Platform Medsos Batasi Konten Israel-Palestina

Jakarta, DUTA TV — Platform media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram, hingga Twitter serta aplikasi berbalas pesan WhatsApp dan Telegram membatasi penyebaran konten terkait konflik Israel dan Palestina.

Meski dianggap mengganggu kebebasan berpendapat, para platform medsos menganggap kebanyakan konten konflik Israel dan Palestina yang muncul mengandung unsur hoaks.

Salah satu contoh hoaks adalah dalah video pernyataan juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ofir Gendelman. Dalam video 28 detik, Ofir mengatakan Palestina meluncurkan serangan roket ke Israel dari daerah padat penduduk.

Lihat Juga :  Supian HK - "Jelang PSU, Stop Informasi Menyesatkan di Medsos"

Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, video tersebut bukan dari Gaza. Bahkan video tersebut merupakan video lama tahun 2018. Menurut keterangan pada versi lama video, tayangan tersebut menunjukkan militan menembakkan roket dari Suriah atau Libya.

Informasi palsu tersebut termasuk video, foto, dan klip teks yang konon berasal dari pejabat pemerintah di wilayah tersebut, dengan postingan tanpa dasar yang mengklaim awal pekan ini bahwa tentara Israel telah menginvasi Gaza, atau bahwa massa Palestina akan mengamuk melalui pinggiran kota Israel.

Lihat Juga :  Supian HK - "Jelang PSU, Stop Informasi Menyesatkan di Medsos"

Analisis oleh The New York Times melaporkan kebohongan atau kabar hoaks telah diperkuat karena telah dibagikan ribuan kali di Twitter dan Facebook, menyebar ke grup WhatsApp dan Telegram yang memiliki ribuan anggota.

Efek dari informasi yang salah berpotensi mematikan. Para ahli disinformasi mengatakan ini dapat mengobarkan ketegangan antara Israel dan Palestina saat kecurigaan dan ketidakpercayaan meningkat.

Lihat Juga :  Supian HK - "Jelang PSU, Stop Informasi Menyesatkan di Medsos"

Hingga berita ini diturunkan, pihak Twitter, TikTok, Facebook, Instagram dan WhatsApp, tidak menanggapi permintaan komentar. Sementara Christina LoNigro, juru bicara WhatsApp, menyatakan perusahaan telah membatasi berapa kali orang dapat meneruskan (forward) pesan sebagai salah satu cara menekan informasi hoaks.(cnbci)

Follow Me:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *