Rocky Gerung Ikut Tanam Pohon Ulin di Arboretum Ayu Tirta

Banjarbaru, DUTA TV — Komentator politik yang juga akademisi, Rocky Gerung, menanam pohon ulin di kawasan Arboretum Ayu Tirta yang dikelola oleh Ayu Tirta Foundation, milik Chendrawan Sugianto, pebisnis air minum dalam kemasan PROF.
Penanaman pohon ulin ini sebagai upaya mengembalikan hak alam dan komitmen untuk masa depan. Tak hanya menanam, dalam kesempatan ini Rocky Gerung juga melihat ratusan jenis tanaman yang berada di hutan mini di atas lahan seluas delapan hektare lebih.
Rocky Gerung mengapresiasi keberadaan arboretum yang memang menawarkan suasana konservasi tumbuhan yang sangat asri dan alami, berdiri di tengah peradaban modern. Rocky juga mengapresiasi upaya Chendrawan Sugianto untuk melestarikan alam, tak hanya sekadar fokus berbisnis.
“Kita berupaya untuk memberi semacam keinginan untuk memuliakan pohon, karena pohon ini adalah sungai vertikal. Ada sungai yang horizontal, tapi ada sungai yang mengalirnya ke atas karena dipanggil oleh matahari. Matahari memaksa kapiler pohon menyerap air, terjadi fotosintesis, ada daun, ada karbo yang diproduksi, ada oksigen. Jadi, pohon itu ekologi paling lengkap,” ujar Rocky.
“Kita bersama-sama dengan Chen yang punya ide, lalu ada Prof Tony berupaya untuk memperlihatkan bahwa masa depan itu ada pada sebatang pohon. Menebang pohon itu artinya membatalkan peradaban. Jadi saya ikut tanam pohon di sini demi Banjarmasin yang hijau, demi Kalimantan yang mulia, dan demi Nusantara yang berbahagia,” sambungnya.
Sementara itu, sang founder Chendrawan Sugianto mengaku arboretum ini adalah bentuk dedikasinya untuk Kalimantan Selatan dengan menyumbangkan oksigen melalui pohon, khususnya pohon ulin yang saat ini sudah sangat langka ditemui.
“Terima kasih sekali Bung Rocky yang telah datang pada pagi hari ini di Bumi Lambung Mangkurat dan telah berkenan juga bersedia menanam pohon ulin. Kenapa pohon ulin yang kita pilih, karena pohon ini adalah simbol kekuatan, mampu bertahan 20 generasi atau lima ratus tahun lebih. Bahkan pohon ulin dikenal lambat tumbuh, tapi jika kita stimulasi ternyata tidak seperti teori satu tahun satu daun. Setelah kita beri media, ternyata kenyataannya berbeda. Kita juga tahu sejatinya bumi ini adalah napas kita semua,” ucapnya.
Dr. Tony Rudyansjah, Ph.D, dosen Antropologi FISIP ULM, berharap tradisi baik seperti ini terus dipertahankan.
“Saya sebagai antropolog tentu saja mengharapkan apa yang menjadi tradisi kita yang baik dalam pengetahuan budaya terus dipertahankan. Justru masyarakat yang hidup langsung dengan alam itulah yang sekarang harus jadi model kita bersama untuk peradaban masa depan,” harapnya.
Arboretum Ayu Tirta sendiri mulai ditanami sejak tahun 2012. Enam hektare lahannya ditanami tanaman keras dan dua hektare lainnya merupakan sawah produktif. Sang founder, Chendrawan Sugianto, mendirikan arboretum ini sejak tahun 2019 yang didedikasikan untuk kedua almarhum orang tuanya. Nama AYU sendiri merupakan singkatan dari nama orang tuanya, Agung dan Yuliana, serta juga didedikasikan untuk Bumi Lambung Mangkurat. Sedikitnya ada 103 spesies tanaman yang berkembang di arboretum ini, bahkan beberapa di antaranya merupakan tanaman langka.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





