Inspirasi

“WAY OUT or WAY IN”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, kali ini ijinkan saya menulis dengan penuh keprihatinan atas kondisi sosial di negeri kita tercinta ini yang diberbagai tempat terjadi demonstrasi yang berujung kerusuhan, demo dari kelompok yang solah-olah mengklaim kebenarannya sendiri sebagai kebenaran tunggal, sampai kerusuhan yang terjadi di Wamena Papua, terlepas dari analisa berbagai faktor yang menjadi penyebabnya, yang pasti “tragedi kemanusiaan” ini meletus dan terjadi di bangsa kita ini, padahal sesungguhnya sudah sejak lama kita terikat akan sumpah “berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu” Indonesia.

Sahabat ! menanggapi “tragedi kemanusiaan” itu muncul beberapa pendapat dan tulisan yang juga beredar di media sosial dan Group WA, salah satunya yang menarik perhatian saya adalah sebuah tulisan yang di share di Group WA MAWADAN 87 yang menceritakan bagaimana akhir peperangan dalam cerita Mahabrata dengan judul KEMENANGAN YANG SIA-SIA yang ditulis oleh Mustika Wayan, berikut saya kutifkan secara utuh tulisan tersebut :

Para Pandawa tertunduk lesu di atas Kuruksetra (sebuah distrik di negara bagian Haryana India Utara), menatap pilu pada puing-puing kemenangan mereka sendiri.Kemenangan itu sia-sia. Mereka mungkin bisa berteriak lantang pada lawan-lawan, untuk menunjukkan bahwa kebenaran merekalah yang menjadi pemenang. Namun semua lawan telah tiada, hening dalam kematian. Apalah lagi arti teriakan kemenangan itu. Arjuna telah menyesali kemenangan ini bahkan sebelum pertempuran harus berkecamuk. Ia bukan gentar pada pertempuran. Ia gentar oleh rasa hormat dan cintanya pada persaudaraan. Guru-guru terhormat telah gugur sebagai lawannya. Para saudara telah mati sebagai musuhnya. Keberhasilan apakah yang begitu mengagumkan, ketika peperangan hanya menyisakan kehancuran pada tali persaudaraan? Ia pernah bergetar riang oleh kemenangan atas lawan-lawan sejati. Namun kemenangan atas saudara bangsa sendiri, atas para Guru sendiri, rakyat sendiri, prajurit sendiri, baginya hanyalah sebuah kekalahan atas dirinya sendiri. Ia menjatuhkan busur dan seluruh anak panahnya ke bumi. Tak sanggup menatap hamparan tubuh yang tergeletak menebar amis kesedihan. Lalu tiba-tiba hembusan angin membawa bisikannya di tanah Kuruksetra, melampaui ruang dan waktu hingga tiba di saat ini. Terdengarlah serupa dengan keadaan negeri katulistiwa ini. “Apakah pertikaian dan kematian sesama saudara sebangsa membahagiakanmu? Seberapa bangga dan bahagia kalian bisa saling membunuh di antara anak negeri?” “Adakah di negeri kalian para orang tua yang bertepuk tangan bahagia atas pertikaian anak-anaknya sendiri hingga menjemput kematian?” Hembusan angin perlahan kembali senyap. Lalu tangis seorang Ibu terdengar dari balik pintu pagar. “Di rumahnya, seorang polisi mungkin adalah juga seorang anak, suami atau ayah yang dinantikan pulangnya membawa nafkah, bukan hanya terbawa nama.” “Para pendemo mungkin di rumahnya adalah juga seorang putra, putri, suami atau istri yang dinantikan pulang mereka oleh keluarga.” “Apakah kemenangan salah satunya dalam pertikaian sia-sia itu menyisakan kebahagiaan? Mungkin para penontonlah yang berbahagia. Sebab mereka tak sungguh terluka, kecuali hanya merasa terluka, merasa kalah, atau merasa menang.” Di kejauhan masa lalu, Arjuna dan para Pandawa beranjak pergi, meninggalkan Kuruksetra dengan penyesalan mendalam”.

Sahabat ! saya tidak mengomentari lagi hal yang sudah sangat jelas uraian di atas, namun saya mangajak sahabat untuk merenungkan “KENAPA KITA SERING MELAKUKAN DEMONTRASI, KEKERASAN DAN “PEPERANGAN”, UNTUK MENCARI ATAU MENUNJUKAN JALAN KELUAR TERHADAP MASALAH YANG DI HADAPI” ? kenapa kita sering menyelesaikan masalah dengan menunjuk kepada pihak lain agar berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah tersebut ? kenapa kita sering menunjuk orang lain sebagai sumber masalah yang timbul ? kenapa jalan keluar yang kita inginkan justeru terletak pada orang lain untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan lantas kita menuntutnya agar menyelesaikannya ? dan seterusnya.

Sahabat !  dalam pandangan mencari jalan keluar, seluruh mata dan fikiran kita tertuju keluar dan hasilnya objek yang berada di luar inilah yang menjadi “kanvas” atau sasaran kita melampiaskan kekesalan, kemarahan, kefrustasian, keakuan, kekuatan, sehingga seolah-olah mereka yang menjadi objek tersebut kita nilai wajar menerimanya. Dari sinilah muncul pembenaran atas tindakan yang terjadi, dari kebenaran yang diyakininya benar, kitapun menjadi terjebak melakukan ketidak benaran dalam cara untuk memperjuangkan hal-hal yang kita anggap benar tersebut.

Sahabat ! saya bukan menampikan pemikiran untuk mencari jalan keluar dengan melihat faktor luar atau eksternal ini, namun sesekali sahabat bisa merenungkan, masalah yang sesungguhnya apakah berada di luar atau didalam diri kita sendiri ? terdapat banyak pembuktian segala permasalahan yang timbul dalam kehidupan kita justeru terletak pada diri kita sendiri, oleh karena itulah sangat bijak kalau yang dicari adalah “JALAN KE DALAM”.

Sahabat ! jalan ke-dalam adalah usaha untuk instrospeksi diri terhadap masalah yang timbul, apakah justeru karena kita salah menyikapi, apakah karena kitalah yang berprasangka, apakah karena kita merasa paling pintar dan paling benar, apakah kita kurang bisa memahami orang lain, apakah karena kita tidak mampu bersaing, apakah karena kita iri dengki atas keberhasilan orang lain dan seterusnya.  Ringkasnya menurut petuah orang tua kita dulu, saat jari telunjuk kita menunjuk keluar, maka empat jari lainnya sebenarnya menunjuk kedalam, oleh karena itu instrospeksi ke dalam mempunyai posisi utama, karena jangan-jangan setiap masalah yang timbul justeru bersumber pada dalam diri kita sendiri.

Sahabat ! suatu ketika salah seorang sahabat saya memberikan nasihat, kalau terjadi masalah tersebut, maka langkah yang pertama dan utama adalah melihat ke dalam diri sebagai jalan dalam “kenapa masalah tersebut muncul” ? kalau ternyata masalah itu disebabkan oleh andil kita, maka damailah dengan diri sendiri dan kalau menyangkut orang lain, minta maaflah kepada orang lain tersebut.  Selanjutnya kalau ternyata kita analisa masalah itu bukan karena andil kita atau bukan karena diri kita, maka ini berarti “cobaan” dari Yang Maha Kuasa sebagai suatu kebijakan yang terbaik bagi diri kita dan masyarakat kita asal kita bisa mengambil hikmahnya.  Lantas setelah itu secara individu dan sosial tentu kita berhak untuk menempuh “jalan keluarnya” dengan demonstratif yang bijak dan bermartabat, bukan dengan cara yang merusak dan biadab.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *