“TUNTUTLAH ILMU WALAU DI SHENZHEN”

(Catatan Perjalanan Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi : Tjipto Sumadi)

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi,

Saya sudah agak lupa, kapan persisnya saya menginjakkan kaki di Shenzhen. Bermula dari sebuah pertemuan internasional di Beograd Serbia, maka rapat memutuskan bahwa Univeriade berikutnya akan diselengarakan di Shenzhen. Kesepakatan inilah, yang membawa saya untuk kali pertama berkunjung ke Shenzhen, yang merupakan bagian dari Negeri Tirai Bambu.

Berita Lainnya

Bayangan tentang kisah-kisah miris yang terjadi di Negeri Tirai Bambu, sedikit “mengganggu” pikiran saya. Mengapa Universiade kali ini musti dilaksanakan di Shenzhen? Oh ya, Universiade adalah pertemuan atlet mahasiswa seluruh dunia di ajang olahraga. Untuk memahami lebih mudah tentang Universiade adalah dengan menganalogikannya dengan penyelenggaraan Olympiade. Begitulah…

Namun, setiba di Shenzhen melalui Hongkong, rupanya Shenzhen bukanlah seperti yang saya bayangkan. Negeri ini begitu tertib dan nyaman. Meskipun lalu-lintas sangat padat, tetapi tidak satu pun kendaraan yang melanggar garis kuning tak terputus di jalan utama. Lajur yang dibatasi dengan garis kuning di jalan raya itu, merupakan lajur kusus untuk Delegasi Universiade dari negara-negara peserta dari seluruh dunia. Hal yang sangat inspiratif buat saya adalah; tidak satupun kendaraan lokal yang melanggar garis kuning tersebut. Begitulah cara warga Shenzhen menghargai sebuah even internasional, dan kami para tamu sangat menikmati.

Pic : Sahabat Tjipto Sumadi saat jadi tamu DIA di dutatv dengan Diana Rosianti

Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi yang budiman

Sebetulnya main points saya bukan itu, tetapi informasi yang saya dengar dari LO saya. Ketika saya tanya, mengapa begitu banyak bangunan megah dan mewah di sepanjang tepi jalan raya? Apakah ketika pembangunannya itu dilakukan tidak ada protes dari warga? Lalu saya mencoba memberikan jawaban sendiri dengan dilandasi oleh berita miris yang sering saya dengar; pasti ini karena gaya pemerintahan yang top-down. Tetapi, jawaban dan penjelasan LO ini, sangat mengejutkan. Secara singkat dapat saya rangkum seperti ini; Warga di Shenzhen tidak merasa dirugikan dengan penggusuran yang dilakukan pemerintah. Mereka merasa beruntung karena digusur dan dipindah ke lahan pertanian yang baru. Saya semakin penasaran, mengapa bisa begitu? Karena, lahan yang digusur tidak hilang, tetapi menjadi bagian investasi dari bangunan bisnis yang akan dibangun di atas lahan tersebut. Jika kelak gedung tersebut beroperasi dan mendapatkan keuntungan, maka pemilik lahan yang sudah digusur, akan mendapatkan deviden (bagian keuntungan) dari pengoperasionalan gedung itu. Tersadarlah saya… mungkin inilah yang sesungguhnya, yang disebut Ganti Untung.

Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi yang budiman

Konsep Ganti Untung seperti itu, bukahlah kebijakan pertama yang saya temukan. Hal serupa pernah saya jumpai ketika saya bertugas ke Seoul Korea Selatan. Pemerintah kota Seoul juga melaksanakan model penggusuran Ganti Untung seperti itu.

Rasanya menikmati Shenzhen tidaklah cukup satu dua hari, WINDOW OF THE WORLD tengah menanti untuk dikunjungi. Semoga sepenggal kisah ini, dapat memberikan inspirasi buat kita, sehingga pembangunan dan pembaharuan kota di negeri kita lebih memiliki trickledown effect kepada rakyat, melalui kebijakan yang bijak.

Empat belas abad lalu kita diajarkan; tuntutlah ilmu walau di negeri China, kini; tuntulah ilmu walau di Shenzhen.

Sahabat yang budiman… Selamat menunaikan ibadah Ramadhan.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

Dr. Syaifudin

Dewan Redaksi Duta TV

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *