Penyesalanku Terhadap Istriku

Aku adalah sosok pemuda tampan dan merupakan seorang pengajar yang masih belum menikah. Suatu ketika diminta oleh ibuku untuk menikahi seorang gadis pilihannya yang menurutku sangat dibawah standardku dan berwajah sama sekali tidak cantik bernama Raihana. Alasan ibuku ingin aku menikahinya karena sudah sejak kecil kami dijodohkan dan untuk menyambung tali persaudaraan.
Akhirnya karena alasan baktiku, aku pun menikahinya. Pada saat acara berlangsung, tabuhan gendang pesta sorak sorai pun dilangsungkan. Raihana tersenyum bahagia bercengkrama dengan tamu undangan yang datang. Sedangkan aku?
Aku benci rasanya, aku tidak suka, dan kenapa aku harus menikah dengannya. Hari demi hari kami pun menjalani bahtera pernikahan. Pernikahan itu bak neraka bagiku, sekalipun Raihana melayaniku, menyiapkan makanku, pakaianku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri Muslimah.
Setiap hari aku harus berpura-pura bahagia hidup dengannya, aku tersenyum dengannya padahal aku sangat membencinya, karena Raihana bukanlah tipe istri yang kuinginkan. Beberapa bulan kemudian aku mulai muak dengan apa yang dilakukan oleh Raihana, aku muak melihatnya menyiapkan makanan bagiku, aku benci melihatnya mengaji dan berada disisiku.
Tindakanku pun kasar dengannya, sikapku dingin begitupun ucapanku. Raihana bersimpuh meminta maaf sembari berkata, “Wahai suamiku, apakah salahku, janganlah kau membiarkanku dan memperlakukanku seperti ini tanpa aku ketahui apa yang menjadi salahku, maafkan aku apabila belum bisa menjadi istri yang baik bagimu.”
Aku pun tidak menggubrisnya, malah sebaliknya kian memuncak benciku terhadapnya.
Enam bulan berselang, Raihana berkata, “Wahai suamiku, aku telah mengandung anakmu, izinkan aku pulang ke rumah ibuku agar aku lebih tenang dan menjaga janinku.”
Mendengar kalimatnya, akupun merasa senang, karena aku tidak lagi melihatnya dan aku bisa sendiri menikmati hidupku tanpa adanya Raihana disisiku. Sepulangnya aku dari mengajar, akupun kehujanan dan merasa sangat lapar. Sesampainya di rumah aku yang biasanya dilayani oleh Raihana seketika berkata dalam hati “seandainya saja ada Raihana”.
Namun pikiran tersebut ku tepis jauh-jauh, karena aku yang menginginkan ketidakhadirannya dan akupun bahagia akan hal ini. Hari ini aku kembali mengajar, setelah itu aku berbincang dengan rekan sesama pengajar. Dia berkata,”Kamu tahu apa yang terjadi ditempat kita mengajar ini ? Ada seorang pengajar yang mengalami nasib buruk yakni diselingkuhi istrinya.â€
Akupun, menjawab kenapa bisa?
“Ya, karena dia memilih istri yang sangat cantik namun beberapa saat kemudian dirinya diselingkuhi olehnya.â€
Akupun berpikir, Raihana yang tidak cantik dan aku yang tidak mencintai Raihana saja, apabila Raihana berselingkuh rasanya aku pasti akan membunuhnya. Bagaimanapun, Raihana adalah istriku, namun kenyataannya Raihana memang tidak seperti itu kataku.
Temanku berkata kembali,”Engkau beruntung mendapatkan istri yang sholehah.”
Kemudian aku tertegun benarkah aku beruntung mendapatkan Raihana istri yang sholehah, benarkah hal tersebut, tanyaku dalam hati.
Keesokan harinya, ada seorang temanku menceritakan tentang hidupnya. Dirinya berkata,”Engkau tahu apa yang terjadi dalam rumahtanggaku ? Aku memilih istri yang cantik, gadis Mesir. Namun nyatanya dia selingkuh dariku, padahal aku menyerahkan seluruh hartaku dan ketika aku bangkrut, aku ditinggalkannya. Maka beruntunglah kau mendapatkan Raihana, sosok istri yang sholehah.”
Akupun merenung dan aku bergegas pulang bermuhasabah dan berdoa kepada Tuhanku. Mendadak aku merindukan sosok Raihana, istriku. Nampaknya dua bulan sudah lamanya, aku ingat betapa sholehahnya Raihana dan betapa kejinya perbuatanku terhadapnya. Sesegeranya aku datang ke rumah mertuaku dan aku mendapati mertuaku menangis dan berkata,”Raihana sudah meninggal seminggu yang lalu karena melahirkan anakmu. Kami berusaha menghubungimu begitu keras namun nihil. Ketahuilah Raihana berpesan terhadapmu,’maafkan aku suamiku, apabila aku tidak bisa menjadi istri yang engkau inginkan, padahal aku sudah begitu keras berusaha, maafkan aku’.”
Akupun menangis sejadi-jadinya dan langsung mendatangi makam Raihana, istriku yang aku cintai. Dipusarannya aku menangis dan meminta maaf atas segala yang telah terjadi.
Kisah diatas mengingatkan kita, bahwa terkadang jalan yang diberikan oleh Allah bisa saja disampaikan melalui orang tua kita dan bisa jadi apa yang kita benci adalah baik bagi kita, dan yang kita sukai adalah hal yang buruk bagi kita.
Kisah ini terdapat dalam buku Habiburrahman El Shirazi, Pudarnya Pesona Cleopatra.
Oleh   : Gusti Muhammad Hermawan
Instagram : @gustimuhammadhermawan





