“APA YANG PALING DEKAT DENGAN KITA ?” (mengenang Alm. AMINUDDIN LATIF dan Alm. HM SOEDIJONO)

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, perjalanan spritual untuk melaksanakan ibadah umroh bersama AFI TOUR di bulan Oktober yang lalu masih sangat berkesan di hati saya, bukan hanya karena pelayan prima, akan tetapi mutawij yang memandu perjalanan tersebut memberikan pencerahan-pencerahan yang membukakan kembali pengetahuan kita tentang soal-soal kehidupan yang dikemukan oleh para tokoh-tokoh (ulama besar) yang pernah ditulisnya.  Salah satu yang dicuplik adalah pendapatnya Imam Al-Ghazali dengan karyanya yang insyaallah kita semua sudah mengenalnya “ihya Ulumuddin” suatu buku yang membahas penyucian jiwa dari berbagai macam penyakit hati.

Sahabat ! disela-sela perjalanan terkadang Mutawij memberikan pertanyaan-pertanyaan yang ringan tapi “berisi” dari pendapatnya Imam Al-Gazhali tersebut, seperti pertanyaan APA YANG PALING DEKAT ? tentu pertanyaan ini sebagaimana edisi sebelumnya dalam pertanyaan “apa yang paling jauh ?´tidaklah berkaitan dengan jarak atau tempat tertentu, melainkan berkaitan dengan suatu peristewa dalam kehidupan.

Sahabat ! sebelum saya menjawab peristewa dalam kehidupan yang sangat dekat dengan kita tersebut, kita di kejutkan oleh wafatnya sahabat AMINUDDIN LATIF Kepala Badan Keungan Daerah Kalimantan Selatan saat melaksanakan tugas kedinasan di Jakarta, betapa tidak terkejut, karena sewaktu berangkat kondisi beliau terlihat sehat, rupanya karena ada serangan jantung menjadikan penyebab beliau meninggal dunia. Begitula berselang beberapa hari sahabat kita  H.M. Soedijono Ketua Legiun Veteran Kal-Sel juga telah berpulang KERAHMATULLAH… Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sahabat ! peristewa meninggalnya sahabat kita ini, sesungguhnya adalah jawaban atas pertanyaan di atas, karena menurut Imam Al-Ghazali seperti dikutip ustad Amin Mutawij kami, bahwa yang paling dekat dengan kita tersebut adalah KEMATIAN. Lantas kenapa kematian ini yang paling dekat ? seberapa dekatkah kematian itu dengan kita ? atau masih ada dan berjarakkah dia dengan kita ?

Sahabat ! dikatakan sangat dekat, karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan kematian itu menemui kita, kitapun tidak tahu dimana ia akan menemui kita dan bahkan kita juga tahu dengan cara atau sebab apa kita menemuinya. Jadi karena ketidaktahuan kita itulah jarak itu menjadi sangat “nisbi” dan menjadi misteri dalam kehidupan kita masing-masing, adapun yang kita tahu adalah KITA PASTI AKAN BERJUMPA DENGANNYA.

Sahabat ! kehidupan kita sering bertutur, betapa banyak kita melupakan peristewa yang paling dekat dengan kita ini, lihat saja kesibukan bekerja dalam kehidupan kita, kegembiraan dan kesusksesan yang kita raih, kehormatan dan kekuasaan yang kita dapatkan, harta benda dan segala perhiasan dunia yang mensilaukan, ketampanan dan kecantikan yang melahirkan pujian, kecerdasan atau kepintaran yang membaggakan, suara merdu yang memukau pendengaran dan seterusnya… sehingga terkadang semua itu MELUPAKAN kita pada KEMATIAN.

Sahabat ! sesungguhnya tidak ada yang abadi di kehidupan dunia kita ini, semuanya akan berlalu dari kita, harta kita, kekuasaan kita, pasangan kita, anak kita, dan segala yang kita miliki dan kuasai, hakikatnya hanya titipan sementara, bahkan tubuh yang kita rawat setiap hari pun juga akan meninggalkan kita.  Oleh karena itu semua akan berlalu dan kitapun akan bertemu dengaan akhir kehidupan kita yang disebut kematian.

Sahabat ! peristewa yang paling dekat dengan kita ini, tidak perlu kita takuti, karena ia pasti datang dan bahkan dia sesungguhnya pintu yang menghantarkan kita pada fase kehidupan berikutnya, seperti layaknya dari fase ketiadaan, kemudian kita berada dalam alam rahim, lalu kita lewat pintu kelahiran kitapun berada di alam dunia, dan seterusnya kita akan berpindah ke alam kubur sembari menunggu hari kebangkitan di akherat kelak.

Sahabat ! oleh karena itu, sesungguhnya bagi kita yang paling penting adalah MENYIAPKAN BEKAL menghadapi kematian itu untuk jadi penentu kehidupan kita di fase berikutnya sambil selalu meminta ampun kepada Yang Maha Kuasa, dan SEMOGA KITA HUSNUL KHOTIMAH.  Selamat jalan sahabat yang telah mendahului, doa kami untuk mendapatkan keampunan Allah dan ditempatkan di SYURGANYA.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Dr. Syaifudin SH. MH.

Dewan Redaksi Duta TV


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *