Kisah Inspiratif Mertua dan Menantu

Terdapat seorang anak laki-laki yang sangat mencintai ibunya, mereka pun tinggal berdua bersama-sama. Sampai satu ketika, sang anak menemukan belahan hatinya, sesosok wanita cantik yang dipilihnya menjadi seorang istri atas izin ibunya.

Singkat cerita mereka pun menikah dan tinggal bertiga bersama dengan ibu nya satu atap dalam sebuah rumah yang sebelumnya menjadi tempatnya dengan ibunya.

Hari demi hari, waktupun telah berganti, dua orang wanita yang hadir dan mencintai satu laki-laki yang sama dengan porsi nya, sebagai seorang ibu dan seorang istri.

Sang ibu yang mengetahui apa saja yang disukai oleh putranya, terus memberikan masukkan agar sang menantu yakni istrinya bisa menyesuaikan dengan apa yang sebenarnya disukai oleh sang suami. Apa saja yang dilakukan oleh istri, selalu ada celah nasihat atau pun komentar yang mencuat dari mulut sang ibu, yang kini merupakan mertua bagi sang wanita tersebut.

Sang menantu ini merasa tidak suka dengan mertuanya, menurutnya dia merasa terkekang, merasa terbebani dan membenci akan figur ibu yang menjadi orang yang selalu ikut campur dalam biduk rumahtangga mereka. Sampai satu ketika, memuncaklah kebencian sang menantu dengan mertuanya.

Diputuskannya untuk datang menemui seorang tabib, agar bisa membuat mertuanya mati dan dia meyakini bahwa dengan kematian mertuanya, hidupnya akan jauh lebih bahagia, lebih tenang tanpa ada yang mengatur ini dan itu dalam hidup nya bersama suami.

Sesampainya dirumah tabib, dirinya dengan menggebu-gebu menyampaikan betapa bencinya dirinya dengan mertuanya yang selalu menyalahkannya, mengaturnya dan membuat dirinya merasa benci akan kehadiran mertuanya. Keinginannya untuk bisa meracuni mertuanya hingga mati disampaikannya kepada tabib yang dengan tenang mendengarkan apa yang menjadi keluhannya.

Sang Tabib berkata,” Wahai Fulanah, ambillah air ini, kemudian teteskan kepada makanan atau air minum mertuamu, namun dengan syarat selama kamu meneteskan ini, ikutilah seluruh nasihat mertuamu, sayangi dia agar mertuamu tidak curiga kepadamu bahwa kamu berniat meracuni nya dan jangan engkau ceritakan kepada suamimu.”

Mendengar pesan yang disampaikan tabib tersebut, wanita itu mengambil dengan cepat air yang diberikan oleh sang tabib dan mengikuti semua peraturannya. Setiap hari, dirinya terus menerus secara sembunyi-sembunyi meneteskan air yang diberikan oleh sang tabib dan tak lupa mengikuti maupun mendengarkan apa yang diperintahkan oleh sang mertua dengan tujuan agar mertua tidak curiga dengan apa yang dilakukannya.

Detik, menit, jam, hari bahkan minggu dan bulan terus menerus silih berganti, setiap harinya masih ia lakukan ritual tersebut agar tujuan membuat sang mertua mati dan dirinya bahagia bersama suami hanya berdua dirumah tersebut. Seketika suatu hari, dirinya ingin kembali meneteskan air tersebut di makanan sang ibu, terdengar suara sang ibu yang berbicara dengan suaminya.
Sang Ibu berkata,”Wahai anakku, kamu sangat tepat memilih istri, dirinya begitu baik terhadapku sekarang, istrimu merupakan sosok yang luar biasa dan aku sangat mencintai menantuku, istrimu wahai anakku.”

Mendengar pesan mertuanya itu, sang wanita itu pecah tangisnya, dirinya langsung keluar rumah dan mendatangi sang tabib agar mendapat penawar dari racun yang telah dirinya berikan selama tiga bulan tersebut.

Setibanya dirumah sang tabib, sang wanita berkata “Wahai Tabib, berikanlah penawar akan racun yang telah kuberikan untuk mertuaku, aku tidak ingin mertuaku mati dan meninggalkan kami, aku telah bersalah wahai tabib berikanlah penawar paling ampuh kepadaku, aku mencintai mertuaku,” tandasnya.

Sang Tabib pun tersenyum dan berkata “Wahai Fulanah, sesungguhnya air yang aku berikan beberapa bulan lalu, hanyalah air biasa, sebenarnya yang racun itu adalah hatimu, yang menganggap semuanya salah dan kebencian menjadi alas bagi hatimu”.

Cerita ini bisa menjadi gambaran bagi kita semua, seringkali kita merasa benar dan mengenyampingkan adab terhadap orang tua atas ilmu yang kita dapat dari buku, internet ataupun munculnya keakuan dari dalam diri dengan berbagai faktor, semoga bisa kita mengutamakan dan mengamalkan adab diatas ilmu.

 

Oleh : Gusti Muhammad Hermawan
Instagram : @gustimuhammadhermawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *