Kebutuhan Naik Jelang Lebaran, Warga Diminta Tak Mudah Tergiur Pinjol

Banjarmasin, Duta TV — Menjelang momen Lebaran, kebutuhan masyarakat biasanya meningkat, mulai dari belanja kebutuhan rumah tangga, pakaian baru, hingga biaya mudik. Situasi ini kerap dimanfaatkan sebagian masyarakat dengan mengambil pinjaman online (pinjol) agar kebutuhan cepat terpenuhi.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Selatan mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dan bijak sebelum memutuskan berhutang. Kepala OJK Kalsel, Agus Maiyo, mengatakan masyarakat agar hanya meminjam sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Dalam teori keuangan, cicilan idealnya tidak melebihi 30 persen dari total penghasilan agar tidak membebani kondisi keuangan dalam jangka panjang. OJK juga menyoroti kemudahan layanan teknologi finansial yang membuat sebagian masyarakat, khususnya anak muda, mudah menggunakan layanan paylater atau pinjaman digital untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, bahkan sekadar mengikuti tren atau fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

“Sama seperti himbauan untuk pinjaman, pertama bijaksana dalam meminjam dalam artian sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kemampuan. Kalau di teori keuangan kan jangan lebih dari 30 persen. Kalau sudah lebih dari 30 persen, kemampuan keuangan jangka panjang nanti akan semakin berat,” jelas Agus.

“Yang kedua sekarang dengan model fintech itu kan semua serba cepat dan mudah sehingga kalau kita tidak bijak terlalu mudah untuk orang-orang yang kebetulan lagi butuh untuk meminjam. Apalagi di kalangan anak muda itu kan paylater itu sekarang besar banget peningkatannya karena dengan KTP dan sebagainya akhirnya belakangan kadang-kadang barang yang dibeli bukan cuma yang memang benar-benar dibutuhkan tapi untuk FOMO dan sebagainya,” lanjutnya.

Sementara itu, kinerja sektor jasa keuangan di Kalimantan Selatan pada awal 2026 tercatat tetap stabil. OJK mencatat pembiayaan pinjaman daring mencapai lebih dari satu triliun rupiah atau tumbuh lebih dari 31 persen secara tahunan, dengan tingkat risiko kredit yang masih terjaga.

Meski menunjukkan pertumbuhan positif, OJK menegaskan edukasi keuangan kepada masyarakat terus diperkuat agar masyarakat tidak terjebak hutang, terutama menjelang momentum Lebaran yang identik dengan meningkatnya konsumsi. Melalui berbagai program literasi keuangan yang telah dilakukan, OJK berharap masyarakat semakin memahami cara mengelola keuangan secara sehat sehingga kebutuhan Lebaran tetap terpenuhi tanpa harus terjebak dalam pinjaman online yang berisiko.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *