Bisa Buat Liburan, Jembatan Kaca Bromo Seruni Point Sudah Dibuka

Probolinggo, DUTA TV – Jembatan Kaca Bromo Seruni Point di kawasan Seruni Point, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, resmi memasuki tahap pre-launching pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo membuka akses wisata baru tersebut untuk masyarakat umum sebelum pelaksanaan grand launching pada akhir Juli 2026.
Agenda tersebut menjadi penanda pengoperasian penuh destinasi wisata yang digadang-gadang menjadi ikon baru kawasan Bromo.
Wisatawan yang ingin menikmati wahana tersebut saat ini sudah dapat berkunjung setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB, melansir laman Pemerintah Kabupaan Probolinggo, Senin, 29 Juni 2026.
Pengelola menetapkan harga tiket masuk sebesar Rp 55 ribu untuk wisatawan domestik dan Rp 110 ribu bagi wisatawan mancanegara.
Jembatan Kaca Bromo Seruni Point menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia yang dibangun di kawasan pegunungan.
Infrastruktur wisata ini memiliki panjang sekitar 130 meter dan membentang di atas jurang dengan kedalaman mencapai 83 meter.
Dari atas jembatan, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru dalam satu kawasan.
Pemerintah berharap keberadaan wahana tersebut mampu menambah daya tarik wisata, sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan di Kabupaten Probolinggo.
Sebelum dibuka untuk umum, Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Pemerintah Kabupaten Probolinggo, serta Forkopimka Sukapura melakukan pemeriksaan kelayakan fasilitas.
Pemeriksaan mencakup aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kesiapan operasional. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Geoteknik, Terowongan dan Struktur (BGTS) Kementerian PU Agung Wahyudi mengatakan, konstruksi jembatan tersebut dirancang bisa beroperasi hingga 50 tahun.
“Lantai jembatan menggunakan laminated glass berbahan tempered glass dengan lapisan SentryGlass Plus (SGP) setebal 25,52 milimeter. Material tersebut telah melalui berbagai pengujian laboratorium, termasuk uji beban statis maupun simulasi operasional,” ujar Agung.
Ia mengklaim, material yang digunakan telah memenuhi standar teknis sehingga mampu mendukung aktivitas wisatawan dalam jangka panjang.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi menyambut pembukaan tahap awal operasional tersebut.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk terus mempromosikan seluruh potensi wisata yang kita miliki.
“Tanpa dukungan masyarakat, promosi dan pengenalan objek wisata tidak akan berjalan maksimal,” ujar Heri.
Ia menilai peningkatan kunjungan wisatawan dapat berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pemerintah juga mendorong pengelola menjaga kualitas layanan, kebersihan kawasan, kelestarian lingkungan, serta melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat lokal.(lip6)





