Pemerintah Tekan Impor Pangan Melalui Produksi Dalam Negeri

Jakarta, DUTA TV – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan pemerintah terus menekan ketergantungan impor pangan melalui peningkatan produksi dalam negeri, penguatan produktivitas pertanian, serta optimalisasi lahan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak,” kata Sudaryono dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Dia menekankan itu dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor yang digelar di Balai Kartini, Jakarta.
Indonesia sebelumnya masih mengandalkan impor pangan, terutama beras, yang mencapai sekitar 3 juta ton pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 4 juta ton pada 2024.
Namun, seiring meningkatnya produksi dalam negeri, pemerintah memutuskan menutup rapat keran impor beras sepanjang 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional.
Kementerian Pertanian mencatat saat ini stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,3 juta ton hingga pekan ketiga Mei 2026. Stok tersebut dinilai tertinggi sepanjang sejarah.
Sektor pertanian kini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah seiring keberhasilan pemerintah meningkatkan produksi pangan nasional dan menekan impor berbagai komoditas strategis.
Kebijakan peningkatan produksi pangan dan pengurangan impor memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat desa.
Sektor pertanian memiliki efek ekonomi yang sangat luas karena langsung menyerap tenaga kerja, membuka peluang usaha baru, hingga meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di desa.





