“PEMIKIRAN TENTANG “RADIKALISME” DARI PROF. MUJIBURRAHMAN PUKAU PESERTA INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAM, DEVELOPMENT AND SOCIAL HARMONY IN SOUTHEAST ASIA 2019”

KUALA LUMPUR-DUTATV.COM. Sahabat dutatv, tadi pagi Kamis 28 November 2019 benar-benar terasa istemewa bagi saya dan sekaligus turut bangga menyaksikan dan memperhatikan kualitas presentasi dari Prof.Mujiburrahman yang telah mendapat sambutan hangat dan penghargaan dari peserta konferensi  di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), di sesi panel ini Prof. Mujiburrahman duduk sebagai penelis bersama Prof Dato Redzuan Othman, Prof. Dr Wan Kamal Mujani dan Prof. Madya Che Lah Kekpong.

Sahabat ! saya ingin menceritakan terlebih dahulu sebagian pemikiran dan gagasan Prof Mujiburrahman, dan di edisi selanjutnya saya juga akan sampaikan bagaimana pandangan dan pemikitran penelis lainnya.  Beranjak dari isu tentang radikalisme islam di kawasan Asia Tenggara Prof. Mujiburrahman melihatnya sebagai kemunculan yang tidak begitu saja adanya, radikalisme tidak tiba-tiba jatuh dari langit atau tidak tiba-tiba muncul dari bumi, melainkan dilatarbelakangi oleh suatu kondisi tertentu.

Sahabat ! kondisi tertentu itu merujuk kepada banyak faktor yang merupakan respon dari dari suatu kondisi tertentu, bukankah kita menyadari kita telah berada di era globalisasi yang membuat jarak dan batas antar negara menjadi nisbi atau relatif yang dengan teknologi informasi sekarang terasa apa yang ada dan terjadi dibelahan daerah atau negara lain seolah terjadi didekat kita dan kitapun bisa larut terbawa emosional menghadapi peristewa yang terjadi diberbagai belahan dunia tersebut.

Sahabat ! muncullah sekarang apa yang disebut dengan era disruption, suatu era perubahan yang begitu cepatnya bahkan oleh beberapa kalangan ilmuan sekalipun perubahan cepat tersebut tidak mampu diprediksi, hal ini disebabkan perubahan tersebut begitu cepatnya dan sekaligus tidak terbayangkan, era disruption inipun menyebabkan “ketidakpastian” dalam kehidupan yang mebuat “kegalauan” bagi generasi muda sekarang.

Sahabat !  Lihat saja kehidupan kita sekarang bertutur tentang arus banjr informasi yang begitu dahsyat (tsunami informasi) yang sangat berbeda dengan era sebelumnya yang sulit kita memperolehnya, smart phone yang kita pegang telah menjadi alat bajirnya informasi tersebut, lantas ditangan kita begitu banyak  bisa menyimpan informasi dan mengolahnya kembali, yang dengan jari jemari kita akan bertebaranlah informasi dari “share ke share”, dan kemudian terus bergulir kepada berita-berita atau informasi yang disebut “hoax”.  Semua itu telah menambah suasana ketidak pastian kebenaran informasi tersebut dan menambah amunisi kegalauan bagi generasi kita.

Sahabat ! dalam kondisi masyarakat kita yang seperti ini, agama seperti “barang dagangan” yang berlaku hukum pasar, dimana orang bebas memilih dan tidak bisa dipaksakan untuk memilihnya, dari sinilah kemudian muncul dua macam sikap ‘ektrem”, yaitu semua benar yang melahirkan kebingungan kebenaran mana yang harus dituruti atau semua salah yang melahirkan sikap mana yang mesti dihindari, akibatnya muncul sikap saya yang paling benar sementara kamu adalah yang salah.  Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya “pengkaplingan” bahwa saya yang benar dan yang akan masuk syurga, sementara kamu yang salah yang akan masuk neraka.

Sahabat ! kondisi itulah sebagian yang dimaksudkan oleh Prof.Mujiburrahman sebagai kondisi yang melahirkan sikap radikalisme yang mesti harus disikapi secara bijak lantaran adanya kesenjangan atau “gap” dari pengajian atau pengkajian agama yang sekarang banyak dilakukan oleh para guru-guru agama (baca ustad atau ulama) dengan kondisi objektif zaman di generasi muda tersebut.  Oleh karena itu mesti difikirkan bagaimana pengkajian agama dapat menyentuh mereka itu, yaitu dengan bahasa-bahasa yang sederhana dan kemasan “ringan” tapi menarik bagi mereka, sehingga mereka bisa punya referensi dari sekedar menerima referensi dari media sosial di arus tsunami informasi tersebut.

Sahabat ! sudah saatnya akademisi turun langsung kemasyarakat, tidak hanya berkutat dari hasil penelitian yang rumit untuk difahami atau bahkan sekedar memenuhi rak perpustaan setelah dicetak dan masuk jurnal.

Alhamdulillah UIN Antasari sudah memulai menyebarkan pemahaman moderat dari kajian yang holitistik terhadap agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam dengan program D’RISET dan D’PUBLIC di dutatv.

Ikuti terus informasi selanjutnya dari  INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAM, DEVELOPMENT AND SOCIAL HARMONY IN SOUTHEAST ASIA 2019 di Universitas Kebangsaan Malaysia.

Salam (syaifudin)


Dr. Syaifudin SH. MH.

Dewan Redaksi Duta TV


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *