Arakan Ogoh-Ogoh Ramaikan Perayaan Nyepi di Banjarmasin

Banjarmasin, Duta TV — Bertempat di Pura Agung Jagatnatha, Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, umat Hindu setempat melaksanakan rangkaian kegiatan menjelang Hari Raya Nyepi.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembuatan ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan sifat-sifat buruk manusia.

Proses pembuatan ogoh-ogoh ini memakan waktu sekitar satu bulan. Setelah selesai, ogoh-ogoh kemudian diarak mengelilingi kawasan pura sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif.

“Kenapa gerakannya itu ibarat angin yang mengguncang kehidupan kita, gerakannya naik turun seperti itu juga kehidupan. Melalui ogoh-ogoh ini kami menerapkan bahwa keburukan janganlah ada dalam diri. Pembuatan ogoh-ogoh ini satu bulanan, dan diarak berkeliling di sekitar pura,” ucap Gede Sudiasa, Pengurus Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin.

Rangkaian Nyepi, dari Melasti hingga Catur Brata
Perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema “Dunia Ini Satu Keluarga” yang mengandung makna persaudaraan dan keharmonisan antar sesama manusia. Rangkaian perayaan Nyepi telah dimulai sejak 1 Maret lalu, diawali dengan kegiatan Saka Boga Sevanam, yakni berbagi makanan kepada masyarakat yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, pada 16 Maret digelar ritual Melasti di Pantai Madani, Kabupaten Tanah Bumbu, sebagai upaya penyucian diri dan alam semesta. Pada 18 Maret, umat Hindu melaksanakan Tawur Kesanga yang ditandai dengan upacara Macaru, yakni persembahan kepada unsur-unsur negatif agar kembali ke asalnya dan tidak mengganggu kehidupan manusia.

“Nyepi tahun Saka 1948 mengambil tema Dunia Ini Satu Keluarga, kita ini bersaudara. Rangkaian sudah berlangsung satu bulan. Puncaknya nanti kami melaksanakan Catur Brata Penyepian, dengan puasa selama 24 jam, mulai pukul 6 pagi hingga 6 pagi keesokan harinya,” ungkap Made Supana, Wakil Ketua I Pura Jagatnatha.

Pada puncak Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi Amati Geni atau tidak menyalakan api, Amati Karya atau tidak bekerja, Amati Lelungan atau tidak bepergian, serta Amati Lelanguan atau tidak menikmati hiburan.

Momentum ini diharapkan menjadi sarana refleksi diri untuk mencapai ketenangan, kedamaian, serta keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan toleransi, perayaan Nyepi di Banjarmasin diharapkan dapat mempererat persaudaraan lintas umat beragama.

Reporter: Nina Megasari, Ade Saputra

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *