Kontrol Nafsu Jahat Politik di Bulan Puasa

DUTA TV BANJARMASIN – Dalam suatu hikayat, pada suatu malam ada seorang lelaki tua dari Suku Indian Cherokee bercerita kepada cucunya tentang pertarungan hebat yang berlangsung di dalam dirinya. Kakek itu berkata, pertarungan itu terjadi antara dua serigala. Serigala hitam adalah yang jahat, penuh amarah/kebencian, serakah, sombong, egois, serta penuh kebohongan dan kepalsuan. Serigala putih yakni yang baik, penuh kebahagiaan, kebenaran, cinta dan kasih sayang, kemurahan hati dan kepercayaan. Sang Kakek mengatakan bahwa pertarungan serigala itu juga ada pada diri cucunya, dan bahkan terjadi pada setiap orang. Sang cucu berfikir sejenak lalu kemudian bertanya, serigala mana yang akan menang? Sambil tersenyum kakek itu menjawab: “Serigala yang kamu beri makan”.

Di balik kesederhanaan cerita di atas, pertarungan dua serigala itu sebenarnya memiliki makna mendalam untuk kita refleksikan dalam kehidupan nyata. Tak terasa, penghujung bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Lebaran Idul Fitri akan segera tiba. Hari-hari yang telah kita lalui di bulan puasa ini akan menjadi kenangan. Tak mungkin lagi bagi kita kembali ke masa itu dan merubah apapun yang telah terjadi. Namun kita tentu dapat merenungkannya, Serigala mana yang telah kita beri makan selama bulan puasa ini, apakah serigala hitam ataukah serigala putih?

Dalam pandangan filsafat, kejahatan itu sendiri menggambarkan kesempurnaan kehidupan, karena secara holistik ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam diri kita. Gen jahat itu dititahkan oleh setan sebagaimana dialognya dengan nabi Adam, telah berwujud pada nafsu jahat dalam diri kita. Begitu sebaliknya, gen ilahi ada pada hati nurani kita yang tidak bisa digoda setan. Inilah yang disebut sebagai Nafsu Muthmainah. Oleh karena itu di bulan puasa, nafsu jahat politik itu mesti dikendalikan agar kita bisa meraih kemenangan di hari nan fitri.

Namun, saya masih menyimpan pertanyaan yang mengganjal akan hal ini. Benarkah perkara menahan diri untuk tidak memberi makan “Serigala Hitam” itu adalah urusan yang mudah sekalipun kita tengah berada di bulan puasa? Tentu jawabannya relatif. Saya meyakini, tidak semua orang mampu dengan mudah bertahan dari dorongan nafsu angkara. Apalagi setiap orang memiliki peran yang berbeda di muka bumi ini. Seorang alim ulama bisa jadi godaanya lebih berat daripada orang awam. Seorang elit politik boleh jadi godaannya lebih kompleks dari rakyat kebanyakan. Bahkan tidak hanya itu, dorongan nafsu jahat ini akan terus menggoda para politisi, kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Kelindan antara nafsu jahat dan dunia politik memanglah sulit untuk dihindarkan. Pakar ilmu politik dan hukum internasional, Hans J. Morgenthau dalam salah satu karya klasiknya yang berjudul “ The Evil of Politics and The Ethics of Evil” menjelaskan bahwa politik dan evil (nafsu/perihal yang jahat) memiliki hubungan kuat dan tidak terpisahkan manakala unsur moral dicerabut dari ranah politik. Nafsu Jahat ini akan menjadi eksis dalam politik manakala manusia sudah mulai meninggalkan/memisahkan urusan moral dengan urusan politik. Karena moral selalu dianggap sebagai penghambat laju gerak para politisi yang menginginkan kebebasan dalam menuruti hawa nafsunya dengan memainkan berbagai strategi, kebijakan dan keputusan politiknya. Terlebih lagi, jauh-jauh hari sebelum Hans Morgenthau menulis perihal setan politik, pada abad XV Niccolo Machiavelli dalam karyanya “The Prince” seolah telah menjustifkasi sekaligus memberikan rambu bahwa untuk menjadi penguasa yang sukses, para politikus harus piawai memainkan tipu muslihat, kelicikan, kebohongan dan bahkan juga kekejaman bila diperlukan. Ajaran-ajaran politik Machiavelli ini sama sekali dicap amoral, walaupun ternyata banyak para pemimpin dunia juga baik secara diam-diam maupun terang-terangan turut mempraktikkannya. Apa yang telah disinyalkan oleh Machiavelli dan Morgenthau tentang kecenderungan permainan politik-imoral dalam arena kekuasaan semakin membuka pandangan kita tentang realitas politik yang sebenarnya masih terjadi hingga hari ini. Kondisi ini kemudian membawa konsekuensi logis akan kehadiran “serigala hitam” (nafsu jahat politik) yang siap memangsa individu-individu yang tidak menempatkan moralitas sebagai kompas langkah politiknya.

Bila kita kuak lebih dalam ragam nafsu jahat politik ini dapat diidentifikasi ke dalam berbagai wujud. Pertama, Nafsu Kuasa. Nafsu ini suka membisiki politikus untuk terus berpikir mencari kursi kekuasaan. Nafsu ini membuat para politisi selalu dahaga dan hasratnya tidak pernah terpuaskan walaupun telah banyak kekuasaan yang telah direngkuhnya. Pikirannya disesaki ambisi bagaimana caranya merebut kekuasaan dari tangan orang lain. Hidupnya tidak akan tenang sebelum berada di puncak kekuasaan. Nafsu kuasa ini akan terus menjadi teman setia setiap politisi yang gila kuasa, bahkan menjadi pembisik utama yang mendorong manusia rela mempertaruhkan segalanya serta melakukan tindakan tidak terpuji demi nafsu politiknya. Kekuasaan memanglah candu. Daya pikatnya membuat orang bisa mabuk-kepayang, Mungkin pada akhirnya dia akan mendapatkan kuasanya, namun bisa jadi dengan kedudukannya itulah yang membuatnya semakin tersesat hingga tidak pantas lagi disebut sebagai manusia. Orang-orang yang tergoda setan kuasa ini menganggap merekalah sang pemilik kekuasaan, padahal justru sebenarnya mereka tidak lebih dari sekadar budak kekuasaan belaka.

Mungkin kita masih ingat bagaimana kisah Ken Arok yang memulai ambisinya dari seorang berandalan hingga mampu menjadi Raja Tumapel. Namun karena ambisi Ken Arok pulalah, akhirnya banyak raja-raja Jawa dari keturunannya yang harus terlibat pertikaian berdarah memperebutkan tahta kerajaan. Contoh lainnya bisa kita hikmah bagaimana Panembahan Senopati, Raja Mataram pada akhirnya sampai hati mengorbankan putrinya sendiri sebagai intel raja, hingga kemudian membunuh Ki Ageng Mangir yang merupakan menantunya sendiri demi tetap berada di pucuk tahta singgasana. Namun atas perbuatannya ini akhirnya Panembahan Senopati justru kehilangan menantu, putri dan cucunya untuk selama-lamanya.

Kedua, Nafsu Koruptor. Seperti namanya, nafsu ini mendorong pejabat negara dan politisi untuk terus melakukan upaya-upaya koruptif. Nafsu ini berupaya membimbing manusia untuk selalu bersifat tamak, sehingga selalu merasa kurang atas apa yang telah dimilikinya. Di tengah situasi pandemi Corona seperti sekarang ini, potensi penyalahgunaan kewenangan untuk melakukan korupsi semakin terbuka karena banyak celah-celah yang bisa dimanfaatkan. Pejabat negara dan politisi ini tentu telah mengetahui bahwa tindakan korupsi itu melawan hukum dan dilarang dalam ajaran agama. Namun nafsu Koruptor ini sepertinya terlalu lihai dalam memperdaya manusia. Karenanya beberapa tahun belakangan ini kita banyak mendengar kepala daerah, anggota DPR/MPR hingga menteri negara yang terjaring operasi tangkap tangan KPK. Dalam satu kesempatan saat menghadiri acara peringatan Hari Anti Korupsi di Gedung KPK, Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahkan menyebut godaan melakukan korupsi di kementeriannya bahkan bisa hadir setiap detik.

Ketiga, Nafsu Sengkuni. Nafsu jenis ini bekerja mengipas-ngipasi antara kubu-kubu politik yang bersaing agar hubungan mereka semakin memanas guna memicu perseteruan. Seperti namanya, setan jenis ini selalu dianggap sutradara permusuhan layaknya peperangan epik antara keluarga Pandawa dan Kurawa dalam pewayangan. Peralatan Nafsu Sengkuni terbilang cukup lengkap, mulai dari hoax/berita palsu, kampanye hitam sampai hingga fitnah. Tidak berhenti sampai di situ saja, domain permainan Nafsu Sengkuni ini juga sangat luas dalam menjadikan manusia sebagai alatnya. Mulai dari menebar bibit konflik, ujaran kebencian hingga menimbulkan fragmentasi di masyarakat. Nafsu Sengkuni tidak hanya menggebu menjelang pemilu saja. Walaupun pemilu sudah berlalu, nafsu ini tetap saja terus menggoda manusia untuk mengobarkan perselisihan. Coba saja kita amati di media sosial, saat ini masih saja ada kelompok netizen yang masih belum bisa move on, mengungkit-ungkit perbedaan pilihan politik pada pilpres lalu. Bencana apapun yang terjadi di Indonesia, baik itu yang bersifat alamiah selalu dikait-kaitkan dengan presiden saat ini. Seolah-olah itu adalah tanggung-jawab mereka karena salah dalam memilih pemimpin. Kita tentu masih ingat bagaimana saat gempa bumi dan tsunami Aceh pada 2004 silam, masih ada pihak yang menganggap bahwa terjadi bencana alam tersebut karena terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI. Begitu juga dengan saat ini ketika negara kita terpapar pandemi Corona, ada saja oknum-oknum yang mengalamatkan bencana ini sebagai akibat terpilihnya kembali Jokowi sebagai presiden. Padahal bencana virus ini telah menginfeksi seluruh dunia tanpa memandang siapapun presidennya.

Keempat, Nafsu Hedon. Setan ini hadir dengan tujuan membujuk para pemimpin untuk mengejar kesenangan dan gemerlap duniawi secara berlebihan. Nafsu Hedon akan berupaya membentuk mentalitas politisi kita dari yang awalnya mulia dan penuh idealisme dalam berpolitik, berbelok menjadi mencari dan menumpuk uang sebanyak-banyaknya. Nafsu ini akan membuai politisi seolah-olah terus-terusan ingin diperlakukan layaknya raja. Apapun yang dingginkannya harus terpenuhi. Keinginannya adalah titah, dan tutur-katanya adalah aturan yang tidak boleh dilanggar. Nafsu ini juga membuat para pemimpin politik menjadi hobi disanjung-sanjung, tetapi kupingnya menjadi tipis bila mendengar kritik. Jika sudah terpengaruh tipu dayanya, maka para wakil rakyat kita akan menjadi lupa terhadap konstituennya yang seharusnya wajib mereka perjuangkan aspirasinya. Nafsu jenis ini juga bertanggung-jawab dalam menyesatkan para pejabat publik dalam menyusun formulasi kebijakan. Alih-alih memikirkan penderitaan rakyat dan mencari solusi melalui kebijakan yang akan dijalankan, para pemimpin kita justru akan dibutakan mata hatinya guna mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya. Sehingga kebijakan-kebijakan negara dan daerah terkadang tidak mencerminkan keberpihakan, namun malah semakin menyengsarakan rakyat.

Kelima, Nafsu Rente. Nafsu ini lebih banyak menghinggapi oknum-oknum masyarakat kita yang haus akan materi dari para politisi. Nafsu inilah yang bertanggung-jawab dalam menggoda pemilih agar rela menukar suaranya dengan uang. Menjelang pemilu, Nafsu Rente akan mendorong para pemilih untuk mencari-cari politisi yang mau memberikan mereka uang, barang maupun bentuk bantuan lainnya. Oknum-oknum masyarakat ini akan berupaya menggalang dukungan rakyat kemudian melakukan transaksi jual-beli suara dengan para kandidat. Semakin banyak suara rakyat yang oknum ini janjikan, maka harga yang dimintanya pun semakin besar kepada para kandidat.
Di suci Ramadhan ini, kita tentu berharap dan turut mendoakan agar para politisi dan pemimpin kita benar-benar mendekatkan diri dengan Allah SWT. Semoga mereka mampu menahan diri dari pengaruh nafsu-nafsu jahat politik yang terus menggoda untuk menyesatkan pemimpin-pemimpin kita. Jangan sampai justru “Serigala Hitam”-lah yang dipilih para politisi kita untuk diberi makan. Kita selaku rakyat pada prinsipnya wajib mendoakan para pemimpin kita untuk selalu menjalankan amanahnya sebagai Ulil Amri dengan baik. Sebab, doa dari rakyat terhadap pemimpinnya merupakan selemah-lemahnya iman dalam demokrasi.

Penulis: Pathurrahman Kurnain
(Dosen FISIP ULM & Direktur GLORY Institute)

#UPDATE CORONA KALSEL


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *