Letusan Tambora 1815 Lebih Dahsyat tapi Kenapa Letusan Krakatau 1883 Lebih Terkenal ?

Jakarta, DUTA TV – Setelah erupsi Gunung Anak Krakatau (4/9/26), orang lebih mengingat kejadian meletusnya Gunung Krakatau 1883 dibanding Gunung Tambora di Pulau Sumbawa Nusa tenggara, padahal peristiwa  pada tahun 1815 itu lebih dahsyat.

Lalu mengapa letusan Gunung Krakatau lebih mendunia dibanding letusan Gunung Tambora ?

Letusan Krakatau tahun 1883 terjadi setelah kabel telegraf internasional terpasang, membuat berita menyebar seketika.
Sementara itu, letusan Tambora tahun 1815 penyebaran informasinya masih mengandalkan kapal layar yang memakan waktu lama.
Letusan Tambora (VEI 7) jauh lebih besar dan memuntahkan material vulkanik lebih banyak daripada Krakatau (VEI 6).
Namun, bentuk letusan Krakatau menghancurkan pulaunya sendiri secara dramatis dan memicu tsunami besar yang langsung menarik perhatian internasional.
Dampak Letusan Gunung Tambora

Tanggal 10 April 1815 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Nusantara. Dari Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara, Gunung Tambora memuntahkan energi yang belum pernah disaksikan manusia modern, melebihi letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau pada 1883.

Dentumannya terdengar hingga Pulau Sumatra, lebih dari 2.000 kilometer jauhnya.

Seperti dilansir dari laman Scientific American, pejabat Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles, sempat mengira suara itu berasal dari tembakan meriam dan memerintahkan pasukan bersiaga.

Tak ada yang menyangka, suara tersebut berasal dari letusan gunung api yang kemudian mengubah cuaca dunia.

Sebelum meletus, Tambora diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 4.300 meter.

Namun, setelah erupsi besar itu, puncaknya runtuh dan menyisakan kaldera raksasa sedalam ratusan meter.

Ribuan orang meninggal akibat dampak langsung letusan, sementara puluhan ribu lainnya tewas karena kelaparan dan penyakit setelah sumber pangan hancur.

Berbagai penelitian memperkirakan jumlah korban mencapai lebih dari 70.000 jiwa, menjadikannya salah satu bencana gunung api paling mematikan dalam sejarah.

Namun, dampak Tambora tidak berhenti di Indonesia. Letusan itu melemparkan jutaan ton sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut berubah menjadi aerosol sulfat yang menyebar ke seluruh dunia dan memantulkan sebagian sinar Matahari.

Dampak letusan Tambora masih berlanjut sampai setahun berikutnya yakni 1816 yang kemudian dikenang sebagai “The Year Without a Summer” atau “tahun tanpa musim panas”. Di Amerika Utara, salju turun pada Juni dan Juli.

Di Eropa, cuaca dingin dan hujan berkepanjangan menyebabkan gagal panen, kelaparan, serta kerusuhan sosial.

Sejumlah peneliti juga mengaitkan perubahan iklim pascaTambora dengan penyebaran pandemi kolera pada abad ke-19.(net)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *