Puluhan Ton Ikan Nila di Riam Kanan Mati

DUTA TV MARTAPURA – 80{5b1a8e93fac51023fbcea5a31a1f1c34877e15d45a6e19a88118d1d7c5787696} Hingga 90{5b1a8e93fac51023fbcea5a31a1f1c34877e15d45a6e19a88118d1d7c5787696} ikan siap panen di jala apung milik petani di sepanjang sungai Riam Kanan, desa Awang Bangkal, desa Sungai Asam dan Sungai Alang mendadak mati, sejak dua hari terakhir.

Kematian ikan ini diduga kuat karena surutnya air di sungai Riam Kanan, yang biasanya memiliki kedalaman 3 hingga 4 meter namun saat ini hanya sekitar 1 meter.

Selain dangkal arus sungai lambat membuat ikan yang sudah mati dan dibuang ke sungai menjadi busuk, sehingga memperburuk kualitas air.

Lihat Juga :  2 Kecamatan HSU Memasok 5.000 Ton Ikan

Menurut salah satu petani ikan, dari 14 jala apung yang miliknya hampir seluruh ikan mati dan tidak bisa diselamatkan, sehingga mengalami kerugian materi cukup besar mencapai miliaran rupiah, karena kebanyakan ikan yang siap panen gagal dijual ke pasar.

“Hampir semua mati dan akan habis jika air tetap surut”, kata Imis salah seorang petani ikan.

“Kualitas air sangat buruk, hanya ada oksegen 1,4 mg perliter dari standar 4 mg perliter”, ungkap Reza Dauly kadis perikanan.

Sementara dari uji sampel air di 3 lokasi Dinas Perikanan kabupaten Banjar memastikan penyebab kematian ikan secara massal ini, karena jumlah kandungan oksigen didalam air jauh di bawah standar dan petani ikan selalu menabur bibit dalam jumlah banyak ketika kemarau melanda.

Lihat Juga :  2 Kecamatan HSU Memasok 5.000 Ton Ikan

Anak-Anak Berburu ‘Ikan Mabuk’

Sementara kejadian tersebut, sejumlah anak-anak dari desa sungai Asam kecamatan Karang Intan berburu menyusuri sungai riam kanan yang dalam keadaan surut, untuk menangkap ikan.

Anak-anak maupun warga setempat memanfaatkan fenomena yang terjadi di musim kemarau itu untuk menangkap ikan yang dalam keadaan mabuk, baik menggunakan tangan maupun alat sundak.

Lihat Juga :  2 Kecamatan HSU Memasok 5.000 Ton Ikan

Dari hasil berburu ikan ini warga bisa mendapatkan ikan minimal satu kilogram, yang bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual kembali.

“Lagi menangkap ikan di sungai, untuk di goreng dan dimakan,” ucap salah satu anak-anak, Aziz.

Kendati air sungai mulai beraroma busuk akibat banyaknya ikan yang mati, namun tidak membuat semangat anak-anak ini untuk mencari ikan, sambil bermain dan berenang di sungai.

 

Reporter : Tarida Sitompul

Redha Aulia R


Uploader.
Follow Me:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *