Inspirasi

“LOGIKA AKU ADALAH KITA ?”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, sewaktu saya memposting kata-kata “SAHABAT ! AKU INI ORANG BIASA, TAPI KALAU AKU LUAR BIASA, ITU JUGA KARENA SAHABAT YANG LUAR BIASA, SESUNGGUHNYA AKU ITU ADALAH KITA” salah seorang sahabat muda yang lagi study program doktor di Ausi (Lena Hanifah) memberikan komentar “I am ordinary, but my support system is extraordinary”.  Dari sinilah ijinkan saya membahas yang saya sebut sebuah logika “aku adalah kita”, yang setelah sahabat menyimaknya silahkan berkomentar  atau berpendapat apakah logic atau tidak yang saya kemukakan ini.

Sahabat ! kalau kata-kata diatas, saya masukan kedalam sebuah konsep proposisi, maka layaknya sebuah proposisi pernyataan didalamnya harus dapat dinilai benar dan salahnya secara logika berfikir, sehingga pada saat saya menyebutkan SESUNGGUHNYA AKU ITU ADALAH KITA mesti bisa dijelaskan secara “order of logic” (baca=keteraturan dalam berfikir) mengapa kata aku yang bersifat personal menggambarkan satu individu menjadi kita yang bersifat jamak menggambarkan kelompok atau orang-orang yang ada disekitar kita.

Sahabat ! pada saat kita melihat eksistensi diri kita sebagai sosok individu yang mandiri, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki dan melekat sombol-simbol biologis, sosial dan materi serta ekonomis yang melekat pada diri kita, maka saat itu muncul sifat “ke akuan” kita, bahwa si “aku” itu telah sukses, si aku telah berhasil, si aku telah berkuasa, si aku telah kaya raya, si aku telah berilmu, si aku adalah cerdas, si aku siganteng, si aku si cantik, si aku si terkenal dan seterusnya.  Aku yang muncul disini telah menunjukan penonjolan diri akan sederet “label” yang melekat padanya, dan untuk kondisi ini adalah sah-sah saja dan kemudian kita berbangga diri atas semua label tersebut.

Sahabat ! sebaliknya pada saat kita menempatkan diri kita ditengah-tengah aku-aku yang lain (baca=orang lain yang ada disekitar kehidupan kita) maka akan memberikan ruang kesadaran bahwa sesungguhnya si aku begini itu karena ada orang lain yang membantu aku, atau aku bisa begini karena ada pihak lain yang berperan menjadikan aku begini tersebut.  Oleh karena itu saat kita berhasil dalam pendidikan, maka disitu ada peran atau jasa guru-guru kita, pada saat kita sukses, maka ada banyak orang yang mengantarkan kita jadi sukses, pada saat kita kaya, maka ada banyak orang yang membantu kita untuk menjadi kaya tersebut, pada saat kita terkenal, maka ada jasa sahabat yang menjadikan kita terkenal dan seterusnya… Atau dalam hal apa yang kita makan nasi pun, disana ada jasa para petani yang menghasilkan beras tersebut dan semua pihak yang menjadi rangkaian produksi dan pengolahannya sehingga sampai kemeja makan kita.

Sahabat ! penonjolan si “aku” ini terkadang mengantarkan orang pada sifat keakuan, artinya kebanggaan diri dan kebanggaan diri yang berlebihan bisa menjerumuskan kita pada sifat sombong dan juga tidak bisa menghargai orang lain, sementara itu disisi lain penonjolan “kita” memberikan penyadaran akan begitu besarnya peran orang lain dalam kehidupan kita tersebut . Oleh karena itu secara ekstrem keduanya bisa melahirkan yang bertolak belakang, keakuan melahirkan sikap “congkak atau sombong”, sementara “ke-kita-an” bisa melahirkan sikap ketidakberartian personal dalam kehidupan.

Sahabat ! untuk itulah saya lebih memilih jalan-jalan tengah dalam kehidupan ini untuk menciptakan harmoni, konsep AKU telah melegitimasi secara jujur bahwa setiap apapun yang kita dapatkan dalam kehidupan ini, semuanya adalah hasil perjuangan kita, namun perjuangan kita tidak akan berhasil tanpa bantuan orang lain.  Inilah sikap yang objektif dan fair dalam kehidupan menjadi perpaduan AKU dan KITA, sehingga aku menjadi kita dalam menyikapi keberhasilan kehidupan melahirkan sikap yang rendah hati dan peduli bagi sesama, “AKU MEMANG SUKSES, TAPI KESUKSESANKU TERCAPAI ATAS JASA ORANG LAIN”.

Sahabat ! bagi saya tidak sampai disitu saja cara berfikirnya, pembuktian proposisi juga mesti menyentuh dimensi spritual, karena dalam setiap keberhasilan AKU dan KITA tersebut terdapat campur tangan KEKUASAAN YANG MAHA KUASA, karena sesungguhnya apapun pencapaian aku dan kita tersebut pada dasarnya adalah RAHMAT dan ANUGERAH dari YANG MAHA KUASA.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *