“DARI MANAKAH SUMBER ILMU PENGETAHUAN ???”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, memaknai 17 Ramadhan sebagai hari turunnya Al-Quran menjadi pembahasan utama para ustad dalam ceramah dan atau tausiahnya, akan tetapi menjelaskannya dengan cara yang berbeda dan “unik” tentu menjadi ciri khas atau karakter sudut pandang para ustad masing-masing. Ustad yang satu ini memang saya pandang punya wawasan yang dalam dan holistik (menyeluruh) dalam setiap bahasannya, termasuk saat berbicara tentang “nuzulul qur’an”, beliau adalah Ustad BAYANI Dosen UIN Antasari Banjarmasin dan sekaligus ketua mesjid kampus UIN Antasari. Kali ini saya minta ijin ke Ustad Bayani untuk menuliskan pemahaman saya secara “populer” atas inspirasi dari cuplikan yang beliau sampaikan pada kuliah ba’da sholat subuh di Mushola Miftahul Jannah tadi pagi tadi.

Sahabat ! dengan ayat yang pertama turun “iqra” berarti bacalah, tentu membaca yang dimaksudkan adalah belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dari sudut pembelajaran proses membaca sesungguhnya proses “entri” pengetahuan kedalam otak kita, sehingga semakin banyak yang dibaca, maka semakin banyak tabungan pengetahuan yang kita miliki, sehingga tabungan pengetahuan ini dalam ilmu public speaking akan menjadi bahan saat kita berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain.

Sahabat ! tidak sembarang “baca” tetapi membaca (bacalah) atas nama Tuhan Yang Menciptakan, oleh karena itu proses entri pengetahuan ke dalam otak kita adalah ilmu pengetahuan yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang diberikan contoh petunjuknya dalam Alquran itu sendiri. Oleh karena itu ilmu pengetahuan yang masuk kedalam otak kita adalah ilmu pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi diri kita dan bagi sesama serta alam semesta, yang kesemuanya itu akan semakin mendekatkan diri kita dengan Sang Maha Pencipta itu sendiri.

Sahabat ! “bacalah” itu juga tidak saja bersifat mengkaji secara teoritis atau membaca buku (kitab) saja, akan tetapi juga mengkaji ilmu pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman kehidupan, yang istilah ilmiahnya ada pada tataran empiris. Ilmu pengetahun yang didapatkan dari tataran kehidupan ini muncul dari proses menjalani kehidupan senyatanya dan kemudian mendapatkan pemahaman akan suatu kondisi tertentu yang dapat dijadikan pola sebagai pola ilmu pengetahuan yang bisa dicontoh atau ditularkan kepada orang lain.

Sahabat ! ilmu pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman ini bersifat sudah teruji kebenarannya, sehingga mengandung tingkat keyakinan yang tinggi, dari pada ilmu pengetahuan yang didapatkan dari tataran teoritis.  Walaupun keyakinan yang tinggi tersebut bersifat subjektif dan kasuistis sesuai dengan situasi dan kondisi dimana pengalaman itu lahir.  Perhatikanlah ada banyak orang ahli pada suatu bidang, walapun ia tidak pernah mengikuti pendidikan formal pada bidang tersebut, ada ahli bangunan, padahal latar belakang pendidikannya ekonomi, ada ahli perbankan, padahal pendidikannya bidang pertanian dan seterusnya. Kenapa ini bisa terjadi, karena pengalaman bertahun-tahun menggeluti bidang itu telah memberikan ilmu pengetahuan kepadanya akan bidang tersebut.

Sahabat ! seperti saya yang berlatar belakang pendidikan hukum (S1, S2 dan S3), karena puluhan tahun bergelut dibidang publik speaking di media telivisi, telah memberi saya ilmu pengetahuan dibidang komunikasi public speaking.  Bagaimana juga dengan sahabat semua, saya yakin ada banyak ilmu pengetahuan yang didapat selain dari yang didapatkan secara formal di bangku sekolah atau kuliah.

Sahabat ! Dari sinilah sesungguhnya Ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari dua sumber membaca secara teoritis dan membaca pengalaman kehidupan, akan menjadi bahan dan cerminan dari setiap ucapan atau presentasi yang kita sampaikan kepada orang lain, seperti teko yang dituangkan ke gelas, apabila isi teko itu adalah air putih bersih maka yang keluar juga air putih bersih, begitu sebaliknya kalau isinya air kotor, maka yang keluar juga air kotor. Maka urgensi membaca atas nama Tuhan Yang Menciptakan ini akan melahirkan teko yang berisi air bersih dan air yang keluar dari teko itupun adalah air bersih, sebagai perumpamaan ilmu pengetahun yang disampaikan dan atau diajarkan kembali tersebut adalah ilmu yang bermanfaat dan membawa keselamatan serta kedamaian hidup.

Sahabat ! ustad Bayani menginspirasi dan menyadarkan saya dan insyaallah kita semua, ternyata “iqra” itu adalah proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan yang tidak hanya kita dapatkan melalui proses dibangku sekolah atau kuliah, akan tetapi juga kita dapatkan dari pengalaman kehidupan.  Bahkan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari pengalaman ini lebih kita yakini kebenaran dan manfaatnya, karena sudah terbukti, akan tetapi syaratnya “baca” lah atas nama Tuhan Yang Menciptakan.

Sahabat ! mari kita belajar terus untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sepanjang kehidupan kita, karena saat berhenti belajar, saat itulah kita pada hakikatnya sudah mati.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia

Dr. Syaifudin SH. MH.


Dewan Redaksi Duta TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *