Perdana, Dua Anak Jalani Operasi Bedah Jantung di RSUD Ulin

Banjarmasin, Duta TV Didampingi dokter dari RSUPN Dokter Cipto Mangunkusumo Jakarta, tim bedah jantung anak RSUD Ulin Banjarmasin melakukan operasi pada dua pasien anak asal Kalsel.

Bedah jantung anak ini merupakan perdana dilakukan di Kalsel, setelah sebelumnya RSUD Ulin harus merujuk anak dengan penyakit jantung bawaan ke rumah sakit yang ada di Jakarta.

Bedah jantung anak ini sekaligus pembelajaran bagi SDM di RSUD Ulin agar mampu melaksanakan bedah jantung anak secara mandiri. Tim dokter dari RSUPN Dokter Cipto Mangunkusumo Jakarta juga mengecek kesiapan para SDM di RSUD Ulin, mengingat untuk melaksanakan bedah jantung anak mandiri memerlukan tim yang lebih banyak.

Dokter pendamping dari RSUPN Dokter Cipto Mangunkusumo Jakarta menyebut bahwa selama ini pihaknya banyak menerima rujukan dari pasien di daerah, termasuk Kalsel, untuk melaksanakan bedah jantung anak. Akibatnya, antrian mencapai satu bahkan dua tahun, dan tak sedikit pasien meninggal dunia sebelum dioperasi.

“Penyakit anak dengan jantung bawaan di Indonesia ada 50 ribu bayi yang lahir dengan jantung bawaan. Separuhnya perlu operasi pada tahun pertama. Selama ini semua pasien ke Jakarta ke RS Cipto atau ke RS Harapan Kita sehingga antrian cukup banyak bisa ada setahun atau dua tahun. Dengan adanya program ini, kita meningkatkan kemampuan teman-teman kita dokter bedah di Ulin untuk bisa mengerjakan sendiri operasi atau intervensi sehingga tak lagi dikirim ke Jakarta,” kata Prof. Dr. Dr. Mulyadi M. Djerr, SpA (K), Dokter Pendamping Bedah Jantung Anak.

“Untuk bisa mandiri sebetulnya untuk kasus bedah jantung anak ini memerlukan dasar pada kompetensi BTKV secara umum. Namun, kalau tidak dimulai itu sulit karena membangun feel tim itu sulit. Tidak ada ego siapa paling baik, dan kuasa harus ada satu visi tujuannya, supaya anaknya selamat, sehat, pulang. Kalau untuk bedah jantungnya sendiri RS Ulin sudah bisa, cuma saya disini dan tim melihat saja kira-kira kesiapan tim sudah sampai mana. Dengan bedah jantung dewasa sebelumnya sudah ada bekal, tinggal sedikit-sedikit saja yang perlu diperbaiki,” ujar Dr. Dharma, Sp. BTKV, Dokter Pendamping Bedah Jantung Anak.

“Mereka sudah diajar ketika pendidikan untuk melakukan bedah jantung anak. Tapi tentunya kita memerlukan SDM lain untuk menunjang. Jadi pada saat ini kita punya dokter spesialis anak yang sekolah lagi untuk menunjang. Ketika tahun depan kita bisa running, dan mungkin kita bisa menjadi rujukan dari RS di kabupaten-kabupaten untuk hal tertentu ini juga berkat dukungan Pak Gubernur Kalsel yang sangat besar,” tutur Dr. Diauddin M. Kes,  PLT Direktur RSUD Ulin Banjarmasin.

Selain untuk mengurangi antrian operasi jantung anak di RSUPN Dokter Cipto Mangunkusumo, bedah jantung anak secara mandiri juga dipastikan akan memangkas biaya pasien yang harus dirujuk menjalani operasi ke Jakarta. Namun demikian, masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi RSUD Ulin agar mampu melaksanakan secara mandiri, salah satunya kemampuan dan ketersediaan SDM.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *