Inspirasi

“FILOSOFI AKAR POHON ?”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, dalam edisi tayangan pernah saya tuturkan filosofi pohon dan tiang listrik yang terinspirasi dari sahabat Prof. Wayan Windiya saat saya jadi peninjau pada pertemuan Asosiasi Pengajar Hukum Adat di Denpasar,  kala itu beliu mengatakan filosofi pohon itu “semakin tinggi semakin rindang dan menaungi” tidak menjulang ke atas. Maknanya semakin (baca = meningkat) apapun kita dalam kehidupan ini,maka semakin bermanfaat dan mengayomi atau melindungi bagi sesama, kalau menjulang ke atas seperti tiang listrik yang menggambarkan sikap sombong dalam kehidupan.

Sahabat ! coba kita perhatikan lagi gambaran sebuah pohon, dari jarak pandang yang sedang (tidak jauh dan tidak dekat), maka paling tidak secara umum kalau kita mendapatkan gambaran sebuah sosok pohon, yang tersusun dari struktur bawah tengah dan atas. Dari bawah ada akar, ditengah ada batang, diatasnya lagi ada dahan, diatasnya lagi ada ranting dan diranting ada daun-daun, dan dari sekian gambaran tersebut terdapat komponen yang tidak kita lihat yaitu akar, karena akar ini tersembunyi di dalam tanah.

Sahabat ! dari sinilah saya kemudian tertarik pada akar pohon yang tersembunyi dalam tanah, walaupun tidak kelihatan akar ini posisinya sangat penting dalam struktur sebuah pohon karena tumbuh dan berkembangnya pohon itu justeru tergantung kepada akar ini, karena dialah yang menghisap asupan makanan untuk didistribusikan ke batang, dahan, ranting dan daun, dialah pula yang menjadikan pohon tegak kuat berdiri dengan kokoh.

Sahabat ! dengan posisi strategis itulah akar ini menjadi konstruksi dalam teori teori sosial  untuk menganalisa permasalahan sosial, yaitu melihat kepada akar masalah kenapa masalah sosial itu muncul, tanpa melihat akar masalahnya, maka usaha pengendalian sosial atas permasalahan sosial itu menjadi kurang efektif. Seperti kenapa seseorang melakukan kejahatan ? maka untuk menjawabnya diperlukan kajian yang utuh terhadap penyebab kejahatan itu sampai kepada akar masalah yang menyebakan seseorang melakukan kejahatan. Dengan mengetahui akar masalah inilah kemudian kebijakan sosial bisa diambil untuk mengatasinya secara tepat dan akhirnya membangun kesadaran untuk mengintegrasikan semua kebijakan menjadi satu tujuan penyelesaian yang komprehensif, disamping itu akan menyadarkan kita juga sesungguhnya menghukum dengan mempidana pelaku kejahatan tak lebih hanya memotong ranting pohon saja, sehingga besok ranting itu akan muncul lagi.

Sahabat ! begitu pula dalam kehidupan kita bertutur, kalau terjadi permasalahan dalam kehidupan kita, maka sangat bijak kalau kita mencari akar masalahnya, seperti kalau kepala kita sakit  maka carilah sumber yang menyebabkab kita sakit tersebut, kalau ada permasalahan keluarga maka carilah akar masalahnya kenapa masalah keluarga itu muncul, kalau ada permasalahan hubungan bisnis maka carilah akar masalahnya kenapa masalah bisnis itu muncul dan seterusnya. Dengan akar masalah yang kita cari, karena akan menghantarkan kepada pemahaman bahwa dari akar masalah inilah bermula masalah itu timbul, sehingga dengan menemukan akar masalah tersebut kemudian kita bisa melakukan langkah-langkah penyembuhan dan pengendalian tepat pada sumbernya.

Sahabat ! bagi kita yang terbiasa berfikir melihat masalah dari akarnya tersebut, akan menjadikan kita lebih bijak dalam melihat setiap permasalahan yang muncul dan tidak terjebak berfikir dan menilai secara hitam putih dari gejala yang muncul pada setiap perilaku, sebagaimana layaknya pohon, maka batang, dahan, ranting dan daun tak lebih dari gejala yang muncul yang terlihat oleh kita, namun sesungguhnya apa yang terjadi justeru tersembunyi di akar masalahnya.

Sahabat ! dari kesadaran akan “akar masalah” inilah kita bisa lebih bijak dalam menyikapi setiap masalah yang timbul dan bijak pula dalam menanggulanginya.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *