Kisah Inspiratif Hubungan Ibu, Istri Dan Anak

Ada seorang ibu yang sedari kecil anak laki-lakinya hingga berusia 30 tahun, selalu menasehati untuk melakukan sholat, karena sholat merupakan tiang agama, sebagai pembeda antara muslim dan lainnya, sebagai tanda orang yang beriman dan menjunjung tiang agama.
Namun sang anak selalu mengindahkan perintah ibunya tersebut. Perintah, suruhan, ajakan secara langsung disampaikan, pun juga tidak dilakukannya. Mendoakan menjadi hari-hari ibunya untuk membukakan keampunan dan gerak hati sang anak untuk bisa sholat.
Sampai satu ketika, anaknya menikah dengan seorang perempuan pilihannya saat usianya 30 tahun. Pasca menikah, mereka memutuskan untuk berbulan madu selama 30 hari dan meninggalkan ibunya. Waktu telah berlalu, 30 hari pasca berbulan madu sebagai seorang suami isteri, maka mereka pun kembali kerumah. Ibunya yang sudah lama tak jumpa dengan anak dan menantunya ini, kemudian datang kerumah anak nya tersebut.
Ketika ibunya memasuki rumah dan kemudian melihat anak laki-laki yang kini jadi isteri menantunya tersebut sedang melakukan sholat, bahkan tidak hanya menjalankan sholat wajib, namun juga sunah dan amal ma’ruf lainnya.
Seketika sang ibu menguraikan air mata dan tertegun, sembari menggenggam tangan menantunya dan mengucapkan terimakasih, karena menantunya sudah mengubah kearah yang lebih baik, serta melakukan sholat yang sudah dipintanya dari kecil hingga sebelum menikah. Sang menantu pun mengucapkan kalimatnya, “Ibu, maukah kau mendengarkan cerita tentang seorang pemuda yang tak mampu memecahkan batu ?”.
“Dahulu, ada seorang pemuda yang mendapati batu besar, yang menghalangi. Sehingga pemuda itu menggunakan kapaknya, sekuat tenaga dan mengeluarkan kemampuannya untuk memecah batu tersebut. Pukulan demi pukulan tak membuat batu terbelah sesuai harapannya. Sampai pada pukulan yang ke-99, pemuda tersebut pun menyerah, sehingga ada seorang pemuda lainnya yang hanya dengan satu pukulan membantu memukul, batu tersebut terbelah. Ibu tau apa isinya ? Harta karun yang melimpah bu, kemudian hal ini dibawa ke Hakim.
Pemuda kedua yang mampu memecahkan batu dengan sekali pukulan tersebut, merasa harta karun tersebut, dirinya lah yang paling berhak, bukan pemuda pertama. Namun Hakim memutuskan bahwa pemuda yang 99kali memukul tersebut lah yang berhak mendapat bagiannya 99{5b1a8e93fac51023fbcea5a31a1f1c34877e15d45a6e19a88118d1d7c5787696}, sedangkan pemuda dengan sekali pukulan tadi, mendapat bagiannya 1{5b1a8e93fac51023fbcea5a31a1f1c34877e15d45a6e19a88118d1d7c5787696} dengan sebab pemuda pertama lah yang sebanyak 99kali memukul sepenuh tenaga lah, ketika dipukulan selanjutnya oleh pemuda kedua, maka batu tersebut pecah.
Begitulah bu, gambarannya untuk putera ibu, saya hanya melanjutkan dan orang baru dalam hidup anak ibu, hanya menjalankan apa yang sudah ibu didik dalam agamanya, pendidikannya, moralnya semuanya. Apa ibu merasa suamiku tidak memikirkan atau terlintas dihatinya akan perkataan ibu? Salah bu, semuanya darimu ibu. Ibulah yang berperan dalam membangun kualitas suamiku, terimakasih ibu, sudah menjadikan suamiku menjadi orang yang memiliki akhlak baik, bahkan aku orang baru yang ada dalam hidupnya pun hanya menjalankan apa yang sudah ibu didik, sedari suamiku dalam perutmu ibu.
Cerita diatas menggambarkan peranan seorang ibu yang luar biasa, refleksi bagi saya bagi kita semua, apapun dan bagaimanapun keinginan menuntut ilmu diluar negeri, luar kota, kehebatan kita dalam bidang profesi yang kita geluti, tak lepas dari peranan seorang ibu.
Bahkan Sayidina Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Jangan gunakan kefasihan bicaramu (mendebat) dihadapan ibumu yang dahulu mengajarimu bicara. Semoga tulisan yang saya tulis hari ini, bisa bermanfaat bagi hari kita semua.
Oleh : Gusti Muhammad Hermawan
Instagram : @gustimuhammadhermawan




