Nenek Jumaria Mendunia, Buruh Tani Asal Maros Jadi Ikon Global Haji 2026

Jakarta, DUTA TV – Di usia 70 tahun, Jumaria tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi perhatian dunia.
Perempuan asal Dusun Majannang, Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu terpilih menjadi wajah haji Indonesia di Saudi.
Dia viral usai Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.
Keseharian Jumaria sangat sederhana. Ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu, paling banyak Rp 200.000 per bulan.Dari upah itulah ia menabung sedikit demi sedikit demi satu impian, berangkat ke Tanah Suci.
“Senang, terharu, dan bangga,” kata Jumariah melalui via telepon dari Madinah, Kamis (7/5/2026).
Perjalanan menuju ibadah haji bagi Jumaria bukanlah hal yang mudah. Sejak 2010, Jumaria mulai menyisihkan uang hasil menggarap sawah.
Tabungannya disimpan sederhana, kadang di ember, kadang di bawah bantal.
Selain untuk menabung, uang hasil kerjanya juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Ia menabung sedikit-sedikit, saya berdoa, mudah-mudah saya bisa naik di tanah suci. Menabung lebih 20 tahun,” katanya lagi.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros, Ahmad Ihyaddin menuturkan, dalam proses mengurus berbagai dokumen keberangkatan, ia dibantu cucunya yang setiap hari mengantarnya.
“Jadi saya kagum dari ketekunannya dan kemudian keinginan kuatnya untuk berangkat menunaikan ibadah haji. Meskipun secara fakta di lapangan rasanya mungkin kita berpikirnya, eh bagaimana mungkin ini,” ujar Ahmad.
Sosok Jumaria mulai menarik perhatian saat mengikuti manasik haji.
Ahmad mengatakan, perempuan lanjut usia itu selalu datang paling awal dan pulang paling akhir.
“Setelah proses bimbingan manasik haji, beliau itu selalu datang cepat dan terlambat pulang. Saya sempat tanya, nenek kita ke sini siapa yang antar dan siapa yang jemput, dia bilang kebetulan ada cucu saya yang sering antar saya dan jemput saya, kalau dia ada waktu,” ungkapnya.
Kekaguman Ahmad semakin bertambah ketika suatu hari Jumaria memintanya datang ke rumah untuk menggelar manasik mandiri.
“Kemudian pada satu, ketika dia mau berangkat, satu hari itu, dia panggil saya bawakan manasik di rumahnya. Tapi saya lebih kagumnya lagi, pada saat dia memanasik mandiri dan dia memanggil katering ukhuwah (jasa katering) hebat juga ini,” bebernya.
Dalam proses seleksi ikon global haji 2026, Jumaria bukan satu-satunya kandidat.
Namun, kisah hidupnya yang penuh perjuangan membuatnya terpilih.
Ahmad mengatakan, seluruh biaya manasik hingga pelunasan haji ditanggung Jumaria dari hasil tabungannya sendiri.
Di mata Ahmad, Jumaria adalah sosok yang sabar dan ikhlas menjalani hidup.(kom)





