Anak Down Syndrome Belajar Berkarya Lewat Sasirangan

Banjarmasin, Duta TV — Suasana penuh semangat terlihat saat anak-anak dengan down syndrome mengikuti pelatihan membuat kain sasirangan. Didampingi orang tua dan para pendamping, mereka mulai belajar dari tahap awal pembuatan.

Sebelumnya, para peserta juga mendapatkan materi mengenai beragam motif sasirangan. Kegiatan yang digelar Pusat Informasi Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome atau PIK POTADS Kalimantan Selatan ini, merupakan pelatihan pembuatan sasirangan yang keempat.

Sebanyak 35 kain disiapkan untuk dikerjakan para peserta. Ketua PIK POTADS Kalsel mengatakan, kegiatan ini bukan hanya tentang menghasilkan selembar kain, melainkan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengasah keterampilan, membangun rasa percaya diri, dan belajar berkarya sesuai kemampuan mereka.

Sebagai bagian dari masyarakat Banua, mereka juga diajak mengenal dan ikut melestarikan sasirangan. Bahkan, hasil karya mereka selama ini juga telah dilelang, dan memiliki nilai tersendiri karena menjadi karya yang dibuat langsung oleh anak-anak down syndrome.

“Alhamdulillah hari ini kami mendapatkan anugerah luar biasa dari Tuhan. Empat kalinya kami mengadakan kegiatan pelatihan membuat kain sasirangan. Jadi, alhamdulillah anak-anak selalu semangat kalau ada kegiatan ini. Dan kami berharap pelatihan ini tidak sekedar pelatihan, tapi menambah ilmu, menambah pengetahuan, dan memberikan manfaat yang lebih luas lagi kepada anak-anak dan keluarganya. Karena kami orang Banua, tentunya seperti sudah suatu kewajiban kami juga harus melestarikan kain sasirangan. Itu identik dengan kita bernapas di Bumi Banua. Harapannya tentunya selain mendapatkan ilmu, berharap nanti dari UMKM Kantan Sasirangan bisa selalu mengajak anak-anak kami, dengan didampingi orang tuanya tentunya, bisa lebih meningkatkan kemampuannya dalam membuat sasirangan. Syukur-syukur hasilnya bisa dipasarkan oleh UMKM Kantan Sasirangan. Walaupun selama ini hasilnya selalu kami lelang. Kami lelang dan hasilnya memang pembelinya bukan membeli kain, tapi membeli karena itu hasil karya anak-anak kami, nilainya lebih jadinya. Alhamdulillah hari ini naik. Yang dulu terakhir 20 kain, sekarang kami menyiapkan 35 kain. Karena kalau tidak distop akan tambah terus peserta nya. Ini tadi tugasnya Bu Wasilah ini nanti, minta bantuan Bu Wasilah,” kata Sigit Bayu Adhi, Ketua Pik Potads Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Pembina PIK POTADS Kalsel Dokter Hajjah Siti Wasilah berharap, potensi yang terus diasah diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan. Ke depan tersedia wadah yang lebih luas untuk mengembangkan sekaligus memasarkan hasil karya anak-anak.

“Ya, saya selaku Pembina POTADS Kalimantan Selatan, kemudian dengan sudut pandang saya sebagai akademisi ya dan juga pemerhati perkembangan anak-anak dengan down syndrome maupun kelainan genetik lainnya ya, saya menyebutnya demikian sebagai akademisi. Jadi ketika orang tua mendampingi anak-anak, tentu tidak sebatas hanya pertumbuhan saja, tapi juga perkembangan. Dan ketika bicara perkembangan di sekolah butuh pendampingan tentu, agar mereka dididik, diajar untuk kemandirian. Tapi ada PR bagaimana kemudian anak-anak kita ini ketika mereka menyelesaikan jenjang pendidikan, tentu perlu wadah untuk apa namanya menyalurkan potensi yang dibina di sekolah maupun oleh kegiatan POTADS, salah satunya pelatihan sasirangan ini. Saya berharap pada suatu ketika POTADS bersama pihak-pihak terkait bisa menyiapkan wadah untuk pemasaran dan sekaligus juga tempat bekerjanya anak-anak ini, walaupun tentu dengan pengaturan pola kerja dan waktu yang diatur sedemikian rupa sesuai untuk mereka. Dan ini benar-benar akan menjadi wadah bagi mereka untuk setelah menyelesaikan pendidikan SMA ataupun SMK, mereka juga bekerja dengan karya mereka sendiri. Jadi ini harapan saya selaku pembina bahwa perkembangan dari pelatihan yang sudah diadakan ini akan bermuara pada suatu upaya pemasaran. Sekarang ini POTADS sudah melakukan itu ya Pak ya, dengan lelang, tapi kita berharap akan tambah banyak lagi wadah untuk kita menyalurkan kemampuan, potensi yang kita coba asah pada anak-anak ini. Saya kira demikian dan sekali lagi terima kasih kepada semua yang mendukung, baik DJKN, BI, KPKNL ya Pak ya,” kata Dr. dr. Hj. Siti Wasilah, M.Si.Med.

Pelatihan ini mendapat dukungan berbagai pihak mulai dari Bank Indonesia, DJKN, KPKNL, termasuk Ibnu Sina Foundation, dan pihak terkait lainnya. Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran, namun bagian penting dalam membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak down syndrome untuk terus berkarya dan membuka peluang kemandirian.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Nayla Sofia

Uploader

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *