Inspirasi

“PERPADUAN HEAD HEART HAND YANG DINAMIS  ?”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, perjalanan saya ke Nganjuk pada resepsi perkawinan anak sahabat Mawadan 87 Bambang Sentano menjadi ajang silaturahmi kami alumni Mahasiswa Teladan Nasional Tahun 1987, oleh karena itu disamping melepas “kerinduan” dengan sahabat dan ikut berbahagia dengan perkawinan anak sahabat, juga terjadi perbincangan-perbincangan yang inspiratif diantara kami yang berasal dari berbagai macam profesi.  Salah satu perbincangan kami adalah menyoroti dunia pendidikan berkisar antara subtansi dan metode pembelajaran di sekolah, maklum salah seorang sahabat kami adalah perancang kurikulum 2013 Tjipto Sumadi dan praktisi pendidikan AT Sugeng Priyatno, Petir Pudjantoro, Satria Bijaksana, Purnomo dan Gede  Raka.

Sahabat ! pembicaraan di awali dengan keprihatinan terhadap sebagian kondisi anak didik yang rapuh moral etikanya dan juga kemajuan teknologi informasi yang “memecah atau menghancurkan”  model menghapal, karena semua informasi ada dalam genggaman, disamping terdapat kesenjangan (gap)  guru yang dididik dan dilahirkan pada zaman “old” sedangkan muridnya berada pada zaman “now” yang menyebabkan ketidak singkronan pemahaman antara guru dengan murid, dan masih ditemukan kasus Guru melarang siwanya membawa HP saat pembelajaran.

Sahabat ! sesungguhnya pendidikan itu selalu beranjak dari “triangle” atau segi tiga yang utuh, yaitu yang disebut “head”, “heart” dan “hand”. “Head” itu sebagai simbol pembelajaran ditujukan untuk mencerdaskan otak atau sering yang kita sebut “pintar”, oleh karena itu proses pendidikan akan menjadikan seseorang menjadi pintar, dan yang jadi masalah adalah konsep kepintaran itu sendiri, kalau dahulu kepintaran sering di-identikan dengan hafalan sehingga tolaok ukur kepintaran diukur pada penguasaan hafalan dari anak didik, semakin banyak yang dia hafal, maka dikatakan semakin pintar.  Masih ingatkan sahabat acara “cerdas cermat” yang substansinya banyak untuk menjawab hafalan, dan ternyata dengan perkembangan teknologi informasi sekarang ini, hal-hal yang bersifat hafalan sudah tersedia dalam genggaman, dan dampaknya dipertanyakan untuk apa lagi menghafal tersebut.

Sahabat ! “heart” adalah simbol hati, yang berarti pendidikan ditujukan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moralitas serta spritualitas siswa, proses penanaman ini sebagaimana layaknya pendidikan kecerdasan otak maka juga ada proses peningkatan pengetahuan, pemahaman dan penghayatan akan nilai-nilai tersebut, wujud dari pendidikan disisi heart ini akan terlihat dari perilaku yang beretika dan bermoral serta kepatuhan terhadap ajaran agama.  Begitu pentingnya sisi “heart” ini, kita mendapati istilah populer di masyarakat bahwa “mudah mencari orang pintar, tapi susah mencari orang yang berintegritas”, bahkan akan dinilai berbahaya hasil kecerdasan otak akan mencetak kemampuan menghasilkan riset dan pemikiran yang akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri kalau tidak diimbangi dengan etika, moral dan integritas tersebut, lihat sejarah bagaimana seorang Alfred Nobel seorang kimiawan, insinyur dan pebisnis yang berasal dari Swedia yang dengan kecerdasanya berhasil menemukan dinamit.

Sahabat ! simbol hand (tangan) adalah proses pendidikan yang melahirkan kecakapan atau keterampilan dari seseorang, oleh karena itu pendidikan akan mampu melahirkan manusia terampil diberbagai bidang kehidupan, keterampilan inilah yang menjadi fortofolio dari seseorang pada saat memasuki dunia kerja, seperti dibidang industri, bisnis dan perdagangan serta komunikasi.  Semakin terampil seseorang dengan menguasasi berbagai bidang maka di era “multitasking” sekarang ini semakin disukai oleh dunia industri, karena bisa menekan biaya produksi, ambil contoh saja di indutri televisi yang dulunya produski siaran dilakukan oleh kameramen dan jurnalis/reporter, terus diolah ke editor serta memasukan suara, kemudian baru tayang dan atau dibawakan oleh presenter yang mana pada bidang-bidang itu dikerjakan sendiri-sendiri oleh bidang keahlian itu, sekarang di era multitasking, seorang jurnalis juga menulis naskah, juga editor dan sekaligus presenter, sehingga lebih cepat dan hemat.

Sahabat ! kita sadar dan sepakat bahwa pendidikan itu dalam proses pendidikannyapun juga bisa menggunakan instrumen yang menggunakan atau menggerakan ketiga hal tersebut, head, heart dan hand sehingga pembelajaran menjadi menarik. Dan yang lebih penting lagi out dari pendidikan itu akan menghasilkan manusia yang seimbang antara kecerdasan, integritas dan keterampilan sebagai tujuan yang ideal, namun keseimbangan ketiga hal tersebut bisa saja bersifat dinamis.

Sahabat ! keseimbangan dinamis yang saya maksudkan adalah titik pertemuan yang bergerak dan tidak mengarah kepada satu titik yang ektrem, baik ektrem ke “head” atau ke “heart” atau ke “hand”, artinya titik temu yang mempertemukan ketiganya walaupun tidak persis pada titik yang ditengah-tengah atau ekstrem tengah.

Lantas bagaimana dengan hasil pendidikan yang sahabat rasakan sendiri pada posisi sekarang, berada pada titik keseimbangan yang seperti apa ?

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *