Pers Silih berganti Hingga Diperebutkan

DUTA TV BANJARMASIN – Asep Saeful Muhtadi dalam “Pengantar Ilmu Jurnalistik” menulis surat kabar terbit silih berganti pada abad ke-19 pada masa penjajahan Inggris dan Belanda.

Ketika Inggris menguasai wilayah Hindia Timur pada 1811, terbit surat kabar berbahasa Inggris “Java Government Gazzete” pada 1812. Ketika Belanda kembali menguasai kawasan tersebut, surat kabar berbahasa Inggris tersebut dihentikan dan terbit “Bataviasche Courant” yang memuat berita-berita harian dan artikel-artikel pengetahuan.

“Bataviasche Courant” kemudian diganti menjadi “Javasche Courant” yang terbit tiga kali seminggu pada 1829 yang memuat pengumuman-pengumuman resmi, peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. Tahun yang sama, terbit pula sejumlah surat kabar di berbagai kota di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Pada 1851, “De Locomotief” terbit di Semarang. Surat kabar ini memiliki semangat kritis terhadap pemerintahan kolonial dan pengaruh yang cukup besar.

Salah satu wartawannya adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, yang setelah kemerdekaan berganti nama menjadi Danudirja Setiabudhi.

Cucu keponakan dari penulis kritis Belanda Eduard Douwes Dekker atau Multatuli itu, bahkan ikut mendorong kebangkitan nasional karena kedekatannya dengan pemuda-pemuda yang kelak mendirikan Budi Utomo.

 

Foto:net

Perebutan Pers

Zikri Fachrul Nurhadi dalam “Teori Komunikasi Kontemporer” menulis salah satu hal yang diperebutkan beberapa saat setelah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia adalah pers. Yang direbut terutama adalah peralatan percetakan.

Perebutan itu terjadi di perusahaan surat kabar milik Jepang, seperti “Soeara Asia” (Surabaya), “Tjahaja” (Bandung) dan “Sinar Baroe” (Semarang). Hingga 19 Agustus 1945, 2605 surat kabar telah terbit dengan pemberitaan utama seputar proklamasi dan kemerdekaan Indonesia.

September hingga akhir 1945, pers nasional semakin kuat ditandai dengan penerbitan “Soeara Merdeka” di Bandung dan “Berita Indonesia” di Jakarta, serta beberapa surat kabar lain, seperti “Merdeka”, “Independent”, “Indonesian News Bulletin”, “Warta Indonesia”, dan “The Voice of Free Indonesia”.

“Di masa itulah koran dipakai alat untuk mempropagandakan kemerdekaan Indonesia. Meskipun masih mendapat ancaman dari tentara Jepang, namun dengan penuh keberanian mereka tetap menjalankan tugasnya,” tulis Zikri Fachrul Nurhadi dalam “Teori Komunikasi Kontemporer”. Demikian dilaporkan Kantor Berita Antara.

Perkembangan pers nasional yang semakin pesat setelah proklamasi membuat para wartawan semakin sibuk memburu berita. Untuk menertibkan dan mempersatukan mereka, para wartawan pun mengadakan kongres di Solo.

Pada 9 Februari 1946, disepakati pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan Mr Sumanang ditunjuk sebagai ketuanya.

 

Berbagai sumber


Find me on storial.co


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *