Konflik Timur Tengah, Travel Umroh di Kalsel Terdampak

Banjarmasin, Duta TV — Dinamika geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang memicu aksi saling serang rudal hingga penyerangan pangkalan militer Amerika oleh Iran menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara.

Hal ini juga merambah layanan travel haji dan umrah di Kalimantan Selatan. Hanya saja, keberangkatan jemaah dari Banjarmasin sejauh ini tetap aman dan tidak terdampak langsung.

Ketua Persatuan Travel Haji dan Umrah Kalimantan Selatan, Saridi Salimin, menyebutkan bahwa dampak konflik saat ini lebih dirasakan oleh Uni Emirat Arab.

Sementara itu, jemaah asal Banjarmasin relatif jarang menggunakan maskapai dengan rute transit di wilayah tersebut.

Menurutnya, mayoritas penerbangan jemaah umrah dari Banjarmasin menggunakan penerbangan langsung Jeddah atau transit di Jakarta maupun Kuala Lumpur.

Selain itu, lokasi konflik juga berada jauh dari Jeddah, Arab Saudi, yang menjadi pintu masuk utama jemaah umrah dan haji.

Hingga kini, belum ada laporan penundaan penerbangan keberangkatan jemaah umrah dari Kalimantan Selatan.

Hal ini karena sebagian besar menggunakan maskapai nasional maupun penerbangan langsung menuju Jeddah yang tidak melintasi wilayah udara Uni Emirat Arab.

Saridi Salimi mengatakan, “Sejauh ini yang terdampak itu negara UEA. Kita di Banjarmasin sangat jarang menggunakan maskapai yang transit di UEA. Kebanyakan direct flight, atau transit di Jakarta dan Kuala Lumpur. Konflik juga jauh dari Jeddah, jadi teman-teman yang akan menjalankan umrah masih aman. Travel harus aktif mengabarkan kepada jemaah.”

Saridi menambahkan, untuk wilayah Indonesia bagian timur, maskapai yang umum digunakan antara lain Lion Air, Garuda Indonesia, Batik Air, AirAsia, dan Saudia Airlines.

Sementara untuk wilayah barat Indonesia, sejumlah jemaah menggunakan maskapai seperti Qatar Airways, Oman Air, Emirates, dan Etihad Airways.

Meski demikian, pihak travel diminta tetap proaktif memberikan informasi terbaru kepada para jemaah seiring dinamika situasi geopolitik internasional yang masih berkembang.

Reporter: Nina Megasari

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *