Artikel

Inspirasi : Kisah Pemimpin Surga

Kisah ini diambil dari riwayat seorang pemimpin wanita di surga yaitu Sayidatina Fatimah Azzahra, putri Rasulullah SAW. Diantara seluruh anak Rasulullah, Sayyidah Fatimah lah yang paling mirip dengan Nabi, wajahnya, sifatnya, sikapnya dan tingkah lakunya.

Rasulullah begitu menyayangi Sayyidah Fatimah, hingga ketika seusai bepergian, rumah yang pertama dikunjungi nya adalah rumah Sayyidah Fatimah, begitupun sebelum bepergian. Hingga bisa dikatakan, Rasulullah diriwayatkan dua kali menemui Fatimah dalam seharinya. Kecintaan Rasulullah ini tercermin ketika duduk bahkan, tempat duduknya diserahkannya kepada putri nya tersebut.

Menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, jika dirupiahkan, maka maharnya tersebut kurang lebih Rp. 4,8 juta. Sehingga Rasulullah membagi uang tersebut kepada tiga bagian, sebagian dibelanjakan untuk bantal dengan lapisan kulit dan dalamnya pelepah kurma sementara lainnya dibelikan selimut yang dalam riwayatnya, selimut tersebut menjadi tempat duduknya dan juga pelindung ketika dingin. Selimut tersebut jika ditarik dan dipakai berdua untuk menutupi kepala, maka kaki akan terlihat begitupun seterusnya.

Suatu hari, Rasulullah tersedu-sedu dalam menangis, hingga Umar bin Khattab tak mampu menghentikan tangisannya, hingga pada akhirnya sahabat Abu Bakar berkata “Hanya Fatimah yang mampu menghentikan sedihnya”. Rasulullah bersedih ketika turun ayat QS Maryam :71

 وان منكم الا واردها كان على ربك حتما مقضيا

Artinya : Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu.
Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. ―QS. 19:71

Sebab itulah Rasulullah bersedih, hingga pada akhirnya Abdurrahman bin Auf menuju ke kediaman Sayyidah Fatimah Azzahra lalu mengetuk didepan pintu. Sayyidah Fatimah bertanya, “Siapakah disana?”. Maka dijawablah “Aku Ibn Auf. Untuk apa kamu datang tanya Sayyidah Fatimah ? Maka dijawab, kami datang untuk meminta bantuanmu, kami dari tadi melihati nabi menangis dan terus menangis kami sedih melihatnya. Maka Sayyidah Fatimah menjawab “Baik sebentar aku memakai pakaianku terlebih dahulu”.

Maka berangkatlah Sayyidah Fatimah, sesampainya memasuki Masjid untuk bertemu Rasulullah, seluruh sahabat berteriak Takbir, Allahu Akbar. Mengapa mereka berteriak? Karena mereka jarang bertemu dan melihat Sayyidah Fatimah, seorang putri Nabi, pemimpin para wanita di Surga, bahkan suatu ketika Rasulullah pernah membuat teka-teki kepada sahabat yang berbunyi “Taukah kalian, siapa sebaik-baik wanita?”. Para sahabat tidak ada yang tahu apa jawabannya, sampai-sampai Sayyidina Ali pun tak mampu menjawab nya dan menceritakannya kepada Sayyidah Fatimah, namun Sayyidah Fatimah menjawab “Aku tau jawabannya”. “Apakah itu wahai Bint Rasul” tanya Sayyidina Ali. Sayyidah Fatimah menjawab “Sebaik-baik perempuan maka yang tidak pernah melihat laki-laki dan tidak pernah dilihat laki-laki”.

Para sahabat yang mengucap takbir, selain karena jarang sekali menemui Sayyidah Fatimah, juga bersedih melihat seorang pemimpin wanita di surga, putri Rasul Allah, orang yang selalu di puji Nabi dan menyerukan wanita untuk bisa menauladani sifatnya, memakai pakaian yang memiliki tambalan sampai dengan dua puluh tambalan. Sehingga mengundang kesedihan di hati para sahabat, ketika para sahabat merasa iba dan tak kuasa melihatnya, Rasulullah berkata kepada Sayyidina Umar bin Khattab “Biarkan saja, demi Allah Fatimah adalah pemimpin seluruh wanita yang ada di surga”.

Di lain kesempatan, sewaktu-waktu Sayyidah Fatimah yang tidak hanya memiliki kesempurnaan sifat namun juga fisik, baik kesempurnaan tangannya, hidung dan matanya, paling sempurna karena begitu miripnya dengan sang ayahanda yakni Rasulullah SAW.

Sayyidah Fatimah memiliki dua orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, maka sewaktu Sayyidina Husein menangis, diambilnya dengan salah satu tangannya kemudian melanjutkan menghaluskan tangannya, lalu Sayyidina Hasan menangis diambillah lagi Sayyidina Hasan dengan tangannya. Sehingga hal tersebut membuat tak tega, maka berkata “Wahai Bint Rasul, biarkanlah aku yang mengerjakan salah satu, aku yg menghaluskan gandum atau putra-putramu biar digendong olehku” Melihat hal tersebut, Rasulullah pun seraya memeluk Sayyidah Fatimah dan mengecup dahi nya sebagai tanda keridhoan Rasulullah terhadap putri nya.

Pernah Rasulullah menceritakan dalam hadist nya, sewaktu ketika Sayyidah Fatimah salah dalam berucap tanpa disengaja yang tidak diketahuinya dan membuat memerah wajah Sayyidina Ali, seketika Sayyidah Fatimah mengingat akan ketakutannya kepada Allah, hingga ia meminta maaf kepada suami namun Sayyidina Ali pun hanya berdiam dan masih memerah.

Maka pecah lah tangis Sayyidah Fatimah sejadi-jadinya dan mengelilingi tubuh Sayyidina Ali layaknya orang thawaf sembari mengucap maaf kepada sang suami, hingga Sayyidina Ali tak kuasa melihat ketulusan istrinya dan memeluk Sayyidah Fatimah. Sore nya dari kejadian tersebut, Sayyidah Fatimah menemui Rasulullah dan Rasulullah menyampaikan “Telah sampai kepadaku apa yang telah engkau lakukan tadi, kalau seandainya engkau meninggal dunia sebelum mendapatkan maaf dari suamimu, maka niscaya aku tidak akan melaksanakan sholat jenazah terhadapmu”.

Beberapa kisah singkat kemuliaan Sayyidah Fatimah Azzahra tadi dapat kita refleksikan dalam kehidupan dan semoga wanita-wanita sekeliling kita mampu menjadi wanita yang setidaknya meneladani akhlak-akhlak para wanita suci yang tidak hanya dimuliakan di dunia namun juga di akhirat.

 

Penulis : Gusti Muhammad Hermawan
Ig : @gustimuhammadhermawan


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *