Inspirasi Pemilu Politik

MAKIN TUA MAKIN BIJAKSANA ???

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, di edisi sebelumnya saya sudah pernah membahas topik “SEMAKIN TUA SEMAKIN BAHAGIA” yang terinspirasi dari statusnya akun IG maia.mussary yang menggambarkan suatu proses kehidupan dari banyak probelam kehidupan yang dihadapi akhirnya pada usia yang semakin tua secara kasat mata telah “menemukan” kebahagiaannya, sehingga muncul #semakin tua semakin bahagia. Dari sini kemudian saya mengamati perkembangan di media sosial yang subjek atau orangnya ada yang saya kenal dan ada pula yang tidak saya kenal, namun mereka ini karakteristik berada pada usia yang rata-rata pada 45 tahun an sampai 60 an tahun, dimana dalam pembicaraan atau diskusi “cara berfikir” mereka terbawa oleh arus “perdebatan” dan bahkan “saling serang” pada Pemilu Presiden di tahun 2019 ini dengan hanya menampilkan sisi buruk dan kelemahan sang calon. Disamping itu juga Tanggal 23 Pebruari ini adalah hari ulang tahun isteri saya, yang “kado” ucapannya saya beri ucapan DOA SEMAKIN TUA SEMAKIN BAHAGIA DAN BIJAKSANA.   Dari sinilah saya terinspirasi untuk menulis topik MAKIN TUA MAKIN BIJAKSANA, yang menjadi renungan saya di akhir pekan ini.

Sahabat ! “bijaksana” secara gramatikal diartikan “menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan) secara arif dan “tajam”, atau bisa juga diartikan “pandai dan hati-hati, cermat dan  teliti, dalam bahasa Inggris disebut “wise” dan kalau merujuk kepada Asmaul Husna” saya gunakan “Al-Hakim” sebagai sifat Allah yang Maha Bijaksana. Secara sederhana kalau bijaksana ini dilekatkan kepada manusia, maka orang yang bijaksana adalah orang yang pandai, menggunakan akal budi, hati-hati, teliti dan cermat, serta berpandangan luas dalam BERFIKIR dan BERTINDAK.

Sahabat ! berfikir secara bijaksana adalah berfikir yang komphrehensif, tidak hanya didasarkan pada satu pendapat atau aliran atau satu bidang ilmu saja, melainkan berfikir secara “total” atau holistik, dan dampak dari fikirannya ini muncullah sikap yang “toleran”, memahami atau “emphatic” dan “rendah hati” dalam menyikapi suatu masalah atau problematika kehidupan, dia tidak hanya berfikir dan bertindak atas dasar “hitam putih” atau “benar dan salah”, melainkan juga mampu menempatkan fikiran dan tindakannya tersebut pada sisi benar atau pun salah tersebut, karena ia sangat memahami kenapa itu “benar” dan kenapa itu “salah”. Bahkan dalam kebenaranpun ada kelemahan (baca=kesalahan) , begitu pula dalam kelemahan ada kebenarannya.

Sahabat ! dengan karakteristik bijaksana yang seperti itulah, maka ia dilekatkan kepada orang-orang yang sudah semakin tua usianya, karena orang yang semakin berusialah dianggap mampu melekatkan dirinya pada sikap yang bijaksana tersebut, karena kalau anak muda secara psikologis (meminjam istilah Sigmund Freud) lagi “bergelora” segala aspek keinginan dan libido seksualnya (id dan ego) , maka pada usia tua aspek nurani “super ego” lah yang menonjol dan akan mengendalikan hawa nafsunya tersebut. Sehingga kalau ada pepatah “Life Begin at Forty”, maka ini saya artikan sebagai mulainya kehidupan yang bijaksana, bukan mulainya gelora kehidupan saat usia remaja dulu.

Sahabat ! saya bisa memaklumi kalau anak muda terbawa arus fanatisme dalam pilihan yang melahirkan “perdebatan” dan “serangan” untuk masing-masing jagoannya dengan instrumen fakta, data, opini bahkan hoax, namun saya kurang bisa memahami kalau itu juga bisa terjadi pada usia-usia yang saya sebutkan di atas, karena diusia ini menurut saya kita sudah bisa bijaksana dalam fikiran dan sikap kita melihat gejala “politik” yang menurut pengetahuan dan pengalaman saya bergaul dengan para politisi dan orang-orang yang berada dibelakangnya, itu tidak lebih dari suatu “game” untuk mencapai kekuasaan, karena pada mereka ini ada saat “bertarung” dan ada saat “bergandengan tangan” untuk mencapai tujuan politiknya, yang sesungguhnya kedua kubu tersebut membalutnya dengan tujuan yang mulia bagi bangsa dan negara kita ini. Begitulah pemahaman saya seorang yang bisa tampil menjadi seorang calon Presiden dan Wakil Presiden adalah orang hebat dan baik dengan sisi sisi kelemahan yang melekat dari ketidak sempurnaan sebagai seorang manusia, dimasing-masing pasangan ada tokoh dan ulama, negarawan serta cerdik cendikia yang mengawalnya, sehingga bagi saya sangat tidak bijak kalau Sang Calon tersebut dituding akan meruntuhkan, menjual atau menista bangsanya sendiri.

Sahabat ! saya minta maaf kalau saya dianggap juga kurang bijaksana mengangkat masalah ini, karena ini bisa saja juga menyinggung perasaan sahabat semua, disamping itu saya juga bukan orang bijak, tapi orang yang menyukai dan rindu kepada sifat bijaksana tersebut.

Pesan saya pada diri pribadi dan keluarga saya (khususnya isteri saya yang lagi berulang tahun) serta sahabat semua SEMAKIN TUA SEMAKIN BAHAGIA ITU KITA RAIH, DAN SEMAKIN TUA SEMAKIN BIJAKSANA ITU KITA WUJUDKAN DALAM KEHIDUPAN.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *