Ekonomi Inspirasi

CUKUPKAH “SENTUHLAH DIA DENGAN HATIMU” ???

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, terasa klasik judul di atas “sentuhlah dia dengan hatimu” terminologi membina hubungan yang dirajut dengan kelembutan dari kita untuk orang yang kita tuju dalam pelayanan atau berkomunikasi, lalu kemudian muncul juga istilah “melayani dengan hati” sebagai suatu gambaran pelayanan yang tulus. Dengan konsep ini berarti kita menggunakan hati kita untuk berhubungan dengan orang lain, sehingga wujudnya keluar dari sikap dan perilaku kita adalah kesungguhan dalam membina hubungan tersebut, dan ini berlaku untuk semua jenis hubungan termasuk dalam bisnis barang dan jasa.

Sahabat ! sekilas kita mengamini konsep “sentuhlah dia dengan hatimu” ini karena berdampak positif bagi karakter kita dalam berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada orang lain, namun coba perhatikan lebih dalam lagi, kalau kita menggunakan hati kita untuk itu, lantas kita sentuhkan kemana hati kita itu ? berarti kita belum menentukan sasaran atau arah dari penggunaan hati kita sehingga kita tidak bisa memastikan reaksi yang seperti apa yang kita inginkan, padahal kalau jujur pada setiap komunikasi tentu kita mengharapkan suatu perilaku atau sikap atau reaksi tertentu agar apa yang kita inginkan bisa tercapai. Seorang salesman melayani dengan hati agar pelangan membeli barangnya, seorang Custumer Service melayani dengan hati agar tamunya merasa puas dan tetap menjadi pelanggan perusahaannya, dan seterusnya.

Sahabat ! kalau kita memberikan dengan hati, maka sesungguhnya tidak berhenti pada kita berikan dengan hati kita, melainkan sasarkanlah hati kita itu untuk menyentuh hatinya.  Oleh karena itu bukan lagi kita hanya berfikir “sentuhlah dia dengan hati, tapi juga sentuhlah hatinya” agar hati dengan hati bisa ketemu dan terjadi kesamaan “gelombang perasaan” untuk membina suatu hubungan tersebut.  Kalau kita hanya hanya menggunakan hati kita untuk menyentuhnya maka belum tentu hasilnya akan sesuai dengan apa yang kita inginkan, akan tetapi kalau dengan hati kita menyentuh hatinya maka kemunginan sangat besar apa yang kita inginkan bisa tercapai (efektif).

Sahabat ! “menyentuh hati dengan hati” melahirkan perilaku yang seimbang antara kedua belah pihak yang hasilnya menciptakan suatu kepuasan bagi kedua belah pihak, terjadi proses saling menerima dan memberi, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, untung dinikmati bersama dan rugipun ditanggung bersama, atau dengan bahasa romantisnya “kegunung aku ikut kamu, kelembahpun aku ikut kamu”.  Ketulusan dan kesungguhan akan dirasakan bersama, sehingga dalam proses hubungan yang seperti ini kualitas atau derajat kebersamaannya pun akan semakin kuat, dalam bahasa “menjaga pelanggan”  hai ini disebut menciptakan “pelanggan yang setia” dan bahkan dia bercerita ke orang lain sebagai “brand ambasador” yang gratis.

Sahabat ! kalau menyentuh hati dengan hati ini terjadi didunia bisnis, tentu akan terjadi hubungan yang saling menguntungkan, tapi kalau kemudian ditingkatkan menjadi hubungan kemanusiaan, maka melahirkan konsep KEIKHLASAN yang tidak berharap akan adanya keuntungan, tetapi keuntungan itu akan datang dengan sendirinya sebagai HUKUM ALAM.

Istilah sahabat yang saya gunakan untuk menyapa sahabat semua, adalah bermaksud mengajak menyentuh hati dengan hati secara kemanusiaan, karena kalaupun belum bisa kita me”ngupi” bersama secara gratis, sesungguhnya sahabat semua adalah sahabat saya yang siap “bebagi” dalam menjalani kehidupan ini.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *