Lawan Hoaks di Era Digital, Kominfo Kalsel Perkuat Satu Narasi Komunikasi Publik

Banjarmasin, Duta TV — Derasnya arus informasi di era digital membawa tantangan baru bagi pemerintah daerah. Selain mempercepat penyebaran informasi, media sosial juga menjadi ruang yang rawan dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, disinformasi hingga opini yang dapat memengaruhi kepercayaan publik.

Untuk memperkuat kemampuan aparatur dalam menghadapi tantangan tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Selatan menggelar Public Communication Summit 2026 bertema Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi Daerah di Era Digital.

Forum ini menghadirkan praktisi komunikasi, media sosial, serta unsur pemerintahan guna membahas strategi menghadapi penyebaran informasi yang tidak akurat, sekaligus membangun komunikasi publik yang lebih efektif.

“Memberikan banyak kiat-kiat strategi kita untuk menyampaikan komunikasi, ya, dan yang paling penting juga adalah kita harus membuat responsnya yang positif terhadap apa pun yang disampaikan pemerintah. Intinya itu. Oleh karena itu, hari ini saya kira dengan para narasumber yang luar biasa, semua peserta kayaknya tidak beranjak dari tempatnya. Ini menunjukkan bahwa mereka haus terhadap bagaimana mengomunikasikan sebuah isu tadi, menanggapi isu tadi, ya, dengan cara-cara yang tentu lebih positif. Dan ini saya kira menjadi sebuah upaya kita dalam meningkatkan komunikasi publik kita terhadap masyarakat. Pertama, di saat ini begitu gencarnya di media-media, apakah itu media-media sosial, media-media online, dan sebagainya. Nah, inilah kami berharap hasil ini, ya, kita akan meningkatkan bagaimana tim untuk mengakselerasi agar satu apa istilahnya tadi, satu narasi tadi, ini dapat kita sampaikan kepada masyarakat, ya, tentu dengan data-data yang kita miliki secara akurat, dan menyikapinya juga dengan santun sehingga kepercayaan publik ini semakin baik,” ucap H. M. Muslim, Kadiskominfo Kalsel.

Selain membangun satu narasi pemerintah, kecepatan merespons informasi yang beredar juga menjadi perhatian para narasumber. Praktisi dan influencer media sosial, Jojo S. Nugroho, menilai hoaks yang tidak segera ditanggapi sering kali berkembang menjadi opini yang sulit diluruskan.

“Karena itu kemudian penting dari komunikasi publik dari pemerintah daerah ataupun provinsi untuk kemudian menyampaikan data dan fakta yang sebenarnya. Ketika hoax diberi dari masyarakat, itu harus segera direspons dengan cepat. Masalahnya kan tadi itu, ketika misalnya kita sering kali sulit membedakan antara mana kritik dan mana serangan dari buzzer, gitu. Nah, itu yang tadi saya bilang, kesalahan sering kali kesalahan kita kan menganggap serangan adalah kritik, atau sebaliknya, kritik adalah serangan, gitu loh. Memilah informasi mana yang menjadi kritik buat pemerintah provinsi, apa itu, apakah itu memang untuk menjatuhkan,” ucapnya.

Sementara itu, Plt Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Subhan Nor Yaumil, menyoroti maraknya akun anonim dan akun palsu yang kerap menyebarkan informasi negatif di media sosial. Menurutnya, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri karena identitas penyebar informasi sulit ditelusuri, sementara konten yang disebarkan sering kali cepat mendapat perhatian publik.

“Nah, jadi eh hari ini kegiatan kita adalah Public Communication Summit 2026. Nah, di kegiatan ini mengusung tema Sinergi Pengelolaan Isu dan Reputasi Daerah di Era Digital. Nah, seperti yang kita ketahui bahwa eh era digital ini kan sangat bebas, siapa pun bisa berinteraksi di sana. Nah, hanya saja eh tadi sudah disampaikan oleh narasumber juga, berkaitan dengan identity, berkaitan dengan identifikasi eh siapa yang turut bermain di dalam eh media sosial itu. Nah, ini mungkin perlu ke depannya itu kontrol. Nah, sehingga kan seperti kita ketahui kan media sosial ini banyak eh memberikan informasi, misalnya pemerintah provinsi, memberikan informasi yang tentu eh dalam tanda kutip selalu negatif,” ujar Subhan.

“Tetapi, pas kita identifikasi siapa itu yang memberikan informasi, kita tidak bisa masuk karena akunnya fake, ya kan? Nah, karena yang memberikan informasi itu follower-nya kada, kemudian apa namanya eh informasi yang mereka berikan berkaitan dengan eh apa eh upload-upload-nya juga, juga kada ya. Nah, tetapi ada memang akun yang, yang apa namanya eh kayanya menggiring, menggiring masyarakat ke arah eh pemberitaan yang negatif. Karena kalau kita amati ini lah, ya kan, informasi negatif itu lebih cepat direspons. Nah, yang meresponsnya ini belum tentu juga akun yang, nah ini, nah ini disampaikan oleh narasumber,” sambungnya.

Berbagai materi menarik dalam Public Communication Summit 2026 disampaikan secara interaktif dengan moderator Diana Rosianti dari Duta TV. Kegiatan ini ditarget mampu memperkuat kapasitas komunikasi publik pemerintah daerah, sekaligus membangun sinergi dalam menjaga reputasi Kalimantan Selatan di tengah dinamika era digital.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti, Mawardi

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *