Pers Milik Pribumi

DUTA TV BANJARMASIN – Pada paruh kedua abad ke-19, untuk menandingi surat kabar-surat kabar berbahasa Belanda, muncul surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa meskipun para redakturnya masih orang-orang Belanda, seperti “Bintang Timoer” (Surabaya, 1850), “Bromartani” (Surakarta, 1855), “Bianglala” (Batavia, 1867), dan “Berita Betawie” (Batavia, 1874).

Pada 1907, terbit “Medan Prijaji” di Bandung yang dianggap sebagai pelopor pers nasional karena diterbitkan oleh pengusaha pribumi untuk pertama kali, yaitu Tirto Adhi Soerjo.

“Adhi Soerjo dikenal pula sebagai wartawan Indonesia yang pertama kali menggunakan surat kabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum,” tulis Asep Saeful Muhtadi dalam “Pengantar Ilmu Jurnalistik”.

Lihat Juga :  Berduka, JMSI Desak Bentuk Tim Pencari Fakta dan Minta Polisi Usut Kematian Wartawan Demas Liara

Pers pribumi semakin tumbuh seiring dengan pergerakan nasional. Beberapa surat kabar yang bersifat nasional dan dinilai radikal, antara lain “Oetoesan Hindia” (Surabaya, 1914) di bawah Sarekat Islam, “Neratja” (Batavia, 1917), “Boedi Oetomo” (Yogyakarta, 1920), “Sri Djojobojo” (Kediri, 1920), “Tjaja Soematra” (Padang, 1914), “Benih Merdeka” (Medan, 1919), “Hindia Sepakat” (Sibolga, 1920), “Oetoesan Islam” (Gorontalo, 1927), dan “Oetoesan Borneo” (Pontianak, 1927).

“Pers di Indonesia pada dasarnya terus berkembang dan digunakan sebagai alat perjuangan,” tulis Asep.

Seiring dengan peningkatan gerakan-gerakan politik radikal di Indonesia, terutama setelah 1920, jumlah surat kabar nasional semakin meningkat pesat dengan daerah penyebaran mencapai kota-kota kecil.

Lihat Juga :  Berduka, JMSI Desak Bentuk Tim Pencari Fakta dan Minta Polisi Usut Kematian Wartawan Demas Liara

Di Bandung terbit “Sora Mardika” (1920), di Tasikmalaya terbit “Sipatahoenan” (1924), di Padang terbit “Soematra Bergerak” (1922), di Sibolga terbit “Tapanoeli” (1925), di Malang terbit “Soeara Kita” (1921), di Purworejo terbit “Soeara Kaoem Boeroeh” (1921), di Banjarmasin terbit “Soeara Borneo” (1926), dan di Garut terbit surat kabar berbahasa Sunda “Sora Ra’jat Merdika” (1931).

Pers Islam pun mulai tumbuh dengan penerbitan surat kabar “Pedoman Masjarakat” (Medan, 1935), “Pandji Islam” (Medan, 1934), “Perasaan Kita” (Samarinda, 1928), “Ra’jat Bergerak” (Yogyakarta, 1923).

Lihat Juga :  Berduka, JMSI Desak Bentuk Tim Pencari Fakta dan Minta Polisi Usut Kematian Wartawan Demas Liara

Beberapa tokoh yang bisa dianggap berjasa merintis dunia pers Indonesia sekitar awal abad ke-20, antara lain Parada Harahap, Sanusi Pane, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Abdul Muis, dan Haji Agus Salim.

Beberapa tokoh pergerakan nasional Indonesia juga memanfaatkan surat kabar-surat kabar untuk memublikasikan tulisan-tulisannya yang mengarah pada kemerdekaan, seperti Muhammad Hatta, yang banyak menulis di “Daulat Ra’jat” terbitan Jakarta sekaligus menjadi pemimpin redaksi “Oetoesan Indonesia” terbitan Yogyakarta, dan Sukarno yang banyak menulis dan terlibat dalam penerbitan “Fikiran Ra’jat” di Bandung.

 

Berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *