KARINDANGAN

Oleh : Dr. H. Syaifudin, SH, MH
Pimpinan Umum Duta TV
Sekali – sekali saya akan berkisah tentang hal yang sedikit romantis. Bisa dikatakan tentang masa lalu. Kalau dulu ada pantun dalam tradisi di masyarakat Banjar yang bunyinya seperti ini :
Piungut burung pialing
Hinggapnya di atas dahan
Meungut bepadah garing
Karingangan lawan siading
Dalam tradisi kehidupan kita, manusiawi kalau kita pernah jatuh hati, jatuh cinta. Karena orang bicara cinta itu bicara sesuatu yang tidak ada habisnya. Coba kita lihat peradaban kehidupan manusia atau bangunan, banyak dibangun oleh perasaan cinta. Taj Mahal, lukisanMonalisa yang begitu misterius, konon tercipta karena perasaan cinta.
Dalam masyarakat Banjar, orang sering malu jika harus mengungkapkan rasa kasih sayang, sehingga tidak terucapkan. Karena tidak terucapkan, maka si perempuannya tidak tahu sehingga terjadi miss com atau salah paham. Pada saat orang yang dikarindangi ini kawin, baru merasa.
Kenapa aku tidak pernah mengucapkannya ?
Pertanyaannya adalah, apakah cinta perlu diucakan atau tidak usah diucapkan?
Kalau menurut kakek saya, cinta memang harus diucapkan. Saya pernah membaca sebuah novel yang bercerita tentang persoalan ini. Di dalamnya mengatakan, gong itu bukan gong kalau tidak dibunyikan. Karenanya, cinta harus diucapkan, karena kalau tidak diucapkan, bisa sedih menyayat hati.
Sedangkan di kehidupan masyarakat kita, urusan mengucapkan atau tidak, tergantung situasi dan kondisi. Di level-level tertentu ada orang yang hanya saling pandang saja sudah tahu maknanya. Yang dipandang juga paham. Tapi jangan lantas mudah menyimpulkan, karena dipandang lalu ke-GR-an. Kembali mengenai diucapkan atau tidak, kalau menurut saya lihat – lihat situasi dan kondisi. Kalau sudah ada chemistry, kesesuaian perasaan, ungkapkanlah perasaan itu.
Jadi pesan saya, kalau memang ada perasaan kasih sayang, jangan terlambat menungkapkannya sehingga didahului orang.
Jatuh cinta itu berat, biar saya aja, ujar film.





