Berlomba Citra di Musim Corona

Ketiga, Politisi Koi. Adalah mereka yang lebih senang bekerja dalam tim dan terorganisir dalam bertindak. Politisi ini tidak ingin egois dalam membangun citranya. Dirinya sadar, tanpa dukungan orang lain tidak mungkin dapat berbuat demi kemaslahatan rakyat. Politisi berkarakter Koi juga lebih mengedepankan harmonisasi dalam bertindak, tidak ingin mendominasi apalagi menang sendiri. Politisi Koi cenderung menghindari.
perdebatan panjang dengan politisi lain dan fokus dalam mencari solusi terbaik dalam mengatasi krisis Corona. Siapapun yang mempunyai gagasan serta mampu memberikan kontribusi besar akan didukung tanpa melihat apakah orang itu lawan politiknya atau bukan, yang penting permasalahan Corona segera dapat ditanggulangi. Seperti yang kita tahu, ikan Koi selalu hidup bergerombol dan membentuk kelompok yang solid. Koi berkarakter tenang dan bersahabat. Jika seekor koi dipindahkan ke tempat baru dan menemukan kelompok lain, maka akan langsung diterima dan menyatu dalam kawanan tersebut. Sebab Ikan Koi yang lebih “senior” tidak pernah menyerang Koi yang baru/junior.
Keempat, Politisi Timpakul. Adalah politisi oportunis yang suka cari muka dan melakukan klaim atas prestasi yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain, seolah-olah ingin menunjukkan dirinyalah yang paling berjasa membantu masyarakat, dunia usaha dan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah pelik akibat Corona. Misalnya, jika kebijakan pemerintah dalam menjalankan PSBB menuai banyak kritik, maka politisi ini paling terdepan dalam mengecam pemerintah. Bahkan gemar membuat statement hingga mengadakan konferensi pers guna memberikan komplain kepada pemerintah. Namun jika pada akhirnya kebijakan PSBB berhasil dan menuai pujian, maka dia-lah yang mengaku paling “berkeringat” dalam mendukung pemerintah mengimplementasikan PSBB. Politisi Timpakul juga sangat piawai dalam membaca arah angin perhatian publik dan membangkitkan sisi emosional warganet. Memberikan bantuan sekadarnya, tapi berupaya menjadi viral di media sosial. Kalau perlu ditambahkan polesan gimik dan beberapa setting lensa kamera untuk menambah bumbu dramatisasi pencitraan a la reality show. Politisi ini sangat gemar bertindak populis, menempatkan dirinya seakan-akan paling mengerti dan pro terhadap kepentingan rakyat kecil, serta seolah-olah anti terhadap apapun yang menjadi kebijakan negara/pemerintah daerah yang selalu dianggapnya salah. Padahal sebenarnya dia juga merupakan bagian dari kelompok elit kekuasaan itu sendiri. Politisi seperti ini sangat relevan dengan karakteristik Ikan Timpakul (Mudskipper), yang merupakan satu-satunya ikan yang bisa memanjat pohon. Kemampuannya hidup di dua alam membuatnya dapat bertahan di darat sangat tinggi hingga 7-8 menit sebelum.
Masuk lagi ke air, bahkan hingga 90% waktunya dihabiskan di darat. Karena memiliki kemampuan untuk melompat jauh dan berjalan di atas lumpur, saat dihantam gelombang Timpakul akan melompat ke atas ranting kayu yang mengapung. Jika kayunya tenggelam Timpakul akan melompat ke tempat lain.
Dari keempat tipe pencitraan politisi di atas, kita hendaknya dapat lebih kritis dalam melihat apakah yang politisi lakukan sebagai gambaran realitas atas dirinya ataukah manipulasi belaka agar publik bersimpati. Idealnya pencitraan dibangun dalam waktu yang lama, agar publik bisa merasakan keselarasan antara citra dan karakter bawaan dikeseharian mereka. Kalau politisi itu pemarah, gunakan energi marahnya itu untuk melawan ketidak-adilan. Kalau politisi itu intelek, gunakan intelektualitasnya untuk mencari solusi dan kebijakan-kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah. Kalau politisi itu dermawan, gunakan kedermawanannya untuk senantiasa membantu mereka yang membutuhkan, bukan hanya menjelang pilkada saja, lalu kemudian menghilang dan sulit ditemui setelah terpilih. Rakyat perlu menguji sejauh mana konsistensi citra para politisi ini dapat terus mereka pertahankan. Sebab, politisi sejati akan membangun citranya sesuai dengan kemampuan diri, bukannya ingin menipu rakyatnya sendiri.
Pathurrahman Kurnain (Dosen FISIP ULM & Direktur GLORY Institute)





