Inspirasi Pemilu Politik

INSPIRASI “KH.MARUF AMIN DAN SANDIAGA UNO” DI BANUA KALIMANTAN SELATAN

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi

Ijinkan kali ini secangkir kopi seribu inspirasi ikut membicarakan dua tokoh yang menjadi pusat perhatian masyarakat kita dan Indonesia sekarang ini yaitu sosok KH.MARUF AMIN dan SANDIAGA UNO, dengan catatan saya tidak ikut “riuh pikuk” sanjungan dari pengagum, atau “cemoohan” terhadap ke dua tokoh ini, melainkan mencoba menarik diri sebagai PENONTON yang mengamati dan menikmati pro dan kontra terhadap keduanya saat mereka berkunjung ke Banua Kalimantan Selatan..

Sahabat ! Bang Sandi (sebutan untuk Sandiaga Uno) masih segar dalam ingatan kita telah berkunjung ke Banua kita dibulan Nopember 2018, diantara beberapa agendanya seperti mengunjungi CBS Martapura untuk melihat dan ketemu masyarakat dan pengusaha pertokoan di CBS, juga sholat Zuhur di Mesjid Alqoramah, dan juga jiarah ke makam Guru Sekumpul. Di Banjarmasin Bang Sandi juga mengunjungi Pasar Terapung dan Siring Piere Tandean dan juga ketemu dalam suatu furom dengan para pengusaha di Banua kita.

Sahabat ! begitu juga Kiyai Maruf (sebutan untuk KH. Maruf Amin) telah berkunjung ke Banua kita akhir Januari 2019 tadi, dengan beberapa agenda, diantaranya jiarah ke Kelampayan, sholat jumat di mesjid Al-qoramah, jiarah ke makam Guru Sekumpul serta puncaknya memberikan tausiah pada Banua Bertablig di Binuang. Disamping itu juga Kiyai Maruf menghadiri kegiatan Nahdatul Ulama (NU) Kal-sel dan silaturahmi dengan beberapa tuan guru di Banua kita.

Sahabat ! kedua tokoh ini telah mengispirasi kita sesuai dengan karakter dan kiprah kehidupan beliau berdua, Bang Sandi meninsprasi pada dunia usaha kita dan bertekad memajukan dunia usaha dan roda ekonomi masyarakat banua, karena bidang ini adalah sesuai dengan keahlian beliau sebagai pengusaha yang sukses. Begitu pula Kiyai Maruf datang dengan kapasitas seorang ulama atau dibanua kita disebut tuan guru, maka beliau bersilaturahmi dengan para tuan guru, bercerita kedekatan beliau dengan Alm Guru Sekumpul serta memberikan tausiah, yang isinya mengajak umat islam bersatu dan jangan terpecah belah hanya gara gara berbeda pilihan dalam pemilu dan jangan mengorbankan “ukhwah” hanya untuk kepentingan pemilu.

KH.Maruf Amin bersama Paman Birin saat Kunjungan di Kal-Sel

Sahabat ! tidak ada satupun yang keluar dari tokoh ini untuk berbicara secara “vulgar” dalam perspektif “kampanye” dalam kapasitas sebagai wakil presiden, tetapi yang ditonjolkan adalah kapasitas yang melekat kepada “profesi” pribadi yang menjadi sepak terjang beliau bedua selama ini, dan inilah yang mengispirasi kita pada bidang bidang tersebut. Bang Sandi MENINSPIRASI memajukan ekonomi dan kesuksesan dunia usaha, sedangkan Kiyai Maruf MENGINSPIRASI kedamaian hidup dari sisi spritual dan pentingnya “ukhwah”. Lantas kenapa kemudian kita menjadi ribut oleh hal-hal yang tidak substansial dari kunjungan kedua orang tokoh tersebut ?

Bang Sandi bersama Redaksi Secangkir Kopi Seribu Inspirasi pada saat suatu sesi wawancara khusus

Sahabat ! dalam “oposisi binary” adalah suatu keniscayaan “hubungan yang dimaknai dan pemaknaannya  bersifat tidak tentu” artinya memaknai suatu objek atau peristewa atau keadaan, setiap orang bisa berbeda pemaknaan atau pemahamannya, sehingga pemaknaan itu bersifat relatif.  Oleh karena itu setiap kita berhak saja memahami memaknai apapun dalam kehidupan ini termasuk kunjungan kedua orang tokoh itu. Adapun yang kurang tepat adalah mengambil makna dan menggeneralisirnya sebagai klaim kebenaran makna tersebut untuk semua orang di banua kita atas pemaknaan yang dilakukannya sendiri itu, dan lebih parah lagi pemaknaan sendiri itu dianggap suatu kebenaran yang di share di media sosial. Ujung-ujungnya dibalik pemaknaan itu justeru kepentingan pragmatis yang sengaja menyesatkan pandangan masyarakat untuk kepentingan  dia dan kelompoknya, untuk ini secangkir kopi hanya mengingatkan kedua tokoh itu perlu kita hormati sebagai pribadi dan sebagai calon wakil Presiden kita, “melecehkan” nya akan menodai kepribadian kita sendiri, terlebih “melecehkan” Kiyai atau Tuan Guru adalah sikap yang jauh dari akhlaknya orang banua kita.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *