“HATI DI-DALAM SIAPA YANG TAHU ?”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi,
“Pak katipak katipung
Suara gendang bertalu talu
Pura-pura bingung
Dalam hati siapa yang tahuâ€
Begitulah bait lagu berstruktur pantun yang menggambarkan dua dimensi kehidupan manusia, antara perilaku bingung dan perasaan yang sesungguhnya di dalam hati, oleh karena itu ijinkan kali saya membahas bagaimana hubungan antara perilaku kita yang terlihat dan dapat diamati oleh mata kita dengan apa yang sesungguhnya terjadi dibalik yang kita lihat tesebut.
Sahabat ! biasanya kalau kita ketemu sahabat atau orang yang sesekali ketemu dengan kita atau orang belum pernah ketemu dengan kita, lantas apa yang menjadi tolak ukur atau parameter untuk “menilai†orang tersebut, apakah dia orang baik atau tidak, apakah dia sedang senang atau sedang sedih, apa dia lagi banyak masalah atau lagi “enjoyâ€, apa dia sedang marah atau sedang senyum dan seterusnya. Untuk itu tentu kelajiman dikita adalah melihat mimik mukanya, melihat gerak geriknya atau melihat gestur tubuhnya, karena dengan melihat hal tersebut maka kita akan menyimpulkan oh! dia lagi marah, oh ! dia lagi gelisah oh ! dia lagi bahagia atau gembira atau senang.
Sahabat ! ada rumus umum (keumuman) yang menjadi tolak ukur adalah  melihat pada perilaku untuk memberikan penilaian tersebut, seperti kalau dia tersenyum, maka kita simpulkan dia lagi senang, kalau dia menangis kita simpulkan dia lagi sedih, kalau mutar-mutar tidak keruan kita simpulkan lagi bingung atau gelisah, kalau dia tersenyum ramah dan membantu kita, kita simpulkan dia orang baik. Sampai disini rumus umum ini berlaku dan sering kita gunakan untuk menggambarkan suatu perilaku dan penilaian atau menyimpulkan atas perilaku tersebut dengan label tertentu.
Sahabat ! memang seperti yang ada di bait lagu di atas, akan menjadi persoalan dikita apa benar sesungguhnya penilaian kita yang didasarkan pada gejala yang nampak kita lihat tersebut, artinya secara sederhana apakah benar tangisan itu menggambarkan kesedihan atau tertawa itu menggambarkan suasana hati yang gembira, menolong itu menggambarkan kebaikan hati ?, fakta menunjukan  pada satu situasi atau kondisi tertentu bisa saja berlaku sebaliknya, yaitu ada kita temukan orang menangis karena kegembiraan dan ada orang tertawa karena kesedihan dan yang menolongpun ternyata seorang penipu.
Sahabat ! kehidupan kita bertutur tidak mudah menebak dan menilai isi hati seseorang, karena sesungguhnya yang paling tahu tentang isi hati itu adalah diri orang itu sendiri, akan tetapi bagi kita yang bergaul atau berkumpul atau berkawan lama dengan seseorang biasanya lebih bisa memahami apa yang menjadi isi hatinya, walaupun juga tidak seratus persen tepat penilaian kita itu. Begitulah akhirnya orang bijak mengatakan sahabat sejati hanya bisa tercipta setelah kita lama bergaul dan sudah teruji dalam pergaulan itu, baik tidaknya seseorang juga akan teruji dari lamanya pergaulan, sehingga ada sahabat yang hanya baik pada saat kita senang atau pada saat kita punya kekayaan atau pada saat kita punya kedudukan, sedang pada saat kita “sakit†dan “terjatuh†dia menjauh dari kita.
Sahabat ! begitulah sahabat sejati sesungguhnya adalah sahabat yang baik hatinya yang teruji dari pergaulan kita sehari hari, sehingga aspek luar dari perilakunya kita kenal baik, mana yang keluar dari lubuk hatinya dan mana yang hanya luarnya saja. Dan kitapun akan bisa menilai mana orang yang benar-benar baik dan mana orang yang baik hanya pada saat ada kepentingannya saja karena kedudukan dan kekuasaan kita.
Sahabat ! doakanlah sahabat yang hanya “baik†di luar saja akan tetapi “hatinya jahatâ€, agar dia menjadi orang baik yang paripurna walaupun kita tahu dalam kehidupan ini tidak ada yang sempurna, namun kita sudah semestinya kita terus bergerak menuju kepada kesempurnaan.
“Kalau ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umur panjang
Ketemu lagi dengan Secangkir kopiâ€
Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.
#Semakintuasemakinbijaksana
#semakintuasemakinbahagia





