Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Daya Beli Masyarakat

Banjarmasin, Duta TV — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian berbagai kalangan.
Pengamat ekonomi, Ahmad Yunani, menilai kondisi tersebut harus disikapi secara bijak karena dampaknya tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Pasalnya, pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang, terutama produk yang masih bergantung pada bahan baku maupun komponen impor.
Sementara itu, sektor usaha yang berorientasi ekspor justru berpeluang memperoleh keuntungan. Industri pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan perikanan diperkirakan dapat meningkatkan pendapatan karena penerimaan mereka menggunakan mata uang asing yang memiliki nilai lebih tinggi terhadap rupiah.
Yunani menjelaskan, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Stabilitas ekonomi makro dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan dunia usaha dan menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal seperti kondisi geopolitik global, tetapi juga faktor domestik. Salah satunya adalah tingkat kepercayaan investor terhadap tata kelola pemerintahan dan kepastian hukum.
Menurutnya, maraknya kasus korupsi yang terungkap dapat memengaruhi persepsi investor sehingga berdampak pada minat investasi di dalam negeri. Selain itu, pemerintah daerah juga berpotensi merasakan dampak dari melemahnya rupiah.
Kenaikan harga sejumlah bahan dan kebutuhan proyek pembangunan dapat menambah biaya pelaksanaan pembangunan daerah.
“Kelompok masyarakat menengah ke bawah akan mengalami penurunan daya beli karena harga barang cenderung meningkat. Sebaliknya, sektor usaha berbasis ekspor seperti pertambangan, kelapa sawit, dan perikanan relatif diuntungkan karena memperoleh pendapatan dalam valuta asing. Pemerintah harus berupaya menstabilkan kembali nilai tukar rupiah melalui kebijakan ekonomi makro yang tepat. Jika kondisi ini terus berlanjut, biaya pembangunan akan meningkat dan pertumbuhan ekonomi daerah berpotensi melambat,” ucap Yunani.
Pengamat berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat kepercayaan investor, serta melindungi daya beli masyarakat agar dampak pelemahan mata uang tidak semakin membebani perekonomian nasional.
Reporter: Nina Megasari





