Inspirasi

“RESIKO ORANG BAIK YANG MENYAMPAIKAN KEBAIKAN”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, sebagaimana yang saya janjikan  terdahulu dalam tulisan “magnet spritual” di tulisan ini saya lanjutkan bertutur tentang perjalanan spritual, sehubungan dengan keberangkatan ibadah umroh saya bersama AFI TOUR BANJARMASIN di bulan Oktober 2019, tentu dengan catatan hal ini sebatas pengalaman pribadi, sehingga bersifat subjektif dan tidak serta merta bisa digeneralisir.  Walaupun bersifat subjektif saya berharap ada yang bisa dipetik “hikmahnya” sebagai tujuan saya dalam menulis ini di secangkir kopi seribu inspirasi ini.

Sahabat ! setelah kami sampai Madinah, sebagian jemaah ada yang langsung ke Mesjid Nabawi untuk sholat magrib dan isya yang men “jama ta’khir” dan sebagian lagi istirahat menunggu sholat subuh karena sudah sholat men ‘jama’  sewaktu mampir rehat diperjalanan.

Dengan sahabat robongan AFI TOUR setelah ziarah dan sholat sunnah di Raudah

Sahabat ! ada keuntungandengan jarak yang dekat antara hotel kami dengan mesjid Nabawi sehingga kami bisa menjalankan sholat berjamaah di Mesjid Nabawi secara penuh, dan pada jeda antara sholat Magrib dengan sholat Isya, bisa ikut gabung mendengarkan kajian keislaman yang dilakukan oleh para ustad di Mesjid Nabawi, saat saya ikut mendengarkan kajian ke islaman tersebut terdapat topik pembahasan yang menarik perhatian saya BAHWA HAKIKAT BERSHOLAWAT ADALAH KITA TAAT DAN MEMBENARKAN AJARAN RASULULLAH, MENINGGALKAN YANG DILARANG OLEH RASUL DAN BERIBADAH SERTA BERAKHLAK SEPERTI YANG DICONTOHKAN RASUL.

Sahabat ! sembari itu teringatlah saya kepada sosok Rasulullah saat itikaq di Mesjid Nabawi ini, yaitu tentang BAGAIMANA KEHIDUPAN AKHLAK NABI SAAT SEBELUM MENYAMPAIKAN RISALAH ISLAM SEBAGAI SOSOK ORANG BAIK DAN JUJUR YANG DISUKAI OLEH KAUMNYA, AKAN TETAPI SAAT BELIAU MENYAMPAIKAN RISALAH KEBAIKAN (MENYAMPAIKAN WAHYU) JUSTERU BANYAK YANG BERBALIK MEMUSUHI.

Sahabat ! kehidupan kita sering bertutur, berperilaku dan atau berakhlak yang baik menjadikan kita disukai banyak orang, bagaimana orang tidak suka, karena kita suka membantu orang, bertutur kata dengan lembut, menghormati dan menyayangi setiap orang tanpa memilih dan memilah darimana dia dan dengan status sosial apa dia, bisa memberikan nasihat yang bijak saat diperlukan nasihatnya, membawa keceriaan dan pencerahan kepada para sahabat, menunaikan amanah yang dipercayakan, sampai menjadi perekat ikatan sosial bagi masyarakat yang sedang berselisih dan seterusnya.

Sahabat ! namun segala budi pekerti atau akhlak yang baik itu ternyata saat beliau menyampaikan risalah akan kenabian  kepada kaum (umat) saat itu, justeru kebanyakan mereka berbalik menentang dan memusuhi Rasulullah.  Artinya dengan kata lain, saat orang baik itu menyampaikan dan mengajak orang lain untuk berbuat baik, maka saat itulah resiko kita ditentang dan dimusuhi itu muncul.

Sahabat ! begitulah hukum kehidupan bercerita, orang baik itu hanya sebatas orang baik tetaplah menjadi orang baik yang banyak disenangi orang karena sikap dan perilakunya yang baik, dan juga hanya ada kemungkinan kecil orang baik yang tidak disenangi, yaitu tidak disenangi oleh orang yang iri dengki atas sikap baik tersebut. Seterusnya pada saat orang baik itu mengajak orang lain untuk ikut berbuat baik (dakwah) dalam kehidupan atau yang istilahnya “amar ma’ruf nahi munkar”, maka orang yang semula suka dengan kita bisa berbalik menjadi benci dan tidak suka dengan kita.

Sahabat ! berarti tidak disukai dan atau bahkan dibenci oleh orang karena kita menyampaikan dan mengajak orang untuk kebaikan hidup adalah resiko bagi kita yang ingin mengajak orang lain berbuat baik.  Oleh karena itulah janganlah kita berkecil hati atau sedih atas reaksi yang seperti itu, karena hal ini sudah menjadi kelaziman dalam kehidupan, bukan hanya kita bahkan juga dialami oleh para Rasul dan semua orang baik di dunia ini.

Sahabat ! yang sangat penting sesungguhnya justeru menanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah kita akan bereaksi tidak baik terhadap orang yang menyampaikan kebaikan dalam kehidupan, kalau dalam diri kita ada perasaan tidak suka terhadap orang yang menyampaikan kebaikan dalam kehidupan, maka pertanda “hidayah” belum sampai kepada kita dan untuk itu minta dan berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberikan hidayah untuk bisa menerima kebaikan dari orang lain.

Dan bagi sahabat yang sudah berupaya menyampaikan atau mendakwahkan kebaikan kepada orang lain, akan tetapi belum mendapatkan hasil sebagaimana yang diinginkan, maka teruslah berbuat baik dan menyampaikan kebaikan, selanjutnya  berserah kepada Allah dan doakan agar dia menjadi menjadi orang baik. Karena sesungguhnya tugas kita hanya menyampaikan, sedangkan hasilnya hak prerogatif Yang Maha Kuasa.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *