Wali Jemput Santri dari Ponpes Lombok Tengah Buntut Dugaan Pelecehan Seksual

Lombok Tengah, DUTA TV – Sejumlah orangtua atau wali santri mengaku akan memindahkan anaknya dari Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rencana tersebut diambil setelah mencuat informasi mengenai dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati yang diduga dilakukan pimpinan ponpes, Tuan Guru Haji (TGH) Ahmad Imanuddin Sumar (AIS)

Diketahui pada Selasa (22/9/2026), para wali santri terlihat datang ke ponpes untuk menjemput anak mereka. Sebagian membawa pulang seluruh barang milik anak, mulai dari pakaian, buku pelajaran hingga Al Quran.

Sejumlah orangtua bahkan membawa tas berukuran besar. Ada pula yang hanya menggunakan tas kresek karena tidak menyangka harus membawa seluruh perlengkapan anak mereka.

Untuk mengangkut anak dan barang-barang mereka, wali santri menggunakan berbagai kendaraan, termasuk pikap dan sepeda motor.

Salah satu wali santri, Hirmawati, mengaku datang dari Jerowaru, Lombok Timur, untuk menjemput putrinya yang duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawiyah.

Ia mengaku khawatir setelah mengetahui informasi mengenai dugaan tindakan asusila yang dikaitkan dengan pimpinan ponpes. Hirmawati mengatakan, putrinya akan dipindahkan ke sekolah lain.

“Saya jemput anak saya dari Jerowaru, Lombok Timur, saya khawatir, takut saya, dia akan saya bawa pulang dan pindah sekolah. Apalagi anak saya perempuan. Sekarang kelas 2 Madrasah Tsanawiyah, dia baru belajar menghafal Al Quran,” kata Hirmawati sambil mengangkat tas besar berisi pakaian dan buku anaknya.

Adanya informasi mengenai dugaan pelecehan tersebut membuat dirinya menangis dan merasa takut sesuatu terjadi kepada anaknya. Karena itu, ia memilih membawa putrinya pulang dari ponpes.

Padahal, Hirmawati mengaku telah membayar biaya ponpes untuk beberapa bulan ke depan, termasuk menyetorkan beras.

Setiap bulan, ia membayar sekitar Rp 600.000. Sejumlah orangtua santri lainnya juga memastikan anak mereka tidak lagi menuntut ilmu di ponpes tersebut.

Anggota Komite Sekolah, Sahfan, mengatakan keputusan itu diambil karena kondisi di lingkungan ponpes dinilai belum memungkinkan untuk menjalankan kegiatan belajar secara optimal.

“Dengan kondisi ini, gak mungkin terlaksana pembelajaran yang bagus, karena kondisi belum nyaman, jadi kita pulangkan sementara dulu,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).

Para santri di ponpes tersebut diketahui berasal dari berbagai daerah dengan jumlah diperkirakan mencapai sekitar 800 orang.(kom)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *