Dapoer Kak Rozz & Imaji Rousseau Hingga Hobbes

Tidak terasa genap sudah satu dekade kiprah Duta TV mengisi ruang siar masyarakat banua. Pada hari ini, Senin 11 November 2019 Duta TV mengadakan kenduri peringatan hari ulang tahunnya yang kesepuluh. Saya merasa beruntung sekaligus berbahagia karena turut diundang dalam acara tersebut. Sebagai lembaga penyiaran yang progresif, sudah tentu banyak kaum elit yang berhadir, sebut saja bupati dan walikota, pemuka agama & tokoh masyarakat, pengusaha, pimpinan BUMN/BUMD, kalangan jurnalis, politisi hingga akademisi dan pejabat publik lainnya.

Namun yang mendistraksi perhatian saya kali ini bukan para tamu undangan yang datang silih berganti, tetapi jamuan kulinernya! Hidangan yang disajikan sangat beragam dengan berbagai tema. Western food, Japanese Food, Chinese Food dan tentu tidak ketinggalan resep klasik kuliner khas nusantara. Memang pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada selera lokal yang memiliki daya magnet kuat, apalagi kalau bukan nasi liwet tumis petai dan semur jengkol, cukup dua hal itu saja telah membuat makan siang saya menjadi istimewa. Bagi kalangan milenial seperti saya, selera itu mungkin terlihat ‘old school’. Namun ternyata banyak tamu-tamu yang juga enggan melewatkan menu favorit persembahan Dapoer Kak Rozz ini. Sepertinya tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui sajian mana yang lebih menggugah selera makan siang para tamu tersebut.

Sambil menikmati sensasi cita rasa petai dan jengkol yang lembut, saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang-orang senang dan banyak memburu masakan tradisional tersebut? Asumsi saya karena bagi warga perkotaan, masakan tradisional semakin sulit dicari ditengah kepungan masakan modern, fast food dan menu luar negeri lainnya. Satu hal yang pasti, masakan tradisional kaya akan cita rasa karena menggunakan banyak rempah dan bahan-bahannya pun alami atau langsung diambil dari alam. Kecintaan orang-orang akan masakan tradisional membuat mereka seperti telah kembali ke alam (back to nature). Pikiran saya terus menerawang jauh hingga teringat apa yang pernah digaungkan oleh Jean Jackues Rousseau tentang urgensi “Back to Nature” dalam karya fenomenalnya “Discourse on the Arts and Sciences”.

Di tahun 1749, Akademi Dijon di Perancis mengadakan sayembara penulisan esai dengan tema “Apakah kemajuan seni dan ilmu pengetahuan berkontribusi dalam memperbaiki moralitas manusia atau merusaknya?” Setelah mengetahui informasi tersebut melalui surat kabar yang dibacanya, Rosseau mengirimkan tulisan dengan judul “Discourse on the Arts and Sciences”. Hasrat yang ingin dimunculkan Rousseau dalam esai tersebut yakni Back to Nature. Dimana tesis utamanya adalah kemajuan seni dan ilmu pengetahuan yang menandai perkembangan kebudayaan Perancis justru menjerumuskan manusia pada kehancuran moral.

Berbeda dengan opini umum yang dibentuk dari pemikiran kaum intelektual Perancis lainnya saat itu, Rousseau tidak menganggap bahwa kemajuan peradaban melalui seni dan ilmu pengetahuan adalah sebuah pencapaian, namun justru mengasingkan manusia sendiri melalui topeng-topeng atas nama modernitas. Seni dan ilmu pengetahuan bersifat fana dan artifisal, sehingga menjauhkan manusia dari kodratnya itu sendiri. Bagi Roussesau, segala yang baik itu berasal dari Tuhan, namun menjadi buruk ketika ia sampai pada tangan manusia.

Manusia tidak lagi menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia yang asli, akan tetapi menjadi manusia hipkokrit dan penuh kebusukan. Rousseau menekankan bahwa moralitas manusia yang orisinil justru ditemukan dalam manusia yang masih alamiah, dimana bersemayam keluguan, kejujuran, kelurusan hati dan sebagainya. Bagi Rousseau seni dan ilmu pengetahuan justru lahir dari kejahatan-kejahatan manusia, dijadikan alat penindasan kelompol elit terhadap kelas bawah. Astronomi lahir dari takhyul, geometri dari ketamakan, ekonomi dari kerakusan, fisika dari kemalasan, seni debat dari ambisi dan etika dari kesombongan. Kekuatan daya penjungkir-balikkan atas keyakinan idelogi pencerahan masyarakat Perancis saat itulah yang membuat tulisan Rousseau akhirnya memenangkan sayembara dan melambungkan namanya seantero Perancis.

Sebenarnya saya berbeda pendapat dengan apa yang dipikirkan Roussesau, karena telah mempertentangkan antara seni dan ilmu pengetahuan dengan moralitas. Jika seni dan ilmu pengetahuan maju, maka moral akan kalah dan begitu pula sebaliknya. Bagi saya, hubungan antara seni dan ilmu pengetahuan dengan moral tidak harus berkonfrontasi, karena kedua aspek ini berjalan di atas jalurnya masing-masing. Seni dan ilmu pengetahuan bersifat netral, tanpa adanya tendensi untuk menjadi baik ataupun menjadi buruk. Namun, seni dan ilmu pengetahuan mampu memuluskan jalan bagi siapa saja yang dapat memanfaatkannya dengan baik. Faktor penyebab moral manusia itu merosot bukanlah seni dan ilmu pengetahuan, melainkan hawa nafsu/hasrat manusia itu yang tidak terkendali. Hasrat inipun bermacam-macam bentuknya, ada hasrat untuk berkuasa, menimbun kekayaan, meraih kehormatan dan lain sebagainya. Oleh hasrat, seni dan ilmu pengetahuan tadi dapat didayagunakan untuk mencapai apa yang diinginkan oleh manusia. Singkatnya, seni dan ilmu pengetahuan merupakan alat potensial bagi manusia untuk mencapai hasrat-hasratnya tersebut.

Manusia adalah makhluk yang sangat unik, sekaligus sempurna yang diciptakan oleh Tuhan YME. Dalam diri manusia, tidak hanya diletakkan berbagai sifat kebaikan, namun juga terdapat potensi karakter keburukan yang menyertainya. Cukup beralasan kiranya jika Thomas Hobbes menuding manusia itu sebagai serigala, yang siap memangsa sesamanya (Homo Homini Lupus) hingga mendorong terjadinya “perang semua melawan semua” (bellum omnium contra omnes). Oleh sebab itu, Hobbes menyadari bahwa manusia perlu ditekan insting dan hasrat destruktifnya melalui mekanisme kontrol akan ketakutan. Ketakutan yang paling efektif dalam menertibkan hasrat keburukan manusia adalah ketakutan akan kematian. Sehingga hanya negara yang mampu menciptakan ketakutan sesungguhnya bagi manusia-manusia itu melalui “Monster Leviathan”.

Seketika lamunan saya buyar, manakala seorang kru Duta TV menyapa dan menawarkan saya minuman dingin. Sembari meneguk minuman tersebut saya meyakinkan diri, masih banyak manusia yang hatinya bersih dan tulus berbuat baik kepada sesama. Apa yang dipikirkan oleh Rousseau dan Hobbes tadi, memang tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial-politik yang melatarinya. Satu hal yang jelas, apa yang saya temukan pada syukuran Duta TV di sini merupakan buah kebaikan yang mewujud simpul erat dalam rajutan bening jiwa. Inilah yang saya rasakan melalui nasi liwet petai dan semur jengkol Dapoer Kak Rozz. Bon Appetit!

 

 

By Pathurrahman Kurnain


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *