Baru Dibangun 2025, Jembatan di Sebatik Rusak Diterjang Banjir

Nunukan, DUTA TV – Jembatan Sungai Batang di Desa Tanjung Karang, Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara rusak sejak Minggu (26/7/2026) usai diterjang banjir.
Jembatan penghubung Desa Tanjung Karang dengan akses utama menuju pusat Kota Sebatik ini tak lagi bisa dilalui mobil.
Bagian sayap jembatan patah sementara jalan di sekitar amblas sekitar 2 meter.
“Saat kami melihat langsung ke lapangan, motor dari arah kota harus diangkat tinggi tinggi dengan beramai-ramai ke atas jembatan.
“Jalan amblas, menjadikan jembatan beton berada di posisi lebih tinggi, sehingga orang dan barang harus dilangsir,” ujar Anggota DPRD Nunukan Hamsing, melalui sambungan telepon, Rabu (29/7/2026).
Kerusakan jembatan yang dibangun pada 2025 melalui APBD sekitar Rp 600 juta ini juga berdampak pada petani kelapa sawit dan anak-anak sekolah.
“Kalau berangkat sekolah, anak-anak diantar orang tuanya sampai ujung jembatan. Setelah itu, motor diturunkan beramai-ramai oleh masyarakat ke bawah jembatan agar bisa melanjutkan perjalanan menuju sekolah,” imbuh Hamsing.
Hamsing menyesalkan lambatnya respons Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) atas kondisi dimaksud. Ia menyoroti soal perencanaan pembangunan jembatan beton Sungai Batang.
Sebab, saat ini sayap jembatan patah akibat tak mampu menahan derasnya arus sungai.
“Seharusnya sebelum jembatan dibangun survey lokasi dulu. Tanya masyarakat bagaimana saat banjir dan lainnya. Ini belum setahun, sudah rusak begini. Mubazir APBD kita,” sesalnya.
Kondisi ini berpotensi merugikan petani sawit dan masyarakat secara luas. Ia melanjutkan, sebelum keberadaan jembatan beton, dulunya di Sungai Batang memang hanya ada jembatan kayu.
Kendati demikian, masyarakat tak pernah kesulitan melewati daerah tersebut.
Meski banjir melanda dan air sampai melewati atas jembatan, masyarakat tinggal menunggu surut sebentar dan bisa melintas seperti biasa.
“Lah ini dibangun permanen, jembatan beton, tapi malah cepat rusak dan masyarakat rugi. Buah sawitnya bakal busuk kalau jembatan tak bisa segera dilewati. Anak sekolah juga terkendala akses jalan,” bebernya.
Kades Tanjung Karang, Faisal mengakui, saat ini masyarakat sudah mulai mempertanyakan lambannya respons Pemkab Nunukan menyikapi rusaknya jembatan.
“Kita berharap ada tindakan cepat karena ada yang urgen, termasuk hasil panen kelapa sawit masyarakat yang terancam membusuk akibat jembatan rusak,” kata Faisal.(kom)





