Polemik 12 Siswa KKO Tak Naik Kelas, Dispora Soroti Mental Atlet Binaan

Banjarmasin, Duta TV — Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kalimantan Selatan menyatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi untuk mencari solusi atas polemik yang menimpa 12 siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) di SMA Negeri 2 Banjarmasin yang dinyatakan tidak naik kelas.

Saat ini, Dispora mengaku lebih memfokuskan upaya menjaga kondisi mental dan psikologis para atlet agar tetap siap menghadapi berbagai kejuaraan.

Pasalnya, dari 12 siswa tersebut, lima di antaranya merupakan atlet binaan Dispora Kalimantan Selatan yang telah mengukir prestasi di tingkat nasional.

Mereka di antaranya atlet angkat besi peraih medali perunggu Popnas, atlet dayung peraih medali perak PON, serta atlet sambo yang juga pernah meraih medali pada kejuaraan nasional.

Bahkan dalam pekan ini, dua di antara mereka dijadwalkan tampil pada Kejuaraan Nasional. Karena itu, Dispora berharap permasalahan ini tidak mengganggu konsentrasi dan persiapan mereka bertanding.

“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Saat ini fokus kami menjaga mentalitas atlet karena mereka sudah bertanding di level nasional. Minggu ini ada dua atlet yang akan mengikuti Kejurnas, mudah-mudahan persoalan ini tidak mengganggu fokus mereka. Dari 12 siswa yang tidak naik kelas, lima merupakan atlet binaan Dispora. Kami berharap atlet tetap bisa berlatih dengan baik dan pendidikan akademiknya juga tetap berjalan. Mudah-mudahan ada solusi,” ujar Asfia Urrahman, Kasi Pengelolaan Olahraga Pendidikan dan Sentra Olahraga Dispora Kalsel.

Sementara itu, hal ini juga mendapat perhatian Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kalimantan Selatan, Donny Achdiat. Ia menilai polemik ini semestinya dapat dihindari apabila terjalin komunikasi yang baik antara pihak sekolah, orang tua, pelatih, dan pengurus cabang olahraga.

Menurutnya, pembentukan Kelas Khusus Olahraga bertujuan memberikan kesempatan bagi atlet pelajar agar tetap dapat mengembangkan prestasi tanpa mengabaikan pendidikan. Karena itu, dibutuhkan fleksibilitas dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama bagi siswa yang sering menjalani pemusatan latihan dan mengikuti kejuaraan. Ia mengaku bahkan telah berkomunikasi dengan pihak sekolah pada April lalu terkait sejumlah atlet dayung yang belum menyelesaikan tugas akademik.

“Semuanya kalau dikomunikasikan tidak akan terjadi miskomunikasi. Dibentuknya Kelas Khusus Olahraga itu agar atlet pelajar memperoleh inklusivitas dan fleksibilitas dalam kurikulum maupun pembelajaran. Kebetulan saya juga sempat berkomunikasi dengan pihak sekolah pada bulan April terkait atlet dayung yang belum mengerjakan tugas,” ucap Donny.

Hingga kini, polemik 12 siswa Kelas Khusus Olahraga yang tidak naik kelas masih menjadi perhatian berbagai pihak. Dispora maupun pengurus cabang olahraga berharap terdapat solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan hak siswa untuk memperoleh pendidikan secara optimal.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *