Inspirasi

“PELAJARAN RASA”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, beberapa hari yang lewat saya mendapat kiriman puisi dari sahabat yang biasa saya panggil Mas Petir dengan judul seperti judul yang saya tulis di atas, sebuah puisi yang menggugah rasa dan perasaan saya karena bicara soal rasa dan merasakan. Ada baiknya saya muat secara lengkap isi puisi tersebut berikut ini :

“Merasakan luka, tak harus terluka belajarlah pada kesadaran rakyat kecil yang tertusuk oleh kata politikus, birokrat dan ilmuan sekalipun”//“Merasakan jatuh, tak mesti terjatuh belajarlah kepada daun yang meliuk menyentuh tanah karena terik yang menghidupkan mestinya”//”Merasakan kering, tak harus mengering belajarlah pada hutan meranggas karena salah musim bercerai dengan hujan”//merasakan basah, tak mesti membasah belajarlah kepada peluh dan keringat orang-orang kecil yang telah menjadi silau hidup karena salah membaca arah jiwa”//”Merasakan angin tak harus menjadi semilir dan desau, merasakan energi tak mesti menjadi kumparan demi kumparan”.

Sahabat ! dalam kajian sosiologi hukum dikenal yang disebut “EMPATHIC COMPREHENSIONseperti pendapatnya Adam Smith yang mengatakan Jika kita tidak mengalami apa yang dialami oleh orang lain, maka kita tidak dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi dengan mencoba untuk membayangkan apa yang dialami oleh mereka, maka kita dapat merasakan keadaan yang mereka alami.

Sahabat ! indera rasa dalam terminologi panca indera diartikan sebagai indera yang berfungsi untuk menangkap informasi dari sekitar diluar diri kita, yaitu lidah, disamping mata sebagai indera pelihat, kulit sebagai indera peraba, hidung sebagai indera pembau dan telinga sebagai indera pendengar. Akan tetapi yang saya maksudkan sebagai “rasa” disini adalah suatu kemampuan memahami suatu fenomena dengan menjadi aktor atau paling tidak membayangkan menjadi aktor pada fenomena tersebut.

Sahabat ! dalam kehidupan terdapat beberapa kondisi yang bisa rasakan langsung untuk merasakannya, seperti untuk mengetahui rasanya lapar, maka kita akan merasakannya kalau kita juga tidak makan, untuk mengetahui rasa haus, maka kita akan merasakannya kalau kita tidak minum. Akan tetapi dalam beberapa kondisi yang bersifat kualitatif seperti perasaan marah, perasaan senang, perasaan malu, perasaan sedih hanya juga bisa kita rasakan bagaimana rasanya saat kita juga mengalami kondisi yang sama sehinggga membuat kita marah, senang, malu, sedih tersebut.

Sahabat ! semua rasa tersebut kita menjadi umum dirasakan oleh semua manusia, akan tetapi bentuk dan kualitas yang menjadikan rasa itu yang berbeda-beda di antara manusia itu, artinya semua perasaan itu bersifat objektif, akan tetapi kondisi yang menyebabkan semua rasa itu bersifat subjektif. Seseorang bisa marah hanya karena persoalan yang orang lain anggap sepele, akan tetapi dalam pandangannya yang sepele itu adalah hal yang sensitif yang membuat dia marah karena “culture” kehidupan yang berbeda, seperti dalam  masyarakat Banjar memarahi orang Banjar di depan umum atau ada orang lain karena kesalahan yang dilakukannya, maka itu akan menimbulkan perasaan marah yang mendalam (dendam) kepada orang yang dimarahi tersebut, yang dalam penelitian bisa menyebabkab terjadinya pembunuhan.

Sahabat ! begitu banyak contoh yang bisa kita ungkapkan terhadap kondisonal dan relatifitas yang menyebabkab suatu “rasa” terjadi, oleh karena itu untuk dapat mengetahui rasa maka paling tidak ada dua metode yang bisa kita lakukan, yaitu pertama, kita bisa merasakannya secara langsung dengan mengalaminya secara langsung, kedua kita bisa belajar merasakan apa yang dirasakannya dengan membayangkan kita berada pada situasi dan kondisi yang sama, seperti yang dikatakan oleh Adam Smith di atas.  Selebihnya pada setiap kita mempunyai kemampuan untuk selalu merasakan terhadap apa yang orang lain rasakan, hal ini akan menimbulkan kepekaan pada perilaku  untuk berbuat yang sama atau tidak berbuat yang sama untuk menjalani kehidupan yang harmonis.

Sahabat ! pada saat kita mampu merasakan dan terus belajar untuk mampu merasakan yang orang lain rasakan dalam setiap kejadian atau moment apapun dalam kehidupan ini, maka kita akan menjadi orang yang tidak terbawa kepada pola fikir “hitam putih” atau “benar salah” yang cenderung membenarkan atau menyalahkan, melainkan menjadi orang yang bijak  atau “wise”. Orang yang bijak sudah mampu keluar dari ego penonjolan diri sendiri, ia mempunyai kemampuan mengalah, ia mampu memenangkan orang lain, ia mampu berada di belakang dan menjadi orang yang tak terlihat dalam suatu kesuksesan orang lain, ia mampu tersenyum walaupun sesungguhnya ia harusnya menangis, ia mampu tidak mengambil lebih dari perannya yang sebenarnya mendapat lebih, bahkan ia mampu menerima cercaan demi mempertahankan kebenaran dan keyakinannya, dan sungguh ia mampu berdoa untuk kebaikan orang yang sebenarnya menjalimi dirinya.

Sahabat ! begitulah orang yang bijak yang muncul dari sikap dan kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain, seperti yang dikatakan Mas Petir, kita tidak perlu membasah untuk menjadi basah, tapi cukup belajar dari keringat yang basah dari rakyat kita yang sekarang berjuang hidup, sehingga kita menjadi tidak tega memberi harapan atau janji kepada rakyat kita yang kita tahu bahwa harapan dan janji itu tidak mungkin kita wujudkan, karena kitapun bisa merasakan betapa sakitnya di beri harapan palsu.

TERIMAKASIH MAS PETIR ATAS KIRIMAN PUISINYA

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *