“LOCKDOWN  FIKIRAN?”

BANJARMASIN-DUTATV.COM Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, tidak terbantahkan lagi kata atau istilah “lock down” dimasa “pandemi covid 19” sangat popular disamping kata kata lainnya, seperti ODP (orang dalam pemantauan) PDP (pasen dalam pengawasan) dan Social Distancing. Lock down secara terminologi adalah keadaan seseorang tidak diperbolehkan atau tidak diperkenankan untuk masuk (entry) atau keluar (out) dari sebuah bangunan atau tempat atau kawasan dengan bebas, yang disebabkan oleh “alasan tertentu”.

Sahabat ! kalau dikaitkan dengan pandemic virus covid 19, maka lockdown tindakan menutup semua akses masuk dan akses keluar  dari dan ke suatu kawasan atau daerah atau Negara dengan maksud mengendalikan penyebaran virus tersebut. Oleh karena itu lockdown akan menutup rapat tempat atau daerah atau wilayah dari aktivitas pergerakan manusia dan benda yang dapat menyebabkan penyebaran virus.

Sahabat ! dengan melihat data orang yang positif terkena virus covid 19 di wilayah DKI yang di dominasi oleh kelompok usia 20 tahun ke atas (lihat corona.jakarta.go.id) termasuk data di Kalimantan Selatan yang sampai saya menulis tulisan ini terdapat 1 kasus positif usianya juga di atas 40 tahun. Disamping itu beberapa tulisan dan ulasan serta pendapat yang mengatakan “bahwa orang dewasa lebih banyak yang tertular virus covid 19 ini, dengan berbagai macam analisa dan salah satunya adalah mengaitkan “KEKEBALAN TUBUH DENGAN RASA TAKUT DAN CEMAS” terhadap kondisi penyebaran virus covid 19 ini.

Sahabat ! saya belum menemukan kajian ilmiah yang mendalam  korelasi antara anak-anak, rasa takut dan cemas dengan ‘rentan” terkena virus covid 19 ini, namun beberapa pendapat, termasuk  dokter (yang pernah talk show dengan saya) dan orang bijak serta Menteri Kesehatan sendiri dapat saya simpulkan bahwa KEPANIKAN, KECEMASAN, KETAKUTAN AKAN MELEMAHKAN IMUNITAS TUBUH. Berdasarkan hal ini dengan memadukan data usia yang terkena vius covid 19 maka logis kalau dikatakan bahwa di usia dewasa telah terjadi kepanikan, kecemasan dan ketakutan terhadap virus covid 19 ini, sehingga mempunyai probabilitas tertular dibandingkan anak-anak.

Sahabat ! mengapa anak-anak tidak panic, cemas dan takut, yang bahkan dalam kebijakan merubah anak belajar di rumah sekarang inipun didasari ketakutan kita yang dewasa, bukan anak itu sendiri, karena anak tidak ikut dan atau tidak menghiraukan berita-berita “keganasan” penyebaran virus dan akibatnya yang melanda dunia sekarang ini. Dengan kata lain daya imunitas anak-anak lebih kuat karena salah satunya anak-anak tidak terpengaruh berita-berita yang mencemaskan dan menakutkan yang beredar di media media kita, termasuk yang paling gencar beredar di media social.

Sahabat ! dengan dasar pemikiran seperti itulah ijinkan saya mengungkapkan istilah LOCKDOWN FIKIRAN, artinya PENUTUPAN FIKIRAN KITA DARI BERITA-BERITA NEGATIF TENTANG VIRUS COVID19 BAIK ITU YANG MASUK DAN KELUAR KE SMART PHONE MAUPUN YANG TAYANG DI MEDIA. Jadi manakala kita melakukan lockdown fikiran, maka kita mengunci fikiran atau paling tidak membatasi fikiran kita untuk membaca dan melihat berita-berita negative covid 19 yang sadar atau tidak sadar akan mencemaskan dan menakutkan kitaPararel dengan itu kita membuka fikiran kita terhadap hal-hal yang positif dari berita-berita virus covid 19 ini, seperti lebih menonjolkan kasus kesembuhan daripada akibat kematian yang ditimbulkannya.

Sahabat ! tidak saja sampai disitu kita harus melakukan gerakan bersama untuk MELAWAN VIRUS COVID 19 dengan gerakan kebersihan pribadi, rumah dan lingkungan, disiplin cuci tangan, makanan yang seimbang, berolah raga dan gaya hidup sehat lainnya, bergembira dan berbahagia dengan keluarga dan sahabat, membuat karya produktif dan inspiratif serta kemudian kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kepada Yang Maha Kuasa.

Sahabat ! dari sekarang stop menerima dan atau menonton serta menshare berita-berita negative virus covid 19 tersebut, sudah begitu banyak hal-hal tercipta karena ketidaksadaran kita akan dampaknya, telah mengakibatkan kepanikan, kecemasan dan ketakutan terhadap masyarakat kita, sehingga dampak social ekonomi yang sedemikian rupa telah banyak menyusahkan petani dan nelayan kita, banyak pekerja yang dirumahkan, kehidupan ekonomi UMKN yang sulit, pengusaha-penguasaha yang kesusahan membayar gaji, sampai pada kehidupan ibadah kita yang tidak bisa dijalankan secara normal.

Sahabat ! dengan LOCKDOWN fikiran, kita akan punya imunitas dan tidak terjerukus ke dalam dosa yang membuat semua orang susah bahkan termasuk diri kita sendiri.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia

#UPDATE CORONA KALSEL

Slider

Dr. Syaifudin SH. MH.


Dewan Redaksi Duta TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *