pressure Covid-19 yang kian mengkhawatirkan, kita dapat meniru karakteristik kopi. Apapun tantangannya kopi tetap memberikan warna dalam kehidupan, begitupun hendaknya kita… apapun tantangannya, kita harus selalu dapat memberikan warna dan makna dalam kehidupan di tahun baru ini. Selamat Datang Tahun 2021, Selamat Mewarnai harumnya Kehidupan, dan Selamat NGOPI di tahun baru….

Salam Wisdom Indonesia.

 

*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987

Dosen Universitas Negeri Jakarta

Dr. Syaifudin SH. MH.


Dewan Redaksi Duta TV

  1. Dra.Hj.Aminah Syuhud says:

    Luar biasa Bung….ulasan 3 hal yang tidak pernah jauh dari kehidupan kita…..Hidup ini penuh warna ……tentunya kita juga harus pandai bersyukur…..agar warna-warna itu tidak cepat pudar…bahkan makin bersinar ….Kopi juga bisa dimodifikasi agar penikmatnya lebih merasakan sensasi yang lain….Saya pernah dapat kiriman kopi dari sahabat yg di Banyuwangi…bliau racik sendiri….dikirim buat sahabatnya yg suka Ngopi….seperti sahabatmu ini Bung.Trimakasih….Semoga selalu sehat….Tambah sukses dan hidup penuh berkah.Aamiin.

  2. Yes, kopi can be cheapest as 2000 rupiah and can’t expensive as 50.000 rupiah. Why?
    “Choices” and “reason” from the unique of humans.
    Happy new year’s 2021 by counting 40 hours countdown.

  3. Sebuah inspirasi dan semangat luar biasa bagi diri saya, Terimakasih banyak untuk Pak Tjipto yang telah memberikan inspirasi dipenghujung tahun 2020 ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *