Waspada Campak, RSUD Ulin Siapkan Ruang Isolasi Khusus

Banjarmasin, Duta TV — Maraknya kasus campak di sejumlah daerah menjadi perhatian berbagai pihak. Meski demikian, hingga awal tahun 2026 ini, RSUD Ulin Banjarmasin mencatat belum adanya pasien dengan kasus campak yang memerlukan penanganan medis lebih serius.
Saat rapat bersama Komisi IV DPRD Kalsel, Dr. Among Wibowo, M.Kes., Sp.S., Direktur RSUD Ulin Banjarmasin menyebut pada tahun 2025 lalu pihaknya hanya menangani kurang dari sembilan kasus campak.
Seluruh pasien yang mayoritas merupakan anak-anak berhasil ditangani hingga sembuh. Meski demikian, pihak rumah sakit tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan ruang isolasi khusus bagi pasien campak. Langkah ini dilakukan karena penyakit tersebut sangat mudah menular melalui percikan air liur.
“Terkait dengan kasus campak untuk RS Ulin ini tahun 2026 ini kami data sementara belum ada kasusnya. Untuk tahun 2025 itu ada beberapa kasus, memang kasusnya kurang dari sembilan orang di RS Ulin dan alhamdulillah ditangani dengan baik. Ini kasusnya banyak kasus anak dan alhamdulillah sudah sembuh atau membaik. Terkait dengan campak ini sebenarnya campak ini bisa dicegah dengan imunisasi atau dengan vaksin. Jadi imunisasi dilaksanakan pada usia sembilan bulan kemudian juga imunisasi lanjutan sampai kelas 1 SD,” ujarnya.
Pihak rumah sakit juga berharap agar masyarakat mengenali gejala awal campak, antara lain demam, sakit kepala, pilek, batuk, serta mata kemerahan. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru yang berpotensi fatal alias kematian.
Sementara, Komisi Empat meminta seluruh rumah sakit di Kalsel agar siap siaga dalam penanganan campak yang saat ini tengah mengalami lonjakan signifikan. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala demam disertai tanda-tanda campak agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin, termasuk mengantisipasi dengan memperkuat daya tahan tubuh.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





