Kemenkes Tidak Anjurkan Bilik Disinfeksi

 

DUTA TV – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak menganjurkan pemerintah daerah (Pemda) maupun masyarakat untuk menggunakan bilik disinfeksi sebagai upaya pencegahan virus corona (Covid-19). Kemenkes menilai penggunaan bilik disinfeksi justru berisiko terhadap kesehatan seseorang.

“Tidak menganjurkan penggunaan bilik desinfeksi di tempat dan fasilitas umum (TFU) serta permukiman,” demikian Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari dalam surat edaran tentang anjuran tidak menggunakan bilik disinfeksi untuk pencegahan penularan Covid-19 yang dikutip di Jakarta, Jumat (3/4).

Dalam surat edaran itu disebutkan bahwa disinfeksi hanya dilakukan pada permukaan benda mati, seperti lantai, dinding, peralatan, ruangan, pakaian, dan alat pelindung diri. Tindakan disinfeksi tidak dianjurkan dilakukan pada tubuh manusia karena bisa menimbulkan risiko kesehatan, seperti iritasi kulit dan iritasi pada saluran pernapasan.

Penggunaan desinfektan jenis larutan hipoklorit pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah. Berdasarkan pantauan Kemenkes di lapangan, berbagai macam cairan disinfektan yang digunakan untuk bilik desinfeksi itu, di antaranya diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dan sejenisnya, etanol 70 persen, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), dan hidrogen peroksida (H202).

Jika warga harus keluar rumah, Kemenkes menganjurkan mereka menghindari kerumunan, menjaga jarak dan menggunakan masker. Selain itu, masyarakat dianjurkan membuka jendela untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

Jika menggunakan kipas angin atau alat pengatur suhu ruangan, warga dianjurkan melakukan pemeliharaan secara rutin. Masyarakat juga dianjurkan untuk segera mandi dan mengganti pakaian setelah bepergian keluar rumah.(ern/rep)

#UPDATE CORONA KALSEL

Slider

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *