Ekonomi Inspirasi

MUSIM RAMBUTAN “JANGANLAH CEPAT BERLALU”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi

Secara bercanda ada yang bertanya, di Kalimantan Selatan itu ada berapa musim ? jawabnya “KALIMANTAN SELATAN ITU BANYAK SEKALI MUSIM” loh kok bisa, daerah tropis kan hanya mengenal dua musim, yaitu musim panas dan musim hujan, dan lagian paling banyak musim itu hanya ada empat, seperti di negara-negara lain yang mengenal empat musim, Summer (panas), Gugur (Fall/Autumn), Winter (dingin) dan Spring (musim semi). Lantas mengapa di Kalimantan Selatan musimnya bisa banyak sekali ? kan ada musim durian, musim rambutan, musim cempedak (tiwadak), musim nenas dan seterusnya … ha ha ha….

Sahabat ! candaan itu sekilas tidak menarik untuk kita bahas, tapi saya menerima kiriman gambar dari salah seorang sahabat yang menjadi gambar utama di atas di atas, dengan nada keprihatinan tentang harganya yang relatif sangat murah saat musim rambutan itu mencapai puncaknya, dari 6 ikat seharga Rp 10.000,- kemudian muncul lagi harga 7 ikat dengan harga Rp 10.000,- dan bahkan ada yang hanya berharga Rp 1000,0 per ikatnya. Melimpahnya buah rambutan dan harga yang murah inilah menginspirasi saya untuk menulis “MUSIM RAMBUTAN JANGANLAH CEPAT BERLALU”.

Sahabat ! Perasaan saya bercampur antara kegembiraan bisa memakan buah rambutan dengan harga yang murah, tapi juga merasa kasihan dengan petani kita yang menanam rambutan tersebut, dalam hati saya kalau di pasaran harganya hanya ribuan rupiah, lantas bagaimana harganya ditingkat petani kita ? silahkan anda bayangkan sendiri. Dari sini saya sesungguhnya saya sangat prihatin, kenapa disaat musim rambutan ini melimpah, tidak ada institusi yang tergerak untuk membelinya dengan harga yang “wajar” dan lantas meningkatkan nilai ekonomis buah rambutan itu, seperti melakukan pengalengan, dengan membuat industri pengalengannya di Banua kita ini, atau ada lembaga pendidikan di banua kita yang bisa meneliti cara pengawetan buah rambutan ini.

Sahabat ! Sesungguhnya saat musim buah rambutan atau buah apapun yang banyak melimpah di Banua kita ini, mestinya menjadi peluang bisnis bagi para pebisnis, namun tentunya mereka berhitung secara ekonomis atas bisnis yang akan dilakukannya itu.  Namun dari sisi keprihatinan saya tersebut, mesti ada terpanggil institusi bisnis baik itu swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara)  atau BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) menjadi pelopor yang tidak hanya berfikir murni bisnis, melainkan juga berfikir membantu para petani kita. Begitu juga kepada Pihak Pemerintah Daerah, agar memikirkan suatu program yang tidak hanya membina aspek hulu dengan peningkatan jumlah tanaman, akan tetapi juga mengantisipasi aspek hilirnya, yaitu bagaimana nanti saat panen melimpah, agar petani kita tidak terjebak dalam situasi yang dirugikan.

Sahabat ! Saatnya difikirkan dan dibuat industri pengalengan rambutan, atau juga lahirnya teknologi pengawetan di Banua kita ini, sehingga MUSIM RAMBUTAN TIDAK CEPAT BERLALU. Dan semoga  ada pihak-pihak yang tergetar hatinya saat makan rambutan di musim rambutan tahun ini.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi



Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *