Pra Biennale Hadirkan Cerita Dan Budaya Lewat Seni Rupa “Sebuah Hidangan”

Banjarmasin, Duta TV — Makanan menjadi bahasa yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Dari proses menanam, mengolah, memasak, hingga menyajikannya, setiap tahapan menyimpan cerita tentang kebudayaan, lingkungan, sejarah, dan hubungan sosial masyarakat Kalimantan. Perspektif inilah yang diangkat dalam Pra Biennale Kalimantan 2026, di Taman Budaya Kalsel, sejak 12 hingga 24 Agustus 2026.
Mengusung tema “Sajian/Makanan sebagai Bahasa Pertama”, pameran seni rupa ini mengajak publik melihat makanan lebih dari sekadar hidangan di atas meja.
Makanan dipandang sebagai pintu masuk untuk memahami identitas dan kehidupan masyarakat Kalimantan.
Melalui karya seni, para seniman mengeksplorasi berbagai makna yang berada di balik makanan, termasuk tradisi, hubungan dengan alam, kehidupan sosial, hingga penghormatan kepada leluhur.
Pra Biennale Kalimantan 2026 tidak hanya menampilkan karya berupa lukisan. Beragam medium digunakan seniman untuk menyampaikan gagasan, mulai dari instalasi, art printing, fotografi arsip, art video, hingga karya berbasis riset.
Pendekatan tersebut membuat makanan tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi menjadi bagian dari cerita dan pengalaman budaya yang lebih luas.
“Untuk konsep pameran itu kan temanya sajian sebagai bahasa pertama, kita mengangkat hal yang paling dekat dengan kehidupan, dari proses menanam, mengolahnya, dan proses kita memasaknya di dapur. Konsep sajian ini tidak hanya untuk makhluk hidup, tapi juga sebagai bentuk representasi kita kepada leluhur dan alam, kita bebas menginterpretasikan sajian ini,” jelas Dita Ayu, Kurator Pra Biennale Kalimantan 2026.
Sebanyak 37 seniman terlibat dalam pameran ini. Terdiri dari lima seniman undangan dan 32 seniman yang terpilih melalui mekanisme open call.
Para seniman dijaring dari berbagai wilayah Kalimantan, mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Barat. Keterlibatan seniman lintas wilayah ini menjadi bagian dari upaya membangun ruang seni rupa bersama di Kalimantan.
Bagi pengunjung, kehadiran karya-karya tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati seni, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya lokal yang dapat memiliki nilai ekonomi dan berpeluang dikenal lebih luas.
“Karya ini baru pertama di sini dan mengusung konsep lokal kedaerahan. Karyanya keren-keren, bisa menghasilkan cuan kalau dijual dan bisa juga ke mancanegara,” ucap Raihana Pratiwi, salah seorang pengunjung.
Melalui Pra Biennale Kalimantan 2026, makanan ditempatkan sebagai bahasa pertama untuk memahami bagaimana masyarakat membangun identitas, menjaga tradisi, serta merawat hubungan dengan lingkungan dan leluhur. Dari sajian yang hadir di meja makan, seni kemudian membuka cerita yang lebih luas tentang wajah kebudayaan Kalimantan.
Reporter: Nina Megasari





